Pohon Jodoh di Pulau Sebatik, Uniknya Budaya Indonesia

TELAH kita ketahui Indonesia adalah negara pemilik suku terbanyak di dunia. Setiap suku memiliki daerah asal dan serta corak khas budaya tersendiri. Ada cerita daerah, kuliner daerah, busana adat daerah, bahasa daerah, hingga mitos-mitos di daerah masing-masing.

Pulau Kalimantan yang dihuni oleh suku aslinya yaitu Banjar, Kutai, Dayak,Tidung, Bajau dan lain-lain menjadi corak budaya beragam. Ditambah lagi proses pembauran antara budaya lokal Kalimantan dengan budaya pendatang, menjadikan Kalimantan salah satu tempat persemaian budaya baru asli Indonesia.

Kemudian di era modern dan keterbukaan saat ini yang tidak ada lagi sekat interaksi antara antar suku, bangsa, dan antara agama, menjadikan persebaran budaya menjadi akulturasi mutlak dan menciptakan kebudayaan baru yang menambah lagi kekayaan kebudayaan Indonesia.

Pohon Jodoh di Sebatik

Di Kalimantan Utara sendiri tepatnya di Pulau Sebatik Indonesia, terdapat sebuah situs budaya dan kepercayaan masyarakat sekitar yang hingga hari ini menjadi destinasi wisata mayoritas masyarakat pulau yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu.

Situs unik tersebut bernama Batulamampu. Letaknya di sebuah pinggiran lepas pantai yang memiliki panorama alam eksotik. Batulamampu selain sebagai situs budaya, juga sekaligus merupakan objek wisata di pantai Sebatik.

Di Batulamampu ini terdapat sebuah pulau kecil yang terpisah dari Pulau Sebatik dan dipercaya bahwa di pulau tersebut tumbuh Pohon Jodoh, Pohon Rezeki, dan Pohon Keselamatan. Woww..!

Menurut kepercayaan masyarakat, syarat agar impian dan keinginan kita terkabul cukup mengikat tali di seluruh bagian pohon yang tumbuh di Batulamampu tersebut. Ritual mengikat Pohon dalam istilah masyarakat sekitar disebut "massio".

"Massio" sebenarnya bukan bahasa asli suku Kalimantan melainkan bahasa Bugis asal Sulawesi Selatan yang telah menjadi bagian etnis yang tak terpisahkan dari kemajemukan pulau Kalimantan.

Masyarakat Bugis mulai menetap di Pulau Sebatik sejak sebelum masa konfrontasi Indonesia-Malaysia tahun 1965 dan rata-rata mereka adalah keluarga dan keturunan dari pejuang konfrontasi 1965.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, ketika hendak Massio, pengunjung cukup berdoa kepada Tuhan dalam hati. Masyarakat Sebatik yang 90 % beragama Islam memang mengakui ritual ini sebatas adat dan budaya yang menjadi kepercayaan, mereka tetap meyakini bahwa yang menentukan segalanya adalah Tuhan.

Usia merapalkan doa, sang pemohon hajat kemudian mengikat salah satu bagian dari pohon-pohon jodoh tersebut. Tali yang diikat wajib dilepas setelah jodoh, impian, atau doa terkabul, sehingga pengunjung dari luar daerah biasanya akan kembali melepas ikatan tadi setelah ditinggal berbulan-bulan bahkan ada yang sampai bertahun-tahun. Unik juga ya!

Menurut warga, pengunjung dari luar biasanya berasal dari Kota Tarakan, Nunukan, Sulawesi bahkan ada yang berasal dari Tawau, Malaysia.

Dahulu, sebelum Pulau Sebatik terbuka seperti saat ini, di tahun 1990-an, Sebatik telah lebih dahulu didominasi oleh Malaysia mulai dari penawaran menjadi warga Malaysia dengan penerbitan Yellow Card (KTP sementara) untuk warga Sebatik sampai penggunaan mata uang Ringgit bahkan hingga hari ini.

Selain itu, Batulamampu pun tidak lepas dari promosi Malasyia dahulu. Batulamampu diakui warga pernah masuk dalam program televisi di Malaysia yakni di TV3 dalam program acara Misteri diakhir dekade 90-an.

Mitos Batulamampu memang telah dikenal tidak hanya di kalangan warga Sebatik akan tetapi warga sekitar Sebatik seperti Tarakan, Nunukan bahkan Malaysia khususnya wilayah Tawau. Ritual massio menurut masyarakat sekitar telah berlangsung lama.

Dan, di zaman modern ini ritual massio ini telah mulai ditinggalkan warga dan untuk mempertahankannya, sebagian masyarakat menyesuaikannya dengan perkembangan budaya modern dan perkembangan agama Islam di Sebatik agar situs dan ritual tradisional ini tetap dikenal sebagai budaya Indonesia asli.*

YAHYA HASAN

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel