Hilang di Kalabendu

BANYAK orang hilang. Alasannya memburu harta juga surga. Itu terjadi pada orangtua dan kaum muda, tidak membedakan laki atau wanita. Ini pertanda Zaman Kalabendu tiba. Zaman keresahan.

Kabar orang hilang makin banyak saja. Diawali gadis-gadis yang hilang dibawa lari lelaki yang mengenalnya melalui internet. Kenal, saling merayu, 'kopi darat' dan wes ewes-ewes bablas prawane.

Tahap berikutnya yang terdampak euphoria digitalisasi adalah keluarga. Tidak hanya anak-anak muda, tetapi merambah area panutan, orangtua. Bapak dan ibu yang 'dangkal' pemahaman spiritualisme-nya, punya khayalan-khayalan tentang hari depan bahagia, sejahtera dan masuk surga mulai terprovokasi.

Akibat itu, gelombang 'ilang' berikutnya adalah para orangtua. Kepala keluarga memboyong anak dan istri bergabung kelompok radikal mencari surga. Disusul istri 'pamit' suami untuk mengikuti jalan menuju nirwana. Diikuti suami, gadis, perjaka berbondong-bondong menuju ke jalan yang salah.

Kita menangis melihat banyak kepala keluarga dangkal memaknai bahagia, sejahtera dan surga. Terasa getir mendengar anak-anak yang belum mengerti ikut dilibatkan dalam kegiatan 'petualangan spiritualisme' yang dilakukan bapak dan ibunya. Dan sangat mengerikan tatkala membaca pengalaman seorang wanita Prancis yang mengajak anaknya gabung ISIS dan berhasil kabur.

Orang-orang resah itu telah salah memilih jalur. Keresahan itu tidak diurai dari untaiannya, dan enggan jibaku menyembuhkan keresahannya. Seakan segala keresahan itu selesai dengan mengeksploitasi melalui jalur keyakinan. Mata hati tertutup?

Jangka Jayabaya memberi ruang untuk membuka futurisme sebuah zaman. Sebagai bahasa lambang, Jangka Jayabaya Musarar sudah menyebut semua itu bakal terjadi. Wanita kelak kehilangan kesusilaan, laki-laki kehilangan watak kaprawiran. Kendang (irama rakyat) ditabuh sisih (sebelah) hingga tidak ada harmoni. Jadilah penipu menjelma kiai, karena kiai-nya sendiri kehilangan 'sabuk tanah'. Kehilangan keberanian bilang benar itu benar, karena kebenaran tidak punya celah untuk ditransaksikan.

Zaman Kalabendu ini disimbolkan sebagai Gajah Meta Semune Tengu Lelaki. Setiap kebesaran yang 'seakan-akan bersih' itu diwataki ksatria yang gatal akibat tungau. Akibat binatang kecil yang gatalnya minta ampun dan sulit diidentifikasi. Itu artinya, orang-orang besar negeri ini belum bisa dijadikan panutan karena masih punya kekenesan dan punya problem dengan dirinya masing-masing.

Dan jika pupuh ini ditulis dalam langgam sinom, itu bukan tanpa alasan. Sinom mengusung simbol isih enom, masih muda. Masa remaja yang beringas, liar, bergas dan ganas. Dengan begitu, era keresahan ini masih akan berlangsung lama sebelum terjadinya porgatorio, istilah Dante Alighieri dalam Devina Comedia, atau Kalatida dalam bahasa pujangga Ronggowarsito.

Zaman seperti ini juga diikuti dengan banyaknya kejadian aneh. Gejolak alam yang sulit diprediksi, binatang kecil berubah menjadi monster yang mematikan, dan acap terjadi gerhana. Siklus tidak beraturan itu menopang meningginya tingkat keresahan yang melanda umat manusia.
Jika Zaman Kalabendu (keresahan) ini masih berlangsung lama, Ronggowarsito memberi wasiat, harus selalu eling lan waspodo. Harus selalu ingat dan waspada, karena yang ingat dan waspada itu yang begja (beruntung).

Dan agar eling lan waspodo itu terjaga, Mangkunegara IV memberi nasehat, bahwa ngelmu kuwi kanthi laku. Orang yang berilmu itu tidak yang banyak omong soal kebaikan, namun orang yang tanpa omong tetapi selalu berbuat baik. Orang-orang banyak omong kebaikan itulah yang sekarang terbukti membawa orang-orang lain menuju kesesatan. Menuju pada penderitaan lahir dan batin bagi yang termakan ucapan baiknya tanpa melihat perbuatan baiknya.

Tapi adakah Jangka Jayabaya memberi jawaban tentang zaman ke depan? Ternyata ada. Jawabannya adalah Ratu Amisan, lahir di Mekkah kelak menjadi pemimpin di Tanah Jawa. Berhasil membawa kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan Nusantara.

Arab? Ingat, bahasa dalam Jangka Jayabaya bukanlah denotatif. Ini bahasa konotatif, yang maknanya sama dengan piwulang-piwulang luhur nenek moyang bangsa ini. Pemimpin ke depan itu agamis, luhur budi, dan menghargai tradisi.

__________
*) DJOKO SUUD SUKAHAR, penulis adalah pemerhati sosial budaya, tinggal di Jakarta. Artikel dipublikasikan pertama di Detikcom, Senin 18 Januari 2016.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel