Inikah Prediksi Nabi Muhammad tentang Media Sosial Terkait Hari Kiamat?

Foto: marketingland.com
PERKEMBANGAN zaman begitu cepat. Berbagai fitur teknologi bermunculan setiap detik. Ketergantungan manusia terhadapnya pun tampak tak terelakkan.

Salah satu yang hari ini tak terpisahkan dari interaksi umat manusia adalah media sosial. Yakni segala hal yang menghubungkan mereka kapan dan di mana saja melalui perangkat teknologi.

Tidak saja Facebook, Twitter, atau sejenisnya, media sosial adalah segala hal memungkinkan manusia saling terkoneksi. Dalam hal ini termasuk handphone, smartphone, tablet, iPad, dan lain-lain, adalah media sosial.

Media sosial sebagai kebutuhan untuk saling terkoneksi memang adalah keniscayaan perubahan zaman. Namun, semakin ke sini "gairah" yang berkembang di sana memperlihatkan suatu pola yang menarik.

Media sosial kini tidak lagi sebatas medium untuk saling terhubung tetapi telah menjelma menjadi mainstream percakapan umat manusia. Seraya dengan itu jutaan atau mungkin miliaran status ditulis setiap harinya.

Untuk Indonesia sendiri peningkatan penetrasi internet cukup mencengangkan. Menurut data terbaru dari We Are Social, dengan penetrasi 34 persen, kini pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta pengguna. 79 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial aktif.

Media Sosial dan Hari Kiamat

Segala hal yang menggiring perubahan besar dunia tak jarang bermula dari "percakapan" di media sosial.

Ada apa sebenarnya dengan media sosial?

Banyak pengertian dan defenisi yang mengemuka. Namun, tampaknya, masih sedikit yang mencoba merelasikannya dengan argumen keagamaan.

Sedikit diantaranya adalah pernyataan Nabi Muhammad SAW tentang maraknya tulis menulis. Di sebuah sabdanya, Nabi mengaitkan maraknya kegiatan tulis menulis dengan tanda dekatnya hari kiamat.

Dalam sabdanya Nabi Muhammad SAW pernah berkata:

“Sungguh, menjelang terjadinya Kiamat, akan ada pengucapan salam secara khusus (hanya diberikan kepada orang yang sudah dikenal, pen), perdagangan berkembang luas sampai-sampai seorang wanita membantu suaminya berdagang, hubungan rahim diputuskan, adanya kesaksian dusta, penyembunyian kesaksian yang benar, dan banyaknya tulis-menulis.” (HR Ahmad). 

Dari beberapa situasi yang disebutkan Nabi tersebut, kita hanya mencoba fokus memperhatikan poin terakhir yang disampaikan beliau yakni; banyaknya tulis menulis sebagai tanda menjelang terjadinya kiamat.

Dikutip pinopini.com dari buku "Fitnah dan Petaka Akhir Zaman" karya Abu Fatiah Al-Adnani dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjadi zuhurul-qalam adalah banyak dan tersebarluasnya tulis-menulis.

Memang tidak disebut secara eksplisit fenomena status media sosial sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai "banyaknya tulis menulis".

Namun, kalau kita boleh mengkontekstualisasi keterangan Nabi tersebut maka bisa jadi realita massifnya media sosial yang diiringi dengan hiruk pikuk status yang ditulis di sana adalah merupakan salah satu tanda kian dekatnya hari kiamat.  

Saya tidak mau membahas hadits ini terlalu jauh karena tidak memilliki kompetensi. Tapi yang penting bahwa sabda Nabi Muhammad SAW tersebut setidaknya menjadi bahan renungan bagi kita untuk selalu cermat membaca tanda-tanda zaman.

Tulis menulis akan terus berlanjut. Semakin gempita. Perang opini pun terus berlangsung. Yang tak bisa ditampik kemudian adalah biasnya antara haq dan yang batil. Manusia pun digiring menjadi terus kebingungan.

Maka, tanpa kecermatan dan perlindungan dari Dzat yang Maha Perkasa, mustahil rasanya kita bisa selamat dari beragam fitnah yang terus menyeruak. (BAHRI AMHAR)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel