Mengamankan Blok Mahakam

SEBAGAI perusahaan energi nasional, PT Pertamina (Persero) menjelang akhir Desember 2015 mencatatkan sebuah milestone. Melalui afiliasinya, PT Pertamina Hulu Mahakam, telah ditandatangani kontrak kerja sama (KKS) pengelolaan wilayah kerja (WK) Blok Mahakam.

Ini bukan hanya menjadi pencapaian Pertamina, tapi juga prestasi seluruh bangsa Indonesia. Mengapa dikatakan sebagai sebuah milestone? Karena dengan penandatanganan ini berarti kepastian alih kelola Blok Mahakam telah selangkah lebih maju dalam suatu proses diskusi yang telah berjalan sejak awal tahun 2000an.

Dengan ditandatanganinya KKS ini, Pertamina sudah ink on paper mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk mengelola wilayah kerja migas di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dan dapat segera memulai segala kegiatan persiapan untuk menjadi operator selama 20 tahun, yaitu dari 1 Januari 2018 sampai 31 Desember 2038.

Mendapatkan Blok Mahakam adalah melewati perjuangan yang panjang. Namun, akhirnya Pertamina berhasil meyakinkan penentu kebijakan sebagaimana keputusan pemerintah melalui Menteri ESDM pada 14 April 2015 di mana Pertamina ditunjuk untuk mengelola Blok Mahakam. Pemerintah mempercayakan 100% participating interest (PI) kepada Pertamina.

Selanjutnya, Pertamina dapat bermitra dengan kontraktor saat ini, yaitu Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation dengan total pengalihan PI maksimal 30% berdasarkan prinsip kelaziman bisnis (business-to-business). Masuknya Blok Mahakam dalam portofio Pertamina adalah sesuatu yang cukup penting karena pada 2018 blok ini diharapkan akan masih berproduksi sekitar 800 juta kaki kubik (MMSCFD) atau 0,8 BCFD hingga 1 BCFD yang merupakan suatu jumlah yang signifikan.

Terlebih lagi, berdasarkan analisa data yang diperoleh, Pertamina mengidentifikasi sejumlah potensi untuk meningkatkan produksi di Blok Mahakam, baik melalui pekerjaan pengembangan lapangan yang ada dengan menerapkan teknologi konvensional, maupun dengan pendekatan yang berbeda dan juga dengan mengeksplorasi sejumlah prospek yang diidentifikasi.

Duduk Bersama

Sebelum penandatanganan pengelolaan Blok Mahakam, Pertamina, Total, dan Inpex pada 16 Desember 2015 menandatangani Heads of Agreement (HoA). Ini adalah kesepakatan bahwa ketiga pihak akan duduk bersama untuk mendiskusikan alih kelola Blok Mahakam, sedemikian rupa sehingga sesedikit mungkin mempengaruhi penurunan produksinya.

Secara garis besar, terdapat dua kesepakatan penting yang akan dihasilkan dari pembicaraan ketiga pihak ini, yaitu transfer agreement dan commercial agreement. Keberadaan transfer agreement adalah untuk menjamin terjadinya peralihan operatorship yang baik dan memungkinkan upaya mempertahankan kelanjutan operasi selama masa transisi dari kontraktor existing kepada Pertamina.

Dalam kesepakatan ini termasuk proses pengalihan pekerja Total menjadi pekerja Pertamina dan penyiapan anggaran, rencana kerja, serta perizinan yang dibutuhkan untuk operasi Blok Mahakam. Pertamina harus bergegas karena ada banyak sekali detail yang harus ditangani bahkan dari sekarang. Banyak peralatan yang memerlukan perpanjangan izin sertifikasi membutuhkan inspeksi dan validasi.

Proses ini bisa memakan waktu beberapa bulan. Mungkin dari hasil inspeksi ada rekomendasi harus diperbaiki sebelum digunakan, berarti dibutuhkan waktu lebih lama hingga setahun. Hal-hal seperti itulah yang membuat persiapan pengelolaan Blok Mahakam arus dilaksanakan sedini mungkin. Kondisi pipa-pipa yang menghubungkan lapanganlapangan dengan fasilitas produksi, adalah contoh lain.

Berdasarkan inspeksi yang dilakukan Total sebagai operator, dapat mengidentifikasi adanya pipa-pipa yang sudah menipis dan misalnya, masa amanpakainya tinggal satu tahun. Saat harus dilakukan pergantian pipa di akhir 2017, saat mana merupakan masa pindah pengelolaan ke Pertamina, siapa yang harus mengerjakan penggantian pipa tersebut?

Seandainya dari awal sudah disebutkan harus dikerjakan Pertamina pada awal 2018, artinya Pertamina harus mengetahui jenis pekerjaannya, mana saja pipa yang diganti, siapa kontraktor yang mengerjakannya, apakah perbaikan tersebut bisa dilakukan saat gas mengalir dan sebagainya. Supaya produksinya berkelanjutan, Pertamina harus sesegera mungkin melanjutkan pekerjaan yang dilakukan Total.

Pertamina mampu melakukannya karena sudah memiliki pengalaman yang baik saat pengambilalihan WK Offshore North West Java (ONWJ) dan Blok West Madura Offshore (WMO) bahkan mampu meningkatkan produksinya. Produksi Blok WMO sempat turun menjadi 7.500 BOPD ketika masih dikelola Kodeco, menjelang terminasi masa Kontrak Kerja Sama (KKS) pada 2010-2011.

Namun, pasca terminasi Mei 2011, saat blok tersebut ditangani Pertamina produksinya naik hingga 20.000 BOPD, bahkan pernah meraih produksi harian sebesar 24.000 BOPD pada akhir Juli 2013. Sementara produksi ONWJ hingga akhir 2015 diproyeksikan mampu mencapai tingkat produksi minyak 40 ribu barel per hari (bph) dan produksi gas sebesar 178 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Di saat yang sama, akan didiskusikan kemungkinan sharedown Blok Mahakam maksimal 30% pada Total dan Inpex sesuai surat Menteri ESDM. Pada prinsipnya, dalam commercial agreement ini kontrak yang baru nanti harus memberikan keuntungan bagi negara sekaligus memberikan ruang bagi Pertamina untuk dapat tumbuh berkembang lebih cepat di bisnis hulu.

Akankah Total dan Inpex masih akan ikut berpartisipasi sebagai partner di Blok Mahakam setelah 2017? Keputusannya akan bergantung pada pertimbangan dan perhitungan keekonomian dan bisnis berdasarkan terms dalam PSC Mahakam yang baru. Seandainya akhirnya mereka memutuskan untuk tetap ikut berpartisipasi dalam Blok Mahakam sebagai partner, maka proses peralihan pengelolaan Blok Mahakam dapat diharapkan lebih seamless, lebih smooth.

Ada pihak yang berpendapat bahwa porsi 30% untuk Total dan Inpex secara keekonomian adalah kecil dan tidak justified. Ini adalah masalah persepsi dari sudut pandang yang berbeda. Apabila dibandingkan dengan kondisi saat ini, di mana masing-masing Total dan Inpex mendapatkan bagian 50%, tentu saja perolehan masing-masing 15% menjadi relatif lebih kecil.

Namun, secara kontrak, per Januari 2018, seharusnya kepemilikan Total dan Inpex akan menjadi nol persen. Mendapatkan masing-masing 15% dari nol persen, tentu sudah merupakan ukuran yang cukup besar, terlebih mengingat bahwa adanya produksi yang masih berjalan setelah 2017.

Sebaliknya, seandainya berdasarkan pertimbangan bisnis, pada akhirnya Total dan Inpex memutuskan untuk tidak melanjutkan partisipasi di Blok Mahakam setelah kontraknya berakhir di 2017, maka tantangan untuk semua pihak adalah bagaimana menjaga agar dampak dari alih kelola ini seminim mungkin pada penurunan produksi, dengan tetap menghormati kontrak PSC existing, dan dengan tetap melaksanakan tanggung jawab sebagai operator yang prudent dan bertanggung jawab.

Meyakinkan Publik

Tugas Pertamina kemudian adalah meyakinkan kepada publik bahwa Pertamina telah dan akan terus bekerja sebaikbaiknya dalam proses perpindahan tangan Blok Mahakam ini. Pertamina yakin akan dapat melaksanakan tanggung jawab berat ini, antara lain karena sumber daya manusia yang mengerjakan Blok Mahakam nanti adalah orang-orang yang saat ini sudah bekerja di sana.

Dalam kondisi ini, Pertamina sudah siap untuk berinvestasi, tapi sebelum 2018 secara legal hal ini tidak dapat dilakukan. Sebagai institusi yang menaati hukum, Pertamina tidak dapat dan tidak akan melanggar kontrak yang berlaku saat ini. Kalau sampai Total dan Inpex tidak melanjutkan partisipasi mereka di Blok Mahakam, dan itu tidak mustahil dengan harga minyak dan gas yang jatuh seperti saat ini, penurunan produksi merupakan konsekuensi logis yang akan terjadi.

Adalah tugas Pertamina sebagai operator yang melanjutkan pengoperasian Blok Mahakam yang harus bekerja keras mengembalikan sesegera mungkin tingkat produksi Blok Mahakam. Mungkin muncul pertanyaan, berapa investasi yang dibutuhkan mengamankan produksi di Blok Mahakam? Sebagai perbandingan, Total setiap tahun menginvestasikan sekitar US$2 miliar untuk Blok Mahakam.

Perkiraan investasi yang dilakukan Pertamina berada dalam kisaran angka itu. Bagi Pertamina yang sudah meningkatkan investasi hulu sampai US$5 miliar pada 2016 dalam mengembangkan asset-asetnya, tambahan investasi untuk Mahakam ini bukanlah hal yang luar biasa.

Dengan produksi existing di Blok Mahakam dan potensi peningkatannya, mengoperasikan blok ini merupakan tantangan yang menarik untuk Pertamina dalam menggapai cita-citanya untuk menjadi world class energy company.

____________
*) AUSSIE B GAUTAMA, penulis adalah pengamat Migas; Mantan Deputi SKK Migas. Artikel ini dipublikasikan pertama kali di harian KORAN SINDO, 19 Januari 2016.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel