Yuli Wulandari Wasit Basket Berlisensi Internasional Petisi Larangan Berjilbab

Foto: Channelbasket.com
WASIT wanita bola basket pertama dan satu-satunya yang berlisensi Internasional (FIBA) di Indonesia, Yuli Wulandari (29 tahun), mempetisi President FIBA, Horacio Muratore.

Petisi yang merupakan bagian dari pergerakan global yang diorganisasi oleh Indira Kaljo itu dilayangkan Yuli terkait dengan peraturan FIBA yang tidak memperbolehkan wasit dan juga pemain untuk menggunakan penutup kepala atau jilbab dengan alasan keamanan pertandingan.

Karena peraturan tersebut, mimpi Yuli Wulandari untuk dapat bertugas dan mewasiti event kompetisi basket internasional akhirnya kandas bahkan terhenti. Termasuk agenda Yuli yang dikabarkan akan ditugaskan memimpin laga pada event SEABA U-18 di Malaysia September mendatang.

Tentu saja ketentuan Federation Internationale de Basketball (FIBA) itu membuat Yuli Wulandari dan orang-orang yang telah mengambil keputusan untuk berhijab sangat terpukul.

"Bukan hanya saya saja yang tidak bisa melanjutkan mimpi di perbasketan Internasional ada sahabat saya, Raisa Aribatul adalah salah satu pemain terbaik yang dimiliki Indonesia juga tidak bisa bermain di ajang pertandingan bolabasket Internasional, selain itu ada Bilqis Abdul Qadir dan Indira Kaljo yang tidak bisa bermain basket di Luar Negeri karena aturan ini," tulis Yuli dalam petisinya di laman Change.org dikutip Pinopini.com, Kamis (28/07/2016).

"Saya Yuli Wulandari wasit bola basket meminta FIBA untuk menghapuskan larangan berjilbab dalam kancah perbasketan Internasional. Biarkan kami berprestasi dan bekerja dengan tetap melaksanakan kewajiban kami sebagai muslimah," tegasnya dalam petisi yang hingga artikel ini tayang telah ditandatangani 41.693 pendukung.

Yakin Untuk Berjilbab

Yuli Wulandari mulai menggunakan jilbab pada Maret 2016 lalu. Menurutnya, keputusan itu diambil setelah melalui proses hidup yang mengajarkannya tentang hal-hal luar biasa dalam hidup dan kesadarannya akan kewajiban seorang muslimah.

Perjalanan Yuli menjadi wasit internasional yang berlisensi sungguh tidak sederhana. Dia mengaku awalnya sering diragukan dan tidak dipercaya dalam bertugas menjadi seorang wasit di setiap pertandingan karena dirinya seorang wanita.

Sering diprotes. Bahkan tidak sedikit yang mencibir dikala memimpin sebuah pertandingan. Namun ia terus maju untuk meraih mimpinya menjadi wasit wanita bolabasket yang bertugas tidak hanya dalam sebuah pertandingan nasional tetapi juga di tingkat internasional bahkan dunia.

"Saya percaya tidak ada yang mustahil bagi saya selagi Allah menghendaki dan kita bekerja keras, disiplin, tekun, dan konsisten dalam menjalani apa yang kita lakukan. Seorang wanita juga bisa berprestasi, wanita juga bisa menjadi seorang wasit, dan wanita juga bisa meraih mimpi," tulis Yuli dalam petisinya.

Menjadi wasit berlisensi internasional (FIBA) bagi Yuli adalah salah satu mimpinya. Ia terus berusaha dan berjuang untuk mimpinya tersebut. Apalagi pada saat itu hanya Indonesia yang belum memiliki wasit wanita berlisensi Internasioal. Pada tahun 2014 mimpinya benar-benar menjadi kenyataan saat dirinya dinyatakan  berhasil dan lulus menjadi wasit FIBA dengan semua tes yang diberikan.

Yuli yang berasal dari kota kecil bernama Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat,  Provinsi Jambi, ini memulai karir wasit sejak tahun 2005. Tahun 2006 dia mendapatkan lisensi C, B2 tahun 2008, B1 nasional tahun 2010, A nasional tahun 2013, dan sukses meraih lisensi FIBA (internasional) tahun 2014. Ia telah malang melintang memimpin pertandingan dalam dan luar negeri.

Kisah Yuli Wulandari memberikan banyak pelajaran bahwa kerja keras dan konsistensi adalah kunci kesuksesan. Juga mengajarkan bahwa dalam hidup tantangan pasti selalu ada, namun bukan kemudian dihindari. Tetapi, harus dihadapi dengan tetap berharap pertolongan dari Dzat yang Maha Tinggi. (GLADIJOHN HAMMAD)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel