Kenakalan Remaja karena Trilogi Kepengasuhan Unconnected

KALTIMTODAY -- Kenakalan remaja yang diantaranya ditandai dengan maraknya kasus pergaulan bebas, vandalisme, dan sikap permisifme remaja, dinilai akan terus mengalami tren yang tinggi selama tiga elemen penting (trilogi) kepengasuhan tidak sinkron (unconnected).

Hal itu dikatakan kolumnis Nasional News, Imam Nawawi, saat hadir berbicara pada acara workshop kepemimpinan yang diikuti oleh siswa di Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu.

Imam Nawawi mengatakan bahwa kenakalan remaja adalah dampak dari tidak adanya sentuhan dan keterhubungan peran antara pihak sekolah, guru, dan orang tua dalam menumbuhkan karakter kepemimpinan pada anak-anak.

Trilogi kepengasuhan sebagai pusat kendali tersebut, tegas Imam Nawawi, harus selalu ada keterhubungan. Sebab, menurutnya, tidak saja lingkungan yang dapat memberi ekses buruk kepada remaja. Absennya orangtua dalam memantau anak-anaknya juga sangat besar dampaknya.

"Kalau hanya berharap kepada lingkungan sekolah, atau hanya bergantung kepada guru tanpa peran mendasar orangtua wali siswa, maka saya kira mustahil dapat menekan angka kenakalan remaja yang terus menggila saat ini," kata Imam Nawawi.

Nawawi menegaskan, karakter dasar kepemimpinan itu adalah tanggung jawab. Sebab itu, ketika seorang remaja tidak dilatih untuk memiliki rasa tanggung jawab di luar apa yang menjadi rutinitas belajarnya, secara mental mereka akan sangat mudah terdorong untuk ikut-ikutan.

"Remaja umumnya labil dan itulah kenapa mereka hanya cenderung menjadi follower. Bukan menjadi trendsetter untuk ha-hal yang positif," kata penulis muda yang juga mantan Ketua Persatuan Pelajar Islam (PII)  Kutai Kartanegara ini.

Dari sinilah sebenarnya, kata Nawawi, seorang pelajar akan menentukan pilihan. Jika ia sadar akan tanggung jawab diri, agama dan sosialnya, kecenderungan untuk asal ikut dan asal senang juga akan bisa dia rem sendiri.

"Tetapi, jika tidak, pengawasan seketat apapun, tidak akan mampu mencegahnya,” katanya.

Menurut Imam yang juga penulis buku Change Yourself to Change The World itu, di zaman Nabi kaum remaja sudah mendapat amanah strategis dalam urusan keumatan.

Ia mencontohkan, Nabi Muhammad telah merintis karir entrepreneuer sejak usia belia. Ia juga dikenal sebagai pedagang muda yang amanah. Dengan kepeloporannya dalam memberi manfaat manusia sekitarnya, Muhammad pun sangat dihormati dan dielukan.

Pertanyaannya, kata Nawawi, mengapa remaja kita sekarang tidak mampu?

"Ada banyak sebab, tetapi yang terutama, latihan tanggung jawab yang minim akan menyebabkan mereka lupa akan statusnya sebagai insan beriman yang hakikatnya adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap dirinya sendiri. Inilah sebab mengapa kenakalan itu terjadi,” pungkasnya seraya mendorong remaja menjadi pribadi sukses dunia akhirat. (ybh/kkj)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel