Negeri Ironi Penuh Pretensi

BUKAN hal baru jika irasionalitas, ironi dan diabolisme marak terjadi di negeri ini. Tayangan korupsi hingga hari ini bukan kian sepi, tapi malah justru menjadi-jadi.

Tidak berhenti di situ, ironi besar juga terus terjadi, pekan ini publik 'digempur' dengan berita bebasnya tahanan koruptor kasus BLBI serta kontroversi Miss World.

Nalar siapa pun, kecuali kaum diabolis, pasti menolak secara rasio apa yang terjadi di negeri ini. Tetapi bagi mereka yang punya pretensi dan bermental diabolisme, ironi bukanlah perkara asasi. Baginya, sejauh berbau materi, pasti akan dikejar dan dibela sampai mati.

Berbagai argumentasi pun dikemukakan agar publik setuju bahwa Miss World merupakan ajang penuh gensi dan bisa meningkatkan citra positif Indonesia di mata dunia.

Sementara itu, di sisi lain, negeri ini 'diobok-obok' sedemikian rupa agar publik mengakui bahwa korupsi adalah bagian dari tradisi bangsa sendiri. Jadi tidak perlu dibenci, dicaci, apalagi diadili. Diakui atau tidak, inilah wajah negeri kita hari ini.

Di sisi lain, ironi juga mendominasi. Lihat saja, negeri agraria ini harus impor berbagai macam bentuk produk pertanian.

Bahkan, ketika disebut negeri ini adalah negeri maritim, ternyata garam pun kita harus impor. Seolah tak punya lahan untuk rumput hijau, sapi pun kita harus impor.

Ironinya lagi, ketika harga kedelai membumbung tinggi, ternyata semua itu tidak memacu petani kedelai lebih giat bertani. Termasuk ketika harga daging sapi melambung tinggi, rasanya tidak ada peternak sapi yang diuntungkan dengan situasi ini.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini? Saya sederhana menyebutnya, inilah dia negeri penuh pretensi. Yakni negeri penuh kepura-puraan.

Pura-Pura?
Kalau merujuk pada apa yang diuraikan oleh Rhenald Kasali dalam sebuah kolomnya di harian ibu kota, dapat disimpulkan bahwa pemimpin negeri ini paling gemar berpura-pura. Aslinya, tidak ada keseriusan.

Rhenald menulis seperti ini, "Tengoklah bagaimana kita separuh hati memangkas subsidi untuk golongan menengah ke atas. Tengoklah pertengkaran antarkementerian yang tak pernah usai sekedar untuk menurunkan harga daging sapi. Tengok juga bagaimana mungkin harga bawang bisa lebih murah di Malaysia daripada di sini."

Masih menurut Rhenald, "Sebagai negeri kelautan kita tidak bisa berpikir bagaimana para pemimpin membiarkan industri garamnya hancur."

Di lain sisi, pemerintah berupaya membangun pendidikan karakter untuk putra-putri negeri. Tetapi di saat yang sama, untuk acara yang sangat potensial mengundang kemurkaan Tuhan semacam Miss World, panitia penyelenggara sudah mengantongi izin dari polisi.

Hal ini menunjukkan bahwa, sebenarnya -harap diakui secara jujur- pemangku kebijakan di negeri ini tidak begitu benar-benar serius membangun negeri ini. Indikasinya sederhana, kalau saja misalnya Miss World terselenggara nantinya, maka ini sudah bukti paling nyata bahwa pemerintah benar-benar ingkar janji dengan amanah konstitusi. Dan, ini mustahil dilakukan, kecuali oleh jiwa yang penuh pretensi.

Butuh Bukti
Jujur saja, rakyat negeri ini tidak butuh janji, apalagi sekedar penghibur hati. Semua sudah sangat lelah dan jengah dengan ulah sebagian pejabat yang mengedepankan pretensi daripada nurani.

Berbicara seolah ahli hikmah tapi ternyata tak ubahnya sosok penjarah. Bukan penjarah toko seperti umum dipahami orang, tetapi penjarah iman, rasio dan kebenaran.

Rasanya tidak perlu sekolah terlalu tinggi untuk menetapkan mana yang seharusnya diputuskan demi keselamatan moral dan kesehatan regenerasi negeri ini. Miss World segera saja, batalkan. Silakan selenggarakan di negeri lain, jangan di Indonesia, negeri yang dibangun atas dasar iman dan kebanggaan adat kesopanan.

Untuk kasus korupsi, negeri ini tidak perlu pakar hukum yang berderet gelar di depan atau di belakang namanya. Tetapi butuh hakim yang bernurani, karena hanya hakim seperti itulah yang tidak akan membuat ironi di negeri ini.

Bagi para pemangku kebijakan yang berhubungan dengan petani, jangan banyak janji apalagi teori, segera berikan bukti. Apa yang akan diberikan untuk petani agar mereka berdikari dan mampu berkontribusi.

Sungguh, kalau negeri ini benar-benar mengedepankan nurani, jangankan perut bumi, 'punggung' bumi pun sudah cukup untuk membuat seluruh negeri hidup dalam kesejahteraan.

Kalau ada bukti, tidak perlu perut bumi di Kalimantan Timur diledakkan dengan dinamit untuk dikeruk batu baranya. Tidak perlu ada lahan rusak dan muncul danau-danau yang tidak diinginkan. Semua itu tidak perlu terjadi. Tetapi karena memang pretensi yang menguasai hati, maka nurani sudah lama pergi.

Sinyal Kehancuran
Siapa pun boleh tidak peduli dengan masalah ini. Silakan saja, tetapi perlu dipahami bahwa, jika semua manusia yang menjadi penghuni negeri ini memang sudah tidak lagi menyuarakan nurani dan lebih memilih memanjakan pretensi, maka tunggu saja, kebinasaan negeri ini sudah tidak lama lagi.

Logikanya sederhana, hujan akan turun diawali dengan beberapa tanda (sinyal). Banjir tidak akan datang kecuali Tuhan melalui alam telah mengirim utusan.

Demikian juga dengan negeri ini, bencana bahkan kebinasaan akan tiba juga telah memberikan sinyal dalam berbagai macam bentuk peristiwa dan kejadian.

Nah, segala macam ironi di negeri ini hakikatnya adalah sinyal dari Tuhan agar bangsa ini segera sadar dan bergegas mengubur pretensi-pretensinya. Dilanjtukan dengan bersegera menghidupkan kembali hati nurani. Sebab, jika pretensi terus yang diikuti maka alamat kebinasaan telah menanti.

Mungkin negeri ini tidak akan diduduki pasukan asing, tetapi semua aset negeri ini telah hilang dari genggaman. Jadi, ketika kita berteriak, "merdeka," hakikatnya kita telah terkubur dalam mimpi.

Dan, ketika rakyat disuruh bangga dengan demokrasi, sebenarnya kita telah dipaksa untuk membunuh nurani dan menyuburkan pretensi. Karena pada hakikatnya, tidak ada nurani dalam demokrasi, yang ada hanyalah pretensi.

Demokrasi hanya ada saat pemilu, di luar itu, bukan lagi demokrasi. Semua kebijakan tinggal di tangan pemegang kuasa dan harta.

Dan, jika Miss World nanti jadi, korupsi tak berhenti, maka, makin terbukti bahwa negeri ini adalah negeri penuh pretensi. Sebuah negeri yang akan mati karena ulah penduduknya sendiri.*

______
IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis kaltara.news. Ikuti juga cuitan-cuitannya di @abuilmia

























Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel