News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Mahasiswa Post-Modern dan Pergolakan Intelektual

Mahasiswa Post-Modern dan Pergolakan Intelektual

PERGOLAKAN pemikiran telah menghinggapi alam pikiran lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dewasa ini. Hal ini menjadi semacam stimulus terbentuknya paradigma terpola untuk merekayasa tangga kesuksesan.

Perubahan itu dimulai dengan cara menerawang masa depan (forecasting), membulatkan tekad (dedication), dan meneguhkan pendirian (loyality). Demikian itu, bahwa dengan menuntut ilmu atau katakanlah kuliah merupakan tahap yang mesti dilewati.

Mengingat hegemoni modernisme telah menjadi tantangan yang perlu dihadapi setiap mahasiswa. Laku modernisme perlu diiringi dengan penguatan intelektual agar tidak tergilas dengan zaman.

Makanya, seorang filosof Rene Descartes mengatakan, "Aku berpikir, maka aku ada". Sehingga dengan berpikir, maka seseorang akan dikatakan ada dalam mewarnai kehidupannya.

Bagi lulusan SMA, Anda bukan zamannya lagi untuk berpangku tangan untuk menghayalkan masa depan. Tapi, mulai menatap ke depan, bahwa akan melakukan yang terbaik bagi agama dan bangsa Indonesia tercinta. Kemudian menggali potensi masing-masing dengan penuh perjuangan demi menggagas peradaban yang baru.

Dalam kerangka aktivisme, mahasiswa kerap dijuluk sebagai apa yang disebut dengan "agent of change" atau agen perubahan dalam pranata sosial. Hal itu tentu menjadi tanggung jawab moral dalam masyarakat dan bangsa. Setidaknya ada hal bermakna yang dapat dilakukan bagi lingkungan di mana kita berada.

Di waktu yang sama, kita menyaksikan presentasi situasi dimana nampak terjadi pergeseran nilai dan budaya budaya, seperti sopan santun yang mulai tergerus berganti dengan permisifisme, ramah tamah berganti vandalisme, dan liberalisme yang kian menghinggapi masyarakat pada umumnya.

Nah, disinilah peran mahasiswa dituntut melakukan aksi nyata demi mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh pendahulu bangsa ini.

Saya memandang, perubahan sosial terjadi terutama dikarenakan semakin massifnya teknologi dan arus informasi menancapkan cengkramannya. Sebagai contoh, handphone yang dulunya hanya sebatas alat komunikasi semata. Kini, ia berubah menjadi alat informasi yang bisa merubah keadaan sosial masyarakat.

Mahasiswa yang sadar akan diri dan posisinya, tidak akan diam melihat kondisi akibat dari arus informasi tersebut. Dengan kesadaran intelektual ideologis, mahasiswa sebagai kaum terdidik harus melakukan aksi nyata dalam menyadarkan masyarakat, bahwa kita tidak boleh terpedaya oleh teknologi.

Post-Modernitas
Dapat dikatakan bahwa kalangan pelajar yang notabene masih remaja, merupakan kelompok tingkat sosial yang sangat rentan dipengaruhi oleh pesatnya arus teknologi. Ia kemudian memicu terjadinya pemerkosaan, kegalauan, kemorosotan moral, budaya komsumtif, dan permisifitas.

Tentu saja, menurut saya, keadaan yang jelas sangat mengkhawatirkan itu menjadi tantangan bagi mahasiswa yang hidup dalam era post-modern hari ini.

Sehingga, saya harus mengatakan bahwa sebuah kebodohan dan hipokritas yang sangat nyata apabila ada mahasiswa yang hanya terus sibuk beraktifitas di dalam ruang bertembok tanpa mau peduli dengan lingkungannya sebagai bentuk apresiasi terhadap interaksi sosialnya.

Melihat kenyataan tersebut, perlu ada kegiatan yang mengarah pada hal yang positif. Misalnya saja, membentuk sebuah lembaga sosial untuk menggali potensi mahasiswa, membuat sebuah forum kajian Islam untuk memperkokoh pondasi keagamaan, dan mengajak untuk menghasilkan karya demi tegaknya peradaban baru.

Sebab, harus diingat, bahwa menyandang status mahasiswa, bukan hal yang mudah untuk diemban. Karena perlu ada aktualisasi dalam bentuk nyata untuk mewarnai kehidupan. Sehingga akan lebih bermakna kehidupan ini, bilamana kita bisa bermanfaat di antara kita dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan pencipta-Nya.

Makanya, Sang Proklamator Soekarno mengatakan, "Berikan Aku sepuluh pemuda, maka aku akan guncangka dunia".

Artinya, segolongan pemuda atau mahasiswa yang potensial dan berdedikasi, akan mampu menaklukkan dunia dengan pemikiran dan penanya. Kemudian mengambil peran sesuai dengan keahlian yang bisa disumbangkan kepada bangsa.

Akhir kata, sebagai kaum intelektual organik, mahasiwa perlu mengaplikasikan semua potensi yang dipunya. Kemudian menelurkan sebuah karya positif demi terciptanya sebuah peradaban baru, yakni peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas, humanisme, dan religiusitas.

Dengan demikian, kita berharap perubahan sosial menuju tampilnya Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, bangsa yang berdiri di kaki sendiri, akan benar-benar mewujud. Semoga.*
_____________
R. WIJAYA DG. MAPPASOMBA, penulis adalah mahasiswa jurusan komunikasi STAI Al Aqidah Jakarta dan aktif sebagai penulis lepas. Gambar hanya sebagai ilustrasi.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.