Strategi Baru NIIS

KALAU serangan teroris di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1) kemarin, benar-benar dilakukan oleh kelompok yang memiliki hubungan dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), sungguh, ini sebuah "lonceng" tanda bahaya yang demikian keras.

Serangan itu juga menjelaskan bahwa NIIS semakin mempertegas strategi barunya: "keluar kandang". Mereka berhasil "menghancurkan hambatan psikologis", mengutip pendapat Mathieu Guidère, ahli terorisme dari Universitas Toulouse, Perancis.

Komentar Mathieu Guidère itu disampaikan setelah serangan Paris, akhir tahun lalu, yang menewaskan 132 orang. Aksi keluar kandang itu dilakukan NIIS atau kelompok yang berafiliasi dengan NIIS dimulai pertengahan tahun lalu.

Pada bulan Juni, mereka mengumbar aksi teror di Sousse, Tunisia, menewaskan 40 orang dan melukai 39 orang lainnya. Lima bulan kemudian, November, mereka beraksi lagi di Tunisia, menewaskan 13 orang.

Masih pada bulan November, mereka mengklaim sebagai yang bertanggung jawab atas peledakan pesawat Airbus A321 milik Rusia yang berpenumpang 224 orang. Pesawat meledak dan jatuh di Sinai.

Pada November pula, pelaku peledakan bom bunuh diri NIIS beraksi di Lebanon, menewaskan 43 orang dan melukai 239 orang lainnya. Lalu, juga pada bulan November, mereka beraksi di Paris.

Aksi mereka tidak berhenti di sini. Setelah meneror Paris, mereka beraksi di Ankara, Turki, pada Oktober dan menewaskan sekitar 100 orang. Beberapa hari lalu, kelompok yang berbendera NIIS beraksi di Istanbul, Turki, menewaskan 10 orang dan melukai 15 orang lainnya. Kemarin, mereka beraksi di Jakarta! Di Jakarta!

Rangkaian serangan mematikan, yang oleh Kanselir Jerman Angela Merkel disebut "telah menunjukkan wajah tidak manusiawi dan kekejamannya", terorisme telah membuka mata dan menyadarkan banyak pihak bahwa NIIS tidak hanya memfokuskan aksinya di Suriah dan Irak, sesuai namanya.

Mereka telah "keluar dari sarang". Mereka tidak lagi hanya bertindak di Suriah dan Irak, sesuai dengan nama dan tujuannya semula. Tetapi, mereka bertindak dan beraksi di luar wilayah aslinya, layaknya di kota-kota di Suriah dan Irak.

Sebenarnya, sejak Juni 2014, NIIS sudah mulai mengubah dan memperluas fokusnya, yakni tidak hanya di Irak dan Suriah. Menurut Haleen Gambhir, analis dari Institute for the Study of War, NIIS fokus pada tiga trek paralel: pertama, mengobarkan konflik regional dengan melancarkan serangan di Irak dan Suriah; kedua, membangun hubungan dengan kelompok-kelompok jihadis yang dapat melancarkan operasi militer di seluruh Timur Tengah dan Afrika Utara (sekarang ditambah ke wilayah Asia; lebih khusus lagi ke Indonesia); serta ketiga, menginspirasi dan membantu kaum simpatisan NIIS melancarkan serangan di Barat.

Mengapa Indonesia? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Yang pasti, menurut Sidney Jones dan Solahudin dalam ISIS in Indonesia, banyak ekstremis Indonesia yang pergi ke Suriah dan bergabung dengan NIIS.

Pada akhir 2014, tercatat 100 orang Indonesia, kemungkinan lebih, dipercaya meninggalkan negeri untuk bertempur di Suriah, sebagian bersama istri dan anaknya. (Pada tahun 2015, bertambah banyak orang Indonesia yang pergi ke Suriah bergabung dengan NIIS; dan bahkan sudah pula yang kembali ke Indonesia). Ini mengulang apa yang terjadi pada pertengahan 1980-an dan 1990-an ketika banyak orang Indonesia pergi berlatih dan berperang di Afganistan (The Evolution of ISIS In Indonesia, IPAC Report, No 13).

Dengan demikian, dari fakta di atas, mereka yang kembali ke Indonesia telah membawa pulang pula misi NIIS di negeri ini. Kalau semula, NIIS ingin membangun sebuah negara di wilayah yang dulu di bawah kekuasaan Ottoman; menghapuskan batas-batas negara yang ditetapkan lewat perjanjian Sykes-Picot (1916) antara Perancis dan Inggris, sekarang mereka ingin memperluas pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia.

Upaya itu dilakukan lewat jalan teror, jalan kekejaman, jalan tidak manusiawi, dan jalan tidak berhati. Karena memang tidak mudah, bahkan mustahil, merealisasikan cita-cita mereka mendirikan negara di wilayah bekas Ottoman dengan menghapus negara-negara yang sudah ada, seperti Suriah, Iran, dan Lebanon. Tetapi, di sini pun, mereka tidak akan berhasil.

_____________
TRIAS KUNCAHYONO, penulis adalah Wakil Pemimpin Redaksi Kompas. Artikel ini dipublikasikan pertamakali di harian KOMPAS, 15 Januari 2016. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel