News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Inilah Kiat Investasi Pendidikan Anak di Luar Negeri

Inilah Kiat Investasi Pendidikan Anak di Luar Negeri

KIPIKONLINE - Tidak bisa kita mungkiri karena tekanan inflasi biaya kebutuhan hidup dari tahun ke tahun pasti mengalami peningkatan, termasuk biaya pendidikan. Besar atau kecilnya biaya pendidikan juga bergantung dari kualitas sekolah atau universitas yang akan dipilih.

Walaupun sekolah dan universitas di Indonesia terus mengalami peningkatan dari segi kualitas, namun tidak sedikit orangtua yang memiliki impian dapat menyekolahkan anaknya di luar negeri, terutama di negara maju seperti Arab Saudi, Amerika Serikat, Australia, Singapura, Inggris, dan negara maju lainnya.

Selain kualitas pendidikan yang maju, pergaulan multikultural diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan dan pergaulan anak di dunia global yang dengan perkembangan internet yang demikian pesat membuat dunia makin terkoneksi dan seakan tidak ada batasan lagi.

Namun demikian, selain biaya pendidikan yang lebih tinggi, biaya hidup di negara maju juga berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan negara kita. Contohnya untuk biaya kuliah dan biaya hidup di Australia selama 4 tahun membutuhkan paling tidak sebesar  AUD 250.000 atau setara dengan lebih kurang Rp 2,5 miliar apabila dinilai dengan kurs saat ini, atau bahkan bisa lebih besar mengingat belum termasuk biaya tiket pesawat anak beserta orangtua setiap tahunnya.

Biaya tersebut menjadi semakin besar apabila pilihan negaranya adalah di Amerika Serikat atau Inggris. Belum lagi adanya laju inflasi setiap tahunnya yang menyebabkan peningkatan baik biaya pendidikan dan biaya hidup di negara manapun di dunia.

Di sinilah peran orangtua untuk memastikan kecukupan biayanya menjadi sangat penting, peran tersebut dapat terpenuhi apabila orangtua memiliki strategi investasi yang tepat sebagai modal untuk mengirimkan anak sekolah atau kuliah di luar negeri.

Banyak sekali jenis investasi yang dapat dipertimbangkan, namun untuk mencapai target tersebut di atas, ada beberapa pilihan instrumen investasi yang tepat, di antaranya asuransi pendidikan, investasi saham blue chip di pasar modal, investasi logam mulia (bukan perhiasan), dan investasi properti.

Pertanyaannya adalah kapan saat yang tepat untuk memulai strategi investasi tersebut? Jawabannya tentunya sesegera mungkin dan idealnya adalah sekitar 10-12 tahun sebelum target keberangkatan anak tersebut.

Misalkan kita berencana mengirimkan anak untuk kuliah di luar negeri, di mana pada umumnya anak mulai masuk usia kuliah adalah sekitar umur 17 tahun. Sehingga waktu yang ideal untuk mulai berinvestasi untuk dana pendidikannya adalah pada saat anak tersebut berumur sekitar 5-7 tahun.

Semakin dewasa umur anak tersebut, tentunya strategi investasinya menjadi perlu lebih agresif. Dalam hal ini, instrumen investasi yang paling tepat untuk mencapai tujuan tersebut adalah properti, dikarenakan selain properti kebal inflasi, namun juga dapat memberikan imbal hasil apabila disewakan.

Secara rata-rata dan dalam kondisi ekonomi normal, sebuah properti dapat mengalami apresiasi harga sebesar tiga kali dari nilai inflasi berjalan.

Misalkan inflasi tahunan sebuah negara adalah 5 persen, maka rata-rata apresiasi harga properti tersebut adalah 3x5 persen atau setara dengan 15 persen.

Apresiasi harga tersebut menjadi semakin tinggi apabila terjadi kekurangan pasokan di mana antara supply dan demand lebih tinggi demand, hal itulah yang terjadi saat booming properti kedua terjadi di kota-kota besar di Indonesia pada tahun 2009-2013. Dan siklus tersebut umumnya terulang setiap beberapa tahun sekali.

Sebagai ilustrasi, misalkan Bapak Abdullah berumur 38 tahun dan bermaksud membeli properti senilai Rp 2,5 miliar dengan menggunakan KPR bank selama 10 tahun, maka dengan uang muka sebesar 30 persen dan suku bunga bank saat ini, uang muka dan biaya-biaya bank yang perlu dibayarkan adalah sekitar Rp 800 juta, sedangkan cicilan KPR per bulan Pak Abdullah adalah sekitar Rp 25 juta.
       
Maka dengan asumsi inflasi seperti  tersebut di atas, dalam waktu 10 tahun saat cicilan KPR rumah tersebut lunas, nilai properti Bapak Abdullah meningkat sebesar lebih kurang empat kali lipat dari nilai pembelian awalnya. Belum lagi apabila rumah tersebut bukan rumah tinggal utama dan disewakan, maka setiap tahunnya Bapak Abdullah mendapatkan tambahan imbal hasil sewa sekitar 2,5-3 persen.
   
Lebih ideal lagi apabila investasi properti tersebut dikombinasikan dengan jenis investasi lainnya seperti asuransi pendidikan dan asuransi jiwa untuk memastikan cicilan yang perlu dibayarkan setiap bulannya dapat tetap dilakukan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan kepada orangtua anak tersebut.
   
Kombinasi jenis investasi tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan kita, sehingga diharapkan strategi investasi tersebut dapat memenuhi impian orangtua untuk mengirimkan anaknya kuliah di luar negeri guna menghasilkan generasi masa depan yang lebih berkualitas, memiliki daya saing global dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan kepada negara.

Sumber: Kaltim Post

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.