Politik Disorientasi dan Kemelut Jokowi

HAL TERBERAT bagi setiap orang adalah mengakui kegagalan. Mengakui kesalahan itu memang seperti orang sakit yang meminum jamu. Pahit, tapi jika itu dilakukan, maka akhirnya akan ada perbaikan.

Realita politik NKRI yang belakangan ini diwarnai dengan ketidakpastian menunjukkan bahwa sesungguhnya politik yang berlangsung selama reformasi itu harus diakui telah gagal, setidaknya dalam melahirkan pemimpin yang visioner dan hasil dari kaderisasi sebuah partai politik.

Hadirnya Jokowi sebagai presiden bisa kita masukkan sebagai salah satu bukti. Sebab, keberadaannya sebagai presiden tidak benar-benar memerankan fungsi strategis sebagai pemimpin yang semestinya.

Ini bisa dibuktikan dengan kelambanan Jokowi dalam mengambil keputusan atas kisruh yang terjadi di negeri ini. Padahal kisruh itu melibatkan dua institusi penting NKRI. Tetapi, harus kita pahami, Jokowi hanyalah dampak dari sistem kaderisasi partai dan politik yang gagal.

Orientasi Kursi
Untuk menemukan jawaban, mengapa politk negeri ini gagal, sebenarnya sangat mudah. Yakni dengan melihat orientasi partai politik itu sendiri.

Partai politik – dan rasanya ini bisa digeneralisir – kebanyakan berorientasi pada kekuasaan alias kursi. Jadi bukan maslahat NKRI, kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Orientasi kursi ini bisa dilihat dari cara-cara partai mencalonkan kepala daerah hingga kepala negara. Secara normal, ketika PDI-P menang dalam pemilu, tentu yang seharusnya maju adalah ketua umum.

Akan tetapi, karena tidak ada sosok yang bisa merepresentasikan semangat reformasi, terutama yang bisa diharapkan rakyat bisa menjawab ketidakpuasan dua periode pemerintahan SBY, maka sosok Jokowi pun maju sebagai taruhan.

Meskipun, secara psikologis, pilihan ini sangat berat untuk dilakukan oleh seorang pendiri partai. Tetapi, demi kemenangan pemilu atau kursi, ini harus direlakan.

Lantas, bagaimana dengan partai yang lain? Mungkin tak sama, tapi boleh disebut serupa. Ini bisa dilihat dari banyaknya artis-artis yang notabene tidak mengerti dunia politik, tiba-tiba masuk bursa calon anggota dewan atau kepala daerah. Apa pertimbangannya? Satu saja, mereka terpilih dalam pemilu.

Apalagi, artis, sudah barang tentu khalayak mengenalnya. Kalau saja, partai politik mau jujur, tentu bukan artis yang tidak berkontribusi besar dalam sejarah perjalanan partai yang dipilih. Melainkan, kader-kader militan partailah yang didorong untuk siap berkiprah. Faktanya? Anda bisa memberikan jawaban sendiri.

Mengapa kader terbaik yang militan itu tidak didorong? Mereka tidak dikenal publik. Kenapa? Jelas, mereka tidak berkiprah nyata dalam kehidupan masyarakat. Kalaupun dipaksa, selain akan memakan biaya besar, kemungkinan terpilih pun sangat kecil. Berbeda dengan artis, sekali tampil saja, publik sudah pasti akan memilih mereka.

Kekerdilan
Sejumlah fakta yang coba ajukan di atas, sejatinya sudah menjadi rahasia umum. Dan, saya menyebut hal tersebut sebagai bentuk nyata dari kekerdilan sebagian besar politisi negeri ini yang menjadi sebab kenapa kisruh di negeri ini seolah menjadi tradisi.

Bahkan, tidak saja antar institusi, negara atau tepatnya pemerintah tidak pernah benar-benar berhasil meredam konflik sosial yang terjadi, yang sejatinya, kalau pemerintah hadir dan memberikan keputusan, konflik sosial atau konflik horizontal itu bisa segera diatasi.

Konflik sosial yang terjadi di Sentul Jawa Barat antara kelompok yang diberitakan Syiah yang menyerang Perkampungan Muslim Az-Zikra, tidak perlu terjadi kalau memang pemerintah benar-benar hadir.

Tapi, bagaimana mungkin pemerintah hadir, sedangkan di tubuh mereka sendiri, luka menganga sengaja dibiarkan bahkan dipertontonkan. Semua ini menunujukkan bahwa telah terjadi kekerdilan berpikir.

Tetapi, kita masih yakin ada pribadi-pribadi tangguh yang mengemban amanah dengan jujur. Allah tidak mungkin akan membiarkan tangan-tangan jahil merusak negeri ini. Meskipun demikian, kita tidak boleh tinggal diam dengan bermodalkan keyakinan dan harapan.

Negeri ini rusak, gagal dan centang perenang, iya. Hampir banyak orang mengatakan itu benar. Tetapi, negeri ini bukan hanya kemarin dan hari ini, tetapi juga ada masa depan. Semua pemimpin yang katankanlah hari ini banyak yang kerdil, akan segera menua dan diganti generasi mendatang.

Kita perlu tegaskan ini, karena mengharap mereka melakukan perubahan diri sudah hampir tidak mungkin. Karena mereka telah merelakan jiwa raganya menjadi seperti sekarang. Yang sangat mungkin kita lakukan adalah kebaikan generasi mendatang.

Oleh karena itu, jangan sampai kita asyik membicarakan panasnya politik hari ini, tetapi lupa meneladankan kejujuran pada suami atau kepada istri, anak-anak, tetangga, dan lebih luas lagi masyarakat.

Mari bangun mental jujur itu pada diri kita. Karena meski terlihat biasa dan tak berdampak saat ini, penanaman mental jujur ini benar-benar akan mengubah nasib bangsa dan negara di masa mendatang.

Setidaknya kita ikut berupaya, agar politik ke depan bukan seperti politik reformasi yang terus berjalan hingga hari ini yang masih penuh dengan begitu banyak warna kekisruhan, kesemerawutan dan tentu saja kegagalan.*

______
IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitan beliau di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel