Market-Confidence Runtuhkan Teror

"WE cannot let the terrorist achieve the objective of frightening our nation to the point where we don’t conduct business or people don’t shop.” (George W Bush, 11 Oktober 2001)

Sebulan pascaserangan teroris 9/11, Presiden Amerika Serikat George W Bush di White House menyerukan agar masyarakat Amerika Serikat tetap melakukan kegiatan sehari- hari, termasuk aktivitas bisnis dan berbelanja.

Dua sektor ekonomi, aktivitas bisnis (supply side) dan berbelanja (demand side), dicoba untuk diselamatkan dari dampak teror. Pemerintahan George Bush saat itu sangat mengkhawatirkan dampak ketakutan akibat aksi terorisme pascaserangan teroris 9/11 menjelma menjadi krisis ekonomi yang cukup dalam.

Ini lantaran fasilitas produksi tak berjalan seiring masyarakat Amerika Serikat yang tidak berbelanja. Imbauan tersebut disampaikan agar toko ritel tetap laku, pabrik tetap berjalan, dan mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berpotensi membawa ekonomi masuk ke jurang resesi.

Terhentinya aktivitas ekonomi akan menjadi pukulan berat setelah keamanan terkoyak akibat aksi terorisme di Amerika Serikat. Aksi teror di Jakarta pekan lalu, tepatnya Kamis (14/1), juga berpotensi menciptakan situasi seperti yang dikhawatirkan pemerintahan George Bush. Terlebih aksi teror dilakukan di jantung pusat administrasi dan bisnis Jakarta dengan radius tidak lebih 1 km dari Istana Negara. Harapan teroris aksi ini akan meruntuhkan rasa aman dan memunculkan situasi chaos.

Menghadapi risiko potensi munculnya hal ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) di sela kunjungan kerja ke Kabupaten Cirebon merespons dengan menyerukan agar “Kita tak boleh takut dan kalah dengan aksi teror ini”.

Selain itu, imbuan dan seruan agar masyarakat tetap tenang dan memastikan situasi terkendali juga menjadi pesan penting yang disampaikan pemerintah untuk menghindarkan munculnya kepanikan dan ketakutan masyarakat. Kita perlu bersyukur, masyarakat Indonesia bersatu-padu melawan aksi terorisme di kawasan Thamrin, Kamis (14/1).

Di media sosial hastag seperti #KamiTidakTakut, #PrayForJakarta, #Jakartaberani, #JakartaAman menjadi sarana ekspresi menyuarakan bentuk perlawanan dan solidaritas mengutuk aksis terorisme. Saat aksi teroris, banyak masyarakat Jakarta yang berkumpul di lokasi tanpa rasa takut untuk melihat dan menyaksikan aksi baku-tembak antara teroris dan kepolisian.

Skenario terorisme untuk meruntuhkan keamanan dan ketertiban guna menciptakan kepanikan, ketakutan, dan chaos di pasar dan masyarakat gagal total. Selang sehari pasca-aksi teror, aktivitas ekonomi dan masyarakat bahkan berjalan secara normal dan pulih di kawasan Sarinah dan Thamrin. Kemarin kawasan Thamrin juga ramai dengan aktivitas car free day dan olahraga masyarakat. Tidak terlihat sama sekali masyarakat trauma akibat aksi teror tersebut.

Pada umumnya setiap aksi terortidakhanyaberdampaksaat serangan, tetapi justru kondisi chaos, ketakutan, serta trauma masyarakat dan tidak hadirnya stabilitas pasca-aksi teror yang perlu diantisipasi. Aksi terorisme tidak hanya menyerang rasa aman dan tenteram, tetapi juga berpotensi menghentikan aktivitas ekonomi akibat ketakutan dan kekhawatiran para pelaku ekonomi.

Takutnya pelaku ekonomi untuk investasi, berdagang, bekerja, dan berkonsumsi akan menciptakan spiral negatif bagi perekonomian. Akibatnya, ekonomi tidak berjalan, konsumen mengurangi pembelian, stok barang menumpuk, pabrik tutup, PHK, kemiskinan meningkat, masalah sosial tinggi, dan distabilitas sempurna akan terjadi. Selain penanganan dan pengusutan pihak yang bertanggung jawab terhadap aksi teror, kecepatan merehabilitasi kondisi pasca-aksi teror menjadi kunci pemulihan ekonomi.

Baik pemerintah maupun masyarakat saat ini sepertinya telah belajar banyak dari serangkaian kasus aksi teror di Tanah Air. Kecepatan penanganan serta pentingnya menjaga rasa aman di masyarakat adalah hal penting saat ada aksi teror. Bila kita menengok ke belakang, sejumlah aksi teror mulai dari Bom Bali I dan II, Bom JW Marriott dan Bom Kedutaan Australia saat itu tidak hanya memorak-porandakan rasa aman masyarakat, melainkan juga memukul sektor pariwisata dan investasi di Tanah Air.

Adanya travel-warning, meningkatnya risiko doing-business, batalnya investasi, turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG), dan tertekannya nilai tukar rupiah merupakan rentetan risiko ekonomi pasca-aksi teror masa lalu. Dari pelajaran memitigasi imbas aksi teror masa lalu, agar tidak terlalu berpengaruh ke sektor ekonomi, keyakinan pasar (market-confidence) perlu segera direhabilitasi dan dipulihkan.

Selain imbauan dan seruan kepala negara, kecepatan pihak berwenang dan pemerintah untuk mengusut teror tersebut, menjadi kunci penting pulihnya rasa aman di antara pelaku pasar. Sepertinya keyakinan para pelaku pasar atas situasi keamanan yang terjaga dan terkendali di Indonesia sangat tinggi. Hal ini tercermin pada pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah yang relatif terjaga pada perdagangan Kamis-Jumat pekan lalu.

Meski pada perdagangan Jumat (15/1) melemah terhadap dolar Amerika Serikat, kurs rupiah tetap terjaga di bawah Rp14.000 per dolar Amerika Serikat. Begitu juga dengan IHSG yang ditutup menguat 10,79 poin atau 0,23% dan berada di level 4.523,97. Kita perlu bersyukur, tidak ada gejolak yang berarti dari pergerakan nilai tukar rupiah dan IHSG. Ini mencerminkan keyakinan pelaku pasar akan terjaganya keamanan dan ketertiban nasional sangat tinggi.

Bank Indonesia juga menunjukkan optimisme dan keyakinan bahwa ekonomi nasional tidak akan terganggu akibat aksi teror dengan menurunkan BI Rate 25 basis poin pada Kamis pekan lalu. Di sektor riil juga praktis tidak ada pengaruh yang cukup berarti dari aksi teror tersebut. Hanya aktivitas di sejumlah perkantoran di kawasan Thamrin yang terganggu pada Kamis (14/1), namun secara keseluruhan situasi di Jakarta aman terkendali.

Kalau kita lihat situasi secara umum, teror di Thamrin tidak menciptakan kepanikan, ketakutan, dan kekhawatiran yang berarti di banyak daerah. Fungsi ekonomi seperti pabrik, pasar, pekerja, pedagang, petani, nelayan, dan fungsi-fungsi pelayanan publik berjalan secara normal dan tidak terganggu dengan aksi teror di Jakarta. Dengan kata lain, perekonomian nasional terjaga.

Pelaku pasar dan ekonomi menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa ada rasa takut dan cemas seperti yang diinginkan oleh teroris. Meski begitu, kita tidak boleh lengah. Terlebih aksi terorisme saat ini berpotensi terintegrasi dan terkoordinasi dengan jaringan terorisme internasional baik secara langsung maupun tidak langsung. Pihak berwenang dan pemerintah perlu terus memonitor, mengantisipasi, serta melakukan tindakan-tindakan pencegahan munculnya aksi teror masa mendatang.

Ini karena sebaik-baiknya penanganan aksi teror, tindakan pencegahan merupakan langkah yang terbaik. Dengan demikian, tidak hanya keamanan dan stabilitas nasional yang terjaga, tetapi kita juga dapat fokus kembali meningkatkan daya saing dan daya tahan nasional untuk mewujudkan target-target pembangunan nasional.

_________
*) FIRMANZAH, penulis adalah Rektor Universitas Paramadina; Guru Besar FEB Universitas Indonesia. Artikel ini dipublikasikan pertama kali di harian KORAN SINDO, 18 Januari 2016.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel