Ibadah Politik atau Politik Ibadah

POLITIK memang tidak linier dan tak pernah konkrit yang seringkali memantik kebingungan banyak orang. Ya, meminjam istilah Yusril Ihza Mahendra, "Semua pilihan politik tidak mudah dan berisiko".

Salah satu abstraksi politik yang membingungkan itu adalah tentang video orang berdoa yang belakangan ini marak digunjingkan.

Seperti diketahui, belakangan ini beredar video viral doa "panas" dan menggemparkan yang disampaikan anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Raden Muhammad Syafii.

Doa yang disebut-sebut bikin panas kepala itu dirapalkan Syafii saat penutupan Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2016-2017 dan Pidato Presiden RI dalam rangka Penyampaan RUU Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2017, Selasa, (16/08/2016).

Bukan salinan doanya yang menarik, melainkan respon yang kemudian muncul yang menarik dicermati.

Wajar jika ada yang memaknai doa yang dibacakan politisi ini sarat dengan muatan politis. Bait-bait yang disuarakan rasa-rasanya lebih terasa sebagai pidato politik yang dikemas dengan judul doa. Terlebih ini dibacakan oleh seorang anggota partai yang sedang beroposisi.

Namun, tentu tidak tepat juga kalau lekas berkesimpulan aksi pembacaan doa itu sebagai sebuah "konfrontasi" diametral. Wallahu 'alam. Dalamnya hati siapa tahu.

Tapi, jika benar adanya maksud tersebut maka tentu ini adalah hal yang menyedihkan. Politik sungguh sudah semakin liarnya. Semua moment -bahkan moment yang dianggap sakral sekalipun- menjadi panggung politik. Semoga tidak demikian.

Kita mungkin telah menyaksikan beberapa peristiwa menjelang Pilkada di beberapa tempat yang bersinggungan dengan bulan Ramadhan. Ketika jadwal ceramah tarawih di masjid masjid di-kavling oleh institusi keagamaan dengan naskah yang konon atas titah sang incumbment.

Atau pada kejadian lainnya, ketika khutbah Idul Fitri menjadi sesuatu yang mesti diseragamkan dengan naskah yang sama, juga atas titah incumbment.

Singkat kata, tidak usah bertepuk tangan untuk hal-hal yang demikian. Jangan sampai tumbuh menjadi budaya, lalu kita akan bingung sendiri untuk memilah, politikus kita ini sedang beribadah atau sedang berpolitik semata.

Mungkin saja, kerja-kerja politik bisa bernilai ibadah, tapi janganlah ibadah sekedar untuk kepentingan politik. (SYAMSUDDIN)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel