News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Tragedi Mina, Wacana Media, dan Kecakapan Sosial

Tragedi Mina, Wacana Media, dan Kecakapan Sosial

SALAH satu masalah besar yang dihadapi umat manusia hari ini adalah informasi.‎ Tanpa bermaksud menggeneralisir, umumnya masyarakat kita tidak -atau belum- cakap dalam mengelola informasi.

Dalam beberapa kasus, misalnya, berawal dari seliweran informasi yang disebarluaskan‎, dua kelompok bisa saling perang, saling sikut, baku pukul. Yang menang jadi abu, yang kalah jadi debu. Keduanya, sama buruknya.

Mencermati perilaku sosial khususnya dalam komunikasi daring di ranah virtual, tampaknya, ada gejala yang cukup mengkhawatirkan. Dikala pertumbuhan pasar gadget cerdas kian menggurita, rupanya kemajuan itu tak seturut dengan kecakapan penggunanya..

Maka, tak heran kemudian di media sosial seringkali didapati informasi-informasi ‎sumir yang tersebar layaknya sebuah lingkaran setan. Massif dan agresif. Pada level tertentu, perilaku semacam ini malah terlihat seperti satu upaya untuk "mendemonisasi" wajah pihak yang tak disukai.

Seringkali didapati stasiun televisi tertentu tampak sangat aktif dan running untuk menggoreng isu-isu tertentu. Tidak saja masalah politik, dalam masalah atau isu yang sebetulnya sensitif pun khususnya yang menyentil isu SARA, stasiun televisi pun kurang lebih sama perlakuannya. Tujuannya jelas: rating dan fulus. Tidak perlu saya sebutkan, Anda tahu-lah stasiun TV mana saja yang saya maksud.

Contoh lain juga, pada kasus Tragedi Mina, Saudi Arabia, belum lama ini. Peristiwa yang tampak "ganjil" tersebut tentu mengagetkan kita semua sembari berharap masalah ini segera menemui titik terang soal siapa yang harus bertanggungjawab.

‎Namun, yang perlu digarisbawahi dalam tragedi ini adalah adanya serangkaian upaya politis yang dilakukan pihak tertentu untuk mereduksi bahkan mengeliminir peran luar biasa pemerintah Saudi Arabia dalam pengelolaan haji. Mengelola penyelengaraan ibadah haji dengan peserta jutaan orang itu tentu tidak sederhana, dan sejauh ini Saudi telah menunjukkan dedikasinya kalau mereka cukup mampu kendati tetap saja ada kekurangan di sana-sini.

Media elektronik dan online, terutama media-media yang selama ini kontra-narasi dengan Saudi, menyerang habis-habisan negara petro dollar tersebut dalam tragedi ini. Saudi dianggap tidak becus mengurus haji. Ini seperti dilakukan media al-Diyar yang berkedudukan di Lebanon dan juga sebagian besar media Iran. Saudi dalam kasus ini benar-benar menjadi pesakitan.

Tentu saja opini yang dipublikasikan oleh media-media partisan itu unfair, apalagi setelah otoritas setempat tegas membantah berbagai tudingan yang dialamatkan kepada Pemerintah Saudi Arabia. Termasuk membantah tudingan bahwa penyebab tragedi Mina karena ulah Putra Mahkota Kerajaan Saudi yang disebut-sebut pada hari kejadian sedang berkonvoi melintasi jalur jamarat.

Di sini ingin saya katakan ada persoalan yang agaknya serius menggerogoti perilaku sosial media kita sehingga ia membentuk pola interaksi dan komunikasi yang rasa-rasanya tidak lagi mencerminkan satu perilaku sosial normal yang mesti bisa selalu ditolelir.

‎Ketidakcakapan dalam berkomunikasi, atau tegasnya dalam bersosial media yang diperlihatkan media mainstream tak terkecuali akun-akun personal, ini terkesan melabrak tatanan beretika di ruang maya (netiquette).

Sekiranya pengguna sosial media - termasuk users pesan data di smartphone- ‎ memiliki kepekaan psikologi komunikasi, maka berita-berita yang lebih tepat disebut stigma tidak perlu disebarkan. Artinya, terlalu sayang waktu terbuang untuk sesuatu yang tak bermanfaat.

Tapi, tentu saja, soal Mina kita tetap tidak menutup mata atas musibah tragis yang menimpa ‎seribu lebih jamaah haji itu. Dalam hal ini Arab Saudi didesak untuk segera mengungkap dan menyelesaikan masalah ini dengan tanggungjawab yang tinggi seperti yang telah ditunjukkannya selama ini.

Tulisan ini barangkali terlalu luas dan melebar kemana-mana. Saya ingin simpulkan saja bahwa menjadi anggota atau pengguna dalam sebuah interaksi ‎sosial di dunia maya adalah sesuatu yang tidak sederhana. Karena sekali saja kita menyebarkan (share/forward) informasi, maka disitu dituntut ada keabsahan dan tanggungjawab.

Mari mari menjadi pengguna media sosial yang cerdas dan cakap dalam menelaah wacana media yang berhamburan dimana-mana. Jangan gegabah. Tidak pula terburu-buru. Teliti dan pastikan tervalidasi, sebelum menyebarkan!

_________
URGEN BUDIMAN, penulis adalah peminat masalah sosial dan tinggal di Sektor Stalkuda, Balikpapan.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.