News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Inflasi Rendah dan Suku Bunga Negatif

Inflasi Rendah dan Suku Bunga Negatif

TULISAN saya di media ini yang berjudul ”Deflasi dan Nilai Tukar” (16/03/15) telah mengulas bahwa tren inflasi rendah akan tetap berlangsung di sejumlah kawasan, terutama Jepang dan Eropa.

Rendahnya inflasi atau bahkan deflasi telah membuat banyak otoritas, baik moneter maupun fiskal, merumuskan sejumlah kebijakan untuk membuat perekonomian keluar dari lingkaran setan (vicious circle ). Baru-baru ini dunia dikejutkan oleh keputusan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang menetapkan suku bunga acuan minus 0,1%. Dengan suku bunga negatif, pemegang deposito justru yang harus membayar ke perbankan.

Bukansebaliknyabilasukubungadi atas 0%, para penabung mendapatkan bunga dari dana yang ditempatkan di deposito. Keputusan penetapan suku bunga negatif BoJ menambah deretan bank sentral yang melakukan hal serupa setelah Bank Sentral Eropa (ECB) di Desember 2015 memangkas suku bunga acuan menjadi minus 0,3%.

Langkah ini ditempuh ECB agar perekonomian Eropa, terutama sector riil, lebih bergairah dan menghasilkan spiral positif bagi aktivitas bisnis serta peningkatan konsumsi di Eropa.

Jepang maupun Eropa memiliki tantangan untuk meningkatkan inflasi sebagai cerminan bergeraknya aktivitas bisnis. Rendahnya angka inflasi yang dialami Jepang dan Eropa menunjukkan lemahnya aktivitas perekonomian di kedua kawasan.

Pada Desember 2015, Jepang mencatatkan inflasi hanya 0,1%, jauh dari harapan bank sentral. Kondisi serupa dialami Eropa dengan inflasi sangat rendah terjadi dalam beberapa waktu terakhir, yang semakin menegaskan lesunya perekonomian mereka.

Baik BoJ maupun ECB berharap suku bunga negatif akan membantu tercapainya target inflasi di kisaran 2% tahun ini. Inflasi 2% merupakan cerminan kondisi yang optimal bagi ketersediaan dan penyerapan tenaga kerja, meningkatnya total output produksi serta indikasi optimum-capacity perekonomian Jepang dan Eropa.

Dalam kerangka inflation targeting, bank sentral biasanya memiliki target inflasi yang diharapkan dan kemudian mengarahkan kebijakan moneter untuk mencapai target inflasi tersebut. Suku bunga dinaikkan dan diturunkan mengikuti target inflasi yang diinginkan bank sentral.

Secara teoretis, rendahnya suku bunga atau bahkan suku bunga negatif seperti yang dilakukan BoJ dan ECB menjadi disinsentif bagi pemilik dana untuk menempatkan dananya di perbankan.

Alih-alih mendapatkan imbal hasil, pemilik dana justru harus membayar dan membuat nilai uang semakin turun. Harapan bank sentral, pemilik dana akan menarik dananya dari perbankan dan digunakan untuk membiayai investasi, modal kerja, dan konsumsi.

Sebelum BoJ dan ECB menerapkan suku bunga negatif, sebenarnya mereka telah memobilisasi paling tidak dua instrumen moneter, yaitu penetapan suku bunga rendah mendekati 0% dan pembelian aset-aset surat berharga (quantitative easing).

BoJ menggelontorkan tidak kurang dari USD660 miliar untuk membeli aset-aset surat berharga di pasar keuangan. ECB juga memiliki program serupa untuk pembelian obligasi senilai 1,5 triliun euro atau setara USD1,6 triliun.

Stimulus moneter ini dilakukan agar likuiditas di pasar keuangan meningkat dan membantu perusahaan melakukan ekspansi usaha. Dengan ekspansi usaha, target penyerapan tenaga kerja akan meningkat sehingga pendapatan dan daya beli masyarakat terjaga.

Daya beli masyarakat yang terjaga dan meningkat akan memberikan kepastian terhadap permintaan pasar dan berikutnya akan meningkatkan kepercayaan dunia usaha. Namun siklus positif di atas tidak terjadi seperti yang diharapkan kedua bank sentral. Ekonomi Jepang dan Eropa masih sulit keluar dari kelesuan, inflasi juga tidak beranjak mendekati target seperti yang diharapkan.

Hal inilah yang mendorong kedua bank sentral akhirnya melangkah lebih jauh dengan menetapkan suku bunga negatif untuk menambah stimulus yang selama ini sudah dilakukan. Sepertinya baik BoJ maupun ECB akan berusaha sekuat tenagauntuk mengeluarkan perekonomian mereka dari tekanan inflasi rendah dan lesunya dunia usaha. Rendahnya inflasi yang dialami Jepang dan Eropa telah membuat dunia usaha menunda investasi akibat tingginya risiko tidak terpenuhinya hasil usaha.

Tren rendahnya kenaikan harga di pasar domestik telah membuat dunia usaha baik di Jepang maupun Eropa menahan ekspansi usaha. Hal ini menjadi indikasi buruk bagi sektor riil, manufaktur, dan jasa di kedua kawasan tersebut.

Faktor eksternal di luar Jepang dan Eropa seperti rendahnya harga minyak mentah dunia, penurunan harga komoditas dunia serta melambatnya perekonomian China juga berkontribusi pada melambatnya perekonomian Jepang dan Eropa.

Meskipun berbeda jalur transmisinya, faktor-faktor tersebut membuat banyak perusahaan besar di Jepang dan Eropa menurunkan aktivitas usaha, menahan ekspansi, mengurangi kapasitas produksi, dan bahkan menghentikan sejumlah fasilitas produksi. Banyak perusahaan juga mengalami tekanan dari sisi pasar saham di mana jatuhnya pasar saham China juga memengaruhi investor global dan memberikan sentimen negatif di sejumlah pasar saham kawasan lain.

Kombinasi dari melemahnya permintaan dan volatilitas pasar keuangan membuat banyak perusahaan dalam posisi sulit di Jepang dan Eropa. Sentimen ini tidak hanya dialami perusahaan, tetapi pekerja dan rumah tangga juga terkena imbas. Dari sisi konsumen, sikap menahan untuk tidak membeli sampai situasi membaik semakin membuat situasi memburuk karena membuat permintaan di pasar domestik melemah.

Pelajaran dari Jepang dan Eropa adalah pentingnya Bank Indonesia (BI) maupun pemerintah untuk tetap menjaga confidence baik dunia usaha maupun konsumen rumah tangga. Risiko BI menempuh suku bunga negatif memang sangat kecil peluangnya untuk konteks Indonesia.

Selama ini Indonesia mengalami tren inflasi yang cukup tinggi sehingga tidak mungkin suku bunga menjadi negatif seperti yang dilakukan BoJ dan ECB. Namun tren inflasi rendah juga akan dialami Indonesia seiring dengan semakin rendahnya harga minyak mentah dunia.

Inflasi yang rendah akan memerikan ruang bagi BI untuk bisa menurunkan suku bunga acuan yang beberapa waktu lalu telah diturunkan sebesar 25 basis poin. Bagi pemerintah, tren rendahnya inflasi di satu sisi menjadi kabar baik, tetapi perlu terus diwaspadai.

Titik optimal inflasi harus tetap dijaga agar di satu sisi konsumen tidak tergerus daya belinya, tetapi dunia usaha tetap memiliki insentif akan imbal hasil investasi di sektor riil yang dilakukan.
_________
*) FIRMANZAH, penulis adalah Rektor Universitas Paramadina; Guru Besar FEB Universitas Indonesia. Artikel ini dipublikasikan pertama kali di harian KORAN SINDO, 01 Februari 2016.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.