Akil Mukhtar Tak Sekadar Menampar!



TERTANGKAPNYA Ketua MK Akil Mukhtar benar-benar mengejutkan seluruh rakyat Indonesia.

Beberapa pihak sangat tidak bisa menerima apa yang dilakukan oleh ketua MK yang tertangkap tangan diiringi beberapa barang bukti tindak korupsi.

Mantan ketua MK Jimly Assiddiqie sangat geram dengan fakta tersebut. Melalui media ia menyarankan agar KPK menuntut Akil Mukhtar dengan hukumam mati.

Senada dengan Jimly, Mahfud MD yang juga mantan ketua MK menganjurkan agar Akil dihukum dengan seberat-beratnya.

Tetapi, jika diteliti sejenak saja, apa yang terjadi pada Akil ini bukanlah perkara baru. Sebab, kasus serupa yang menimpa oknum pejabat negara terbilang sangat sering terjadi.

Hal ini hanya menjadi satu peringatan keras bahwa korupsi di negeri ini benar-benar telah membunuh nurani, sampai pada tahap hancurnya moralitas negeri. Ia "sukses" menampar wajah satu orang, namun kasus Akil ini menampar wajah kita semua!

Sudah sangat sulit publik bisa percaya kepada lembaga negara, jika setiap saat selalu saja ada oknum yang terseret kasus korupsi.

Dan, ini hanya fenomena gunung es, dimana sesungguhnya praktik semacam ini sungguh masih sangat dominan hampir di segala sektor kehidupan. Tidak perlu bukti apa-apa untuk hal ini, siapa pun sangat mungkin akan menyetujui.

Namun, dibalik berbelit-belitnya kasus korupsi yang sepertinya tak bertepi ini ada hal yang harus menjadi fokus perhatian pemerintah dan masyarakat, yakni bagaimana mengatasi problem besar ini secara mendasar dan komprehensif. Langkah ini tentu harus diawali dengan diagnosa akurat terhadap borok bangsa kita sendiri.

Borok ini secara ksatria harus diakui dan dibuka selebar-lebarnya oleh seluruh elemen bangsa untuk benar-benar diketahui sebab sekaligus cara menanggulanginya.

Apabila hal itu tidak dilakukan, maka berbagai pendekatan yang diupayakan tidak akan benar-benar mampu mengatasi masalah, salah-salah malah menimbulkan masalah baru setiap hendak menyelesaikan masalah.

Borok Bangsa
Borok bangsa saat ini sesungguhnya sangat banyak, namun jika diperas ia hanya bersumber pada satu mental yang buruk, yakni mental cinta harta, tahta dan wanita.

Media telah membeberkan secara gamblang betapa tidak sedikit oknum pejabat yang terseret kasus korupsi karena alasan atau tujuan kursi dan sebagian ternyata ditemani para wanita.

Ironisnya, para penegak hukum ternyata tidak selamat dari mental buruk yang sangat merusak ini. Terkahir, Akil Mukhtar menjadi bukti terkini bahwa borok ini benar-benar mengerikan bahayanya.

Jika dibiarkan bukan tidak mungkin negeri ini akan kehilangan moralitas yang semestinya dijunjung tinggi oleh setiap insan yang bernurani. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa keberadaan orang yang beriman, jujur dan pemberani benar-benar sangat langka.

Umumnya orang sudah menggunakan logika pragmatisme untuk mencapai kebahagiaan semu. Mereka tak peduli lagi yang namanya nurani apalagi wahyu Ilahi. Semua hanya diarahkan untuk memuaskan hati dengan memenuhi segala hajat birahi.

Jika pemerintah ingin mengatasi masalah korupsi yang kian menjadi-jadi ini, tidak ada jalan lain kecuali bersegera mengobati borok bangsa tersebut. Yakni dengan cara bersegera mengarahkan seluruh aparat negara untuk kembali menghidupkan iman dan tidak menjadikan harta, tahta dan wanita sebagai ‘tuhan’.

Apabila tidak, maka, segala upaya pasti hanya akan menimbulkan masalah baru. Logikanya sederhana, orang sakit flu tidak mungkin bisa disembuhkan dengan hanya meminum obat flu, sementara setiap hari orang yang sakit itu tidak berhenti minum es dan berendam di dalam air.

Demikian pula dengan bencana korupsi yang melanda negeri ini. Tidak mungkin korupsi dapat diatasi jika orang-orang yang menjadi aparat pemerintah di negeri ini masih sangat bernafsu terhadap materi-materi.

Kematian Hati
Dengan demikian dapat dipahami bahwa borok bangsa bangsa ini ada pada hati yang buta, sehingga menjadikan harta, tahta dan wanita sebagai tujuan.

Pada manusia yang terkena penyakit mengerikan ini sungguh tidak akan pernah puas dengan apa yang dimiliki. Punya gaji 40 juta masih kurang, ia ingin punya uang bermilyar-milyar, dan seterusnya.

Terkait hal ini Rasulullah Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda seperti berikut:

“Yang sedikit tapi mencukupi,lebih baik daripada yang banyak tapi membawa rugi besar. Lepaskan dirimu dari keserakahan akan dunia semampu kamu, sebab siapa yang dunia menjadi tujuan utama hidupnya, Allah akan mencerai-beraikan (maksudnya: salah urus dan berantakan alias amburadul) atas milik-miliknya yang telah ada yang sudah terkumpul (yang sudah terurus/ terbangun).

Lalu dijadikanlah kemiskinan dalam pandangan mereka (tetap merasa kurang terus tidak cukup dengan yang sedikit dan tidak kenyang dengan yang  banyak).

Dan siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai tujuan dan cita-cita hidupnya, Allah akan menghimpun kembali miliknya yang bercerai-berai (sehingga terhimpun dengan: teratur, tertib, tersusun, terurus, terencana dan terlaksana dengan sempurna). Lalu dijadikan-Nya kekayaan dalam hatinya (kecukupan tidak kurang suatu apa pun) dan dimudahkan oleh-Nya untuk mendapat dan dibukakannya segala macam kebaikan-kebaikan” (HR. Thabrani).

Kemana Negeri Ini Menuju?
Sekarang, mari kita lihat dan akui dengan kebesaran jiwa, kemana sebenarnya bangsa ini mengarah.

Sungguh siapapun akan mengatakan bahwa hampir semua kebijakan di negeri ini tidak ada yang mengarah pada peningkatan iman dan takwa aparat dan rakyat.

Semua sepertinya diarahkan untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan semu belaka, mungkin juga termasuk RAPBN. Dengan kasus-kasus korupsi yang terus terjadi dan pola pikir materialis-pragmatis maka sungguh, logika ilmu apa pun tidak akan pernah mampu mengatasi masalah ini.

Bahkan, pemilik ilmunya pun tidak akan selamat dari karakter korup. Hal ini bisa dilihat dari betapa kaum akademisi bergelar pangkat tertinggi di perguruan tinggi juga terseret kasus korupsi.

Jadi, manakala hal ini tidak diatasi, maka sampai kapan pun, siapa pun presidennya, menterinya termasuk anggota DPR-nya, hasilnya akan sama malah mungkin akan lebih parah.

Sebab, disadari atau tidak, manakala orang sudah melihat kemegahan sebagai kebaikan sungguh ia telah menggadaikan iman.

Sebab, hukum alam ini telah berbicara, bahwa kebesaran dan keberhasilan serta ketertiban, kemenangan dan kejayaan sebuah peradaban, tidak lahir dari kemegahan ragawi-materi, tetapi dari kemegahan gagasan, keperkasaan perjuangan, keteguhan keyakinan bahkan beratnya penderitaan.

Itulah mengapa Rasulullah dan empat sahabatnya yang menjabat sebagai penguasa dunia tidak mau akrab dengan penghormatan manusia dan kenyamanan materi.

Bukan mereka tidak suka, bukan mereka tidak mau, apalagi hanya karena mereka bukan manusia. Semua itu dilakukan karena mereka ingin menjaga kesehatan jiwanya dan kehidupan hatinya.

Sebab, jika tidak, maka mereka akan kehilangan nurani dan moralitasnya. Apabila hal itu terjadi, maka manusia tinggl jasad belaka. Hakikatnya ia telah menjadi setan yang hidup demi keserakahan.

Inilah biang kerok dari berantakannya suatu peradaban dan kehinaan kehidupan suatu bangsa dan negara yang pasti akan mengarah pada kesalahan kebijakan yang berujung pada kesemerawutan dan kerusuhan kehidupan.*

_______
IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitan beliau di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel