Menguasai Diri, Menyemai Prestasi Tertinggi

AWAL pekan lalu (30/7), saya berkesempatan mengisi undangan acara bedah buku kedua saya, Change Yourself to Change the World, yang diselenggarakan oleh Brigade Muda BKPRMI Kota Depok.

Dalam acara yang dihadiri puluhan siswa tersebut antusiasme pelajar untuk mengetahui konsep diri dan perubahan terlihat cukup tinggi.

Tetapi, seperti kondisi remaja pada umumnya, dalam hal keilmuan, mereka seperti tak punya energi. Usai acara, beberapa panitia memberitakan bahwa sebenarnya banyak peserta yang ingin bertanya, tetapi malu, katanya.

Inilah sikap yang tidak tepat yang bersarang di dalam pikiran kebanyakan pelajar. Dalam hal ilmu, mereka sering malu. Tetapi ketika tidak disiplin, tidak jujur, dan tidak semangat dalam bealjar, jarang sekali yang mengaku malu.

Dari sini, sudah dapat dilihat bahwa ada yang salah dalam konsep berpikir sebagian besar pelajar di negeri ini.

Kalau berpacaran PD (percaya diri) tetapi kalau belajar gengsi, kalau tidak ya agak malu. Maka tidak heran jika banyak pelajar yang dari mulai masuk sekolah sampai lulus tidak ada perubahan konsep berpikir dan berperilaku, apalagi bisa mengatur diri sendiri.

Indikasi Kegagalan
Ketika orangtua memasukkan anaknya ke sekolah sebenarnya para pelajar sudah mafhum bahwa dirinya harus berubah. Dari kurang dewasa menjadi lebih dewasa, dari kurang bertanggung jawab menjadi bertanggung jawab. Dari banyak bermain menjadi lebih efisien dalam mengelola waktu.

Tetapi, fakta berbicara lain. Banyak pelajar justru tidak menyadari hal tersebut. Mereka sebatas tahu, tetapi tidak menyadari sehingga tidak begitu antusias dalam berupaya membangun tradisi untuk mengatur diri. Alih-alih semakin umur semakin baik, kebiasaan terkadang justru kian kekanak-kanakan.

Sekolah asal berangkat, asal datang, asal baca dan asal tidak absen saja. Mengenai apa yang akan dicapai, didapat atau pun ditargetkan ketika masuk sekolah sama sekali tidak pernah ada.

Kondisi tersebut itulah yang menyebabkan banyak pelajar BT (malas) memasuki detik-detik ujian. Bagaimana tidak, materi yang sudah satu semester berjalan, tidak satu pun yang dikuasai dengan baik.

Jurus primitif pun berlaku. Kalau tidak mempersiapkan cara-cara curang dalam menjawab soal, sebagian yang lain coba bekerjasama dengan teman-temannya yang dianggap rajin belajar. Ketika, sang pelajar yang dianggap rajin, vonis negatif pun akan mendarat di hadapannya.

Padahal, kalau dikaji perlahan-lahan, peristiwa semacam itu tidak perlu terjadi, kalau sedari awal pelajar kita sudah mengerti bahwa sekolah adalah media untuk belajar mengatur diri sendiri.

Mulai dari kapan bangun, kapan belajar, kapan bermain, dan kapan tidur lagi. Kemudian mengetahui dan menjalani apa yang fokus, apa yang prioritas, dan apa yang bisa ditunda sesuai kebutuhan belajar.

Dengan cara seperti itu, Insya Allah tidak ada yang namanya sekolah tidak nikmat. Pasti asyik dan sangat nikmat. Bagaimana tidak, kalau setiap materi pelajaran yang disampaikan guru di depan kelas kita bisa tangkap dan kuasai, pasti akan semangat belajar.

Tetapi, kalau belajar saja kita sudah tidak bisa menikmatinya, maka segeralah sadar diri, itu indikasi kegagalan yang mesti diwaspadai. Jika tidak, maka penyesalanlah di suatu hari nanti.

Milikilah Cita-cita

Sebenarnya, para pelajar saat ini bukan tidak memahami apa umum terjadi, mereka cukup mengerti. Terbukti, dalam acara bedah buku itu, ada yang bertanya, "Kak, bagaimana caranya supaya saya tidak malas?"

Pertanyaan tersebut cukup sederhana, tetapi tidak untuk jawabannya. Seorang pelajar akan menyadari fungsi dan perannya dengan baik manakala ia memiliki cita-cita dalam belajarnya. Jika tidak, maka sekolah pasti asal sekolah.

Ketika seorang pelajar memiliki cita-cita, tentu dia tidak mau sekolah hanya setor badan, tetapi ada sesuatu yang ingin dikuasai dan didapatkan untuk masa depan. Tengoklah seperti Laskar Pelangi, yang walau pun siswanya hanya sepuluh orang, semuanya punya semangat dan riang gembira dalam belajar.

Mengapa Andrea Hirata bisa seperti saat ini, tidak lain karena adanya cita-cita yang telah lama terpatri kuat di dalam sanubari. Demikian pula dengan orang-orang lainnya, yang mungkin tidak populer atau tenar dan apalagi menjadi pejabat, tetapi mereka sukses menjadikan diri dan kehidupannya berguna bagi orang lain.

Pengejar Mimpi
Setelah memiliki cita-cita, segeralah menjadi pengejar mimpi. Orang yang dalam 24 jamnya tidak digunakan melainkan untuk mewujudkan impiannya.

Apalagi dalam urusan ilmu (belajar). Jelas, tidak ada cara instan untuk menjadi pelajar yang sukes. Semua harus ditempuh dengan kesungguhan dan pengorbanan.

Yahya bin Katsir berkata, "Ilmu tidak bisa diperoleh dengan cara memanja-manjakan diri (banyak santainya)".

Sementara itu, ulama Islam Imam Syafi'i secara lebih detail memberikan keterangan perkara-perkara yang mutlak diperlukan seorang pelajar. Yakni, kecerdasan, semangat (niat, cita-cita atau mimpi), kesungguhan, bahasa, berteman dengan guru, dan sabar menempuh waktu dalam belajar.

Apa memang harus begitu, ya tidak ada cara lain. Ibn Abbas berkata, "Engkau memang harus bersusah payah mencari ilmu, namun suatu saat engkau akan mulia dan dicari orang karena peroleh ilmu."

Apa ada pelajar semacam itu? Inilah pentingnya kita membaca sejarah. Sangat banyak pelajar yang bermental pengejar mimpi yang sangat luar biasa.

Ahmad bin Hanbal, beliau rela berjalan kaki sejauh 30.000 mil untuk mencari hadits, hapal satu juta kata-kata bijak sahabat Nabi dan mewariskan 40.000 musnad.

Kemudian ada Imam Muzanni, beliau mengulang-ulang kitab Risalah Asy-Syafii hingga 500 kali, dan Alim Andalusi mengulang-ulangi kitab Shahih Bukhari hingga 700 kali.

Lain halnya dengna Ibnu Jarir, beliau menulis 100.000 halaman. Sedangkan Ibnul Jauzi mengarang 1000 karangan. Dan, Ibnul Anbar menghapal 400 tafsir.

Mengapa mereka memiliki komitmen dan kesabaran dalam menuntutu ilmu sedemikian rupa? Tidak lain karena orang yang menuntut ilmu akan mendapat kemuliaan dari Allah SWT (QS. 58: 11).

Lebih dari itu, hidup hanya akan bermakna manakala diri ini dibekali dengan ilmu. Ahli hikmah mengatakan, "Ilmu adalah perhiasan, jadilah pemburu ilmu, dan jadilah pencarinya, selama engkau juga masih berburu jatah hidup."

Kuasai Diri Sendiri
Sepintas, mungkin ada yang beranggapan bahwa ini adalah perkara berat. Tidak saudaraku, sekali lagi tidak. Justru kalau kita tidak memulai ini sejak sekarang, itu malah akan mendatangkan beban yang sangat berat dikemudian hari.

Siapa pun pasti bisa mengikuti, meniru atau bahkan melebihi semangat para pengejar mimpi tadi, asalkan kita benar-benar telah mampu menguasai diri sendiri.

Kuasailah dirimu sendiri, niscaya engkau bisa menggenggam waktu, mengatur keadaan dan menjadi pemenang. Tetapi, selama dirimu sendiri tidak kau kuasai, sebanyak apa pun daftar mimpi yang dimiliki, sampai kapan pun tak akan pernah ada perubahan diri, karena sedari awal memang tidak ada realisasi.

Pantas jika seorang bijak mengatakan, "Orang yang paling kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya sendiri dan ia tahu apa yang diinginkan Tuhan dari dirinya."

Jadi, marilah kita kembali belajar mengatur diri untuk mengejar mimpi dengan benar-benar menguasai diri sendiri.*

________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis kaltara.news. Ikuti juga cuitan-cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel