News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Terorisme, Bumerang Baru Bagi Barat

Terorisme, Bumerang Baru Bagi Barat

SEBAGAI sebuah peradaban, Barat telah memasuki masa-masa puncak. Sebagaimana hukum alam yang berlaku, dimana setiap sesuatu (termasuk peradaban) pasti mengalami siklus lemah kemudian kuat dan kembali lemah, begitu pula yang kini dialami oleh peradaban yang berpijak pada filsafat modern Rene Descartes itu. Barat mulai masuk masa penurunan dan pasti akan terus turun.

Tragedi 11 September 2001 yang berhasil menghebohkan dunia menjadi awal digulirkannya isu terorisme. Dan, seperti sebuah bentuk tak terbantahkan opini yang dibangun Barat terhadap Islam benar-benar eksis, di negara-negara lain pun muncul beragam aksi bom yang kemudian dalam beberapa saat mampu ‘menyihir’ dunia bahwa terorisme memang ada dan mengancam siapa saja di muka bumi ini.

Di Indonesia, tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002 adalah yang terbesar sekaligus awal dari fakta tak terbantahkan bahwa terorisme juga mengintai negeri kathulistiwa ini. Bentuk serangannya pun sama, berbasis bom yang menghancurkan dan memakan nyawa banyak orang. Masuklah opini publik bahwa teroris itu selalu menggunakan bom dan nyaris selalu dilakukan oleh orang Islam.

Stigmatisasi teroris pun muncul, menguat dan terus mengarah secara pasti kepada umat Islam dan pada akhirnya pada sumber ajarannya, Qur’an dan Sunnah. Dari sini, dapat dibaca bahwa Barat sejatinya sedang berusaha menjauhkan dunia dari ajaran Islam. Dan, isu terorisme dinilai efektif untuk secara pasti menjadikan dunia membenci Islam.

Tetapi, ada hal yang nampaknya Barat lengah. Tradisi intelektual yang sekian lama mereka bangun tak selamanya sesuai dengan agenda atau tepatnya hasrat politik penguasa. Ketika terorisme distigmatisasikan kepada Islam sebagai ajaran, masyarakat Barat yang secara intelektual memadai tidak percaya begitu saja. Di antara mereka justru penasaran terhadap apa itu Al-Qur’an dan Sunnah.

Suharsono dalam bukunya Membangun Peradaban Islam Menata Indonesia Masa Depan dengan Al-Qur’an menjelaskan bahwa di luar skenario Barat, Black Ceptember ternyata juga menyentakkan masyarakat Barat, terutama bagi kalangan yang masih memiliki integritas intelektual dan obyektivitas dalam menyimak kasus ini (terorisme), karena secara nalar untuk membuktikan apakah benar Islam sebagai ajaran betul-betul melegitmasi tindakan terorisme. Padahal, secara historis, Islam sebagai agama dan juga peradaban telah eksis lebih dari 1400 tahun lamanya.

Hasilnya, justru sangat mengejutkan. Karena setelah mendalami Islam secara mendalam, banyak warga kulit putih yang secara sadar dan berbekal riset yang dilakukannya bisa dikatakan berbondong-bondong masuk Islam. Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa penduduk Islam di AS berjumlah lebih dari 6 juta orang. Sejak 1994, pertumbuhan pemeluk Islam mencapai rata-rata 25%. Sementara itu BBC melaporkan bahwa saat ini, Islam merupakan agama dengan pertumbuhan paling cepat di Amerika.

Dengan kata lain, sekalipun Black Ceptember telah memberikan legitimasi politik internasional bahwa penyerangan AS terhadap Irak dan Afghanistan – yang sebenarnya juga membawa dampak kerugian tidak sedikit bagi Amerika – sebagai tindakan yang relevan. Pada saat yang sama, intelektualitas yang independen di Barat menolak stigmatisasi bahwa Islam adalah agama yang mengesahkan terorisme.

Kerancuan
Amerika sebagai pihak yang terdepan dalam perang terorisme semakin terlihat linglung dengan langkah-langkah yang ditempuhnya pasca 11 September. Nanat Fatah Natsir dalam bukunya The Next Civilization Menggagas Indonesia sebagai Puncak Peradaban, menjelaskan bahwa ada lima tindakan Amerika pasca 11 September yang justru kontraproduktif.

Pertama, pernyataan Presiden George W. Bush, “either you are with us or you are with the terrorists,” secara hitam putih telah membawa opini global dalam pertarungan antara kekuatan baik (good) dan kekuatan jahat (evil). Pernyataan tersebut, selain memaksa seluruh negara melawan teroris, pada saat yang sama Amerika punya kepentingan tak tertahankan untuk melapangkan segala macam skenarionya.

Kedua, tragedi Black Ceptember telah memberikan parameter baru yang digunakan AS dalam menilai sebuah negara. Bukan lagi seperti sebelumnya yang fokus pada isu demokrasi dan HAM. Penetapan kriteria ini jelas mengharuskan adanya tragedi bom yang harus selalu terjadi di manapun, agar kepentingan Amerika dengan stigmatisasi ini tetap berjalan dengan baik dan terus diakui dunia. Tetapi, jelas ini adalah hal yang sangat sulit, mengingat secara obyektif, umat Islam bukanlah umat yang menguasai teknologi apalagi dalam menciptakan bom.

Ketiga, mengaitkan terorisme dengan Islam sebagai ajaran jelas sangat gegabah, mengingat sangat sulit menemukan fakta apalagi sejarah ajaran Islam menghalalkan tindakan destruktif seperti terorisme. Terlebih, setiap peristiwa yang oleh Barat disebut sebagai tindakan terorisme selalu dinisbatkan kepada umat Islam.

Keempat, terorimse telah membuat Amerika secara sepihak kalau tidak dikatakan gegabah sebagai polisi dunia, yang memiliki hak mutlak dalam mengambil tindakan secara militer meski tanpa ada pembuktian yang memadai. Cara-cara ini yang kemudian dilancarkan di dalam negeri oleh Densus 88, dimana setiap ada terduga teroris, selalu yang terduga boleh ditembak mati tanpa pembuktian di pengadilan. Inilah yang menjadikan isu terorisme belakangan menjadi tidak populer, terutama bagi kalangan masyarakat yang masih mau menggunakan nalarnya.

Kelima, Amerika telah menjadikan pendekatan militer sebagai cara terbaik dalam menjamin keamanan dalam negerinya. Artinya, tanpa sadar, atas nama perang melawan terorisme Amerika telah menghalalkan cara-cara barbarian sebagai taktik dan strateginya.
Kelima tindakan Amerika tersebut selain kontraproduktifjuga tidak modern dan dehumanis.
Semestinya, sebagai negara adidaya, Amerika membuka ruang untuk terciptanya dialog terbuka antara Islam dan Barat sebagai manivestasi peradaban yang saintifik. Tetapi, nampaknya faktor pergiliran waktu sudah bicara. Barat yang tadinya rasional seperti kehilangan akal. Kini, Barat sibuk cuci tangan namun tetap beringas terhadap siapa saja yang dianggap lawan.

__________
IMAM NAWAWI, penulis adalah mantan Ketua PD PII Kutai Kartanegara, Kaltim. 

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.