Inilah 4 Hal Bikin Kamu Selalu Rindu dengan Pesantren Hidayatullah

Kehangatan bersama Pangdam dan pengurus Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan (foto: Hidayatullah.or.id)

SEMUA hal selalu punya penanda tidak terkecuali manusia. Kalau setiap orang memiliki ciri khas yang membedakannya dengan lainnya, apalagi dengan wujud lain selain manusia.

Saudara kembar sekandung sekalipun, kendati secara fisik terlihat identik, belum tentu serupa dalam berbagai aspek lain misalnya soal karaktrer. Itulah keunikan kita. Keunikan manusia. Subhanallah.

Berbicara soal yang unik-unik nih, kamu yang pernah mengenal Pesantren Hidayatullah atau mungkin menjadi santrinya, pasti selalu rindu dengan 4 hal berikut yang dimiliki pesantren yang berpusat di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur ini.

Kamu yang mungkin belum kenal, Pesantren Hidayatullah adalah pondok pesantren yang berada di bawah naungan ormas Islam Hidayatullah.

Pesantren yang berdiri pada tahun 1973 oleh putra bangsa asal Sulawesi Selatan bernama Abdullah Said ini berpusat di “kota minyak” Balikpapan.

Pesantren ini telah memiliki cabang di  semua kabupaten/ kota di Kalimantan Timur dan telah berkedudukan di semua kota provinsi Borneo. Termasuk telah merambah semua kawasan di nusantara dari Sabang (Sumatera) hingga Merauke (Papua).

Nah, bagi kamu yang pernah nyantri di Pesantren Hidayatullah, hal berikut ini pasti selalu bikin kamu rindu ingin balik ke pondok dan tidak betah berlama-lama liburan di kampung.

Artikel ini lumayan panjang. Mudah-mudahan bisa sedikit mengurangsi rasa kangenmu pada masakan ibu dapur dan pesona santri putrinya yang selalu mampu “menggetarkan” asrama putra dari balik pagar nan menjulang.  

4. Kerja Bakti
Kerja bakti di Pesantren Hidayatullah Depok (foto: Hidayatullahdepok.org)


Kerja bakti telah menjadi kurikulum wajib bagi santri Pesantren Hidayatullah. Seorang santri senior pernah bercerita, awal-awal perlangkahan Pesantren Hidayatullah di beberapa cabangnya di Kalimantan Timur, mereka lebih banyak kerja daripada belajar di kelas.

Di pagi hari kerja bakti. Siang kerja bakti. Sorenya, Alhamdulillah, tetap kerja bakti juga. Namun, ada sedikit waktu yang disisihkan bermain sepakbola yang merupakan olahraga andalan santri. Malam hari baru belajar melalui medium pengajian yang diisi pembina pesantren.

Gotong royong ini umumnya dilakukan untuk percepatan penyelesaian proyek-proyek pembangunan pondok seperti pembukaan lahan baru, pembangunan masjid, asrama, lokal bangunan sekolah, dan sebagainya. Atau kadang-kadang bekerja bakti membongkar bangunan yang dianggap salah konstruksi.

Momen gotong royong seperti ini selalu diwarnai suasana kebersamaan. Tiada beda antara guru dengan santri, tidak ada sekat antara santri dan pengurus struktural. Bahkan pimpinan dengan bawahannya. Semua membaur jadi satu. Berkotor-kotor bersama. Selain itu, dan ini momen amat penting bagi santri, ada “pemambahan gizi”.

Seiring perjalanan waktu, tradisi kerja bakti sedikit mengalami pergeseran yang biasanya rutin menjadi insidentil misalnya hanya digelar di hari libur sekolah.

Selain karena corak kependidikan di Hidayatullah saat ini umumnya memberlakukan sistem full-day yang tak memungkinkan kegiatan lapangan di siang hari bagi santri boarding, juga adanya mekanisme tugas lapangan dari yang sebelumnya ditangani santri beralih ditangani tenaga profesional.

Namun, harus tetap diakui, tradisi kerja bakti ini sangat berpengaruh terhadap karakter kader-kader Pesantren Hidayatullah kemudian yang dikirim berdakwah ke berbagai wilayah. Walaupun tidak mendapatkan asupan pendidikan secara maksimal di ruang kelas, mereka tetap mampu menunjukkan kualitas dengan kinerja perintisan dakwah yang sangat memukau.
 

3. Ayo, Kena TC!
Alhamdulillah, sekarang empangnya sudah indah mempesona (Foto: stishid.ac.id)

Apaan tuh? TC adalah kependekan dari Training Center. Istilah ini dicetuskan oleh pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said.

Program TC ini khususnya dijalani oleh mereka yang baru masuk ingin menjadi santri di Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan pada tahun awal perintisan. Tradisi ini tetap bertahan hingga sekarang meski dengan volume dan konteks yang berbeda.

Para santri baru ini –khusus putra- diharuskan mengikuti TC dengan membersihkan danau (empang) ditutupi tumbuhan liar yang kebetulan berada di lingkungan santri putri. Sialnya, empang ini rupanya menjadi saluran air pembuangan tinja.

Menantang memang pusat pelatihan mental ini. Kendati banyak yang mampu menembus “uji nyali” tersebut. Tidak sedikit pula yang menyerah, terutama karena tidak tahan jorok atau menganggap itu tidak pantas.

Padahal, sebagaimana dikatakan pendiri pondok, proses TC tersebut memiliki filosofi sangat mendalam yakni untuk menegasikan kesombongan (thaga’) yang masih bercokol dalam diri kita. Sebab, kebenaran tidak akan masuk ke hati yang terdapat kesombongan. Kesombongan juga menjadikan kita enggan mentaati peraturan dan tega merendahkan orang lain.

Adapun filosofi berendam di air yang notabene telah tercampur dengan air tinja mengandung pesan penyerahan diri kepada Dzat yang Maha Tinggi bahwa setinggi dan sehebat apapun posisi atau jabatan kita, kita manusia tetaplah mahluk yang hina. Kita harus tetap rendah hati dan memuliakan manusia lainnya.    

TC ini juga diterapkan kepada santri yang terbukti melanggar peraturan pesantren. Selain hukuman botak dan yang paling berat dikeluarkan dari pesantren, hukuman yang juga menjadi momok menakutkan bagi santri adalah di-TC ini.

Bagi kalangan orangtua “cerdas” zaman sekarang, praktik TC yang diterapkan Pesantren Hidayatullah ini boleh jadi akan dianggap melanggar HAM. Apalagi, sekarang biasa ada guru dijebloskan ke penjara hanya karena memarahi murid. Miris!

Nyatanya, proses TC semacam inilah yang berhasil melahirkan manusia-manusia tawadhu’ (rendah hati) yang tinggi cintanya pada agama, tak henti baktinya kepada pertiwi, nasionalismenya tak sebatas melodi, dan mereka terus mengabdi untuk Islam dan Indonesia yang memang tak terdikotomi.  

2. Laporan Perjalanan
Mendengarkan ceramah laporan perjalanan (foto: Hidayatullah.or.id)

Kalau ditanya sebutkan satu yang paling berkesan saat kamu menjadi santri Pesantren Hidayatullah? Jawabannya adalah “laporan perjalanan”. Karena disinilah proses transfer nilai (value) itu berlangsung sangat dinamis.

Laporan perjalanan sebenarnya istilah yang pertama kali muncul di Kampus Pesantren Hidayatullah Balikpapan yang entah siapa pencetusnya pertama kali. Yang jelas, setiap kali ada tamu selalu dipersilahkan oleh MC menyampaikan “laporan perjalanan” di atas mimbar untuk berbagi kisah atau pengalaman dengan santri.

Laporan perjalanan dilakukan setiap saat ketika ada tamu atau pengurus Pesantren Hidayatullah dari daerah lainnya yang datang berkunjung. Adapun waktunya setiap selesai shalat, khususnya usai Maghrib dan Shubuh.

Jujur diakui, kita sebagai santri lebih dapat mengenal dan semakin memahami sejarah dan kultur Pesantren Hidayatullah melalui kegiatan laporan perjalanan atau istilahnya “kultum” ini.

Kegiatan pendidikan formal di ruang kelas memang tidak terlalu banyak mengurai materi tentang ke-Hidayatullah-an, sehingga laporan perjalanan selalu menjadi momen yang sangat dinanti walaupun seringkali dengan terkantuk-kantuk di shubuh hari.

Laporan perjalanan tidak melulu hanya diisi oleh sarjana atau yang bertugas di bagian pendidikan saja. Tapi, semua warga pesantren berkesempatan sama berbagi cerita di atas mimbar dengan jadwal tertentu. Mulai dari pimpinan hingga tukang bangunan. Asyiknya, mulai dari yang paling jenaka hingga yang sangat serius, bisa kita nikmati di mimbar pesantren ini.

Melalui laporan perjalanan ini kita juga bisa tahu kalau pengurus pesantren ada yang sedang ke luar kota. Pimpinan pesantren sekalipun selalu berpamitan melalui mimbar masjid setiap kali akan keluar kota dan meminta doa keselamatan perjalanan dari para jamaah. Kesan ini tentu sangat melekat dalam benak setiap kader Hidayatullah.

Pulang dari kegiatan di luar kota, santri-santri kembali bisa menikmati oleh-oleh yang dibawakan di atas mimbar oleh pengurus yang baru pulang dari perjalanan. Misalnya ada yang dari perjalanan mengikuti rapat kerja, musyawarah, atau pulang dari tugas dakwah di masyarakat.

Cerita-cerita yang disampaikan selama perjalanan, suasana acara, kesimpulan-kesimpulan pertemuan, dan rangkaian keunikan cerita lainnya tentang Hidayatullah, selalu menambah dahaga santri  untuk ingin turut berkecimpung merasakan suasana indah tersebut.

Tradisi laporan perjalanan ini masih bertahan hingga kini. Biasanya setiap lepas Magrib atau Shubuh, santri telah memiliki agenda halaqah diniyah di masjid dengan kelompok masing-masing. Namun kegiatan tersebut ditiadakan apabila pondok kedatangan tamu. Santri bersegera merapat ke depan mimbar untuk mendengar tumpahan spirit dari para tetamu.

Nasihat-nasihat dan berbagai ceramah yang disampaikan oleh para ustadz juga tamu yang datang dari daerah lainnya sungguh sangat mempengaruhi pengenalan santri terhadap corak dan gerakan Hidayatullah karena disinilah kita mendengar curahan pengalaman dakwah langsung dari pelakunya.

Jadi, singkatnya, ruang kelas memang penting untuk keberlangsungan proses pendidikan. Tapi ia tidak menjamin nilai-nilai ke-Hidayatullah-an dapat melesat ke dalam sanubari setiap santri. Tak  pula di mimbar yang hanya diisi rutinitas pembelajaran materi tertentu yang sebenarnya lebih tepat dilakukan di ruang kelas.

Kita merindukan mimbar yang dipenuhi pesan-pesan kekaderan yang ditransfer oleh siapapun tamu yang datang. Sebab, itu juga bagian dari proses pendidikan dan transfer nilai sekaligus. Jangan biarkan tamu hanya diberi makan dan dibiarkan pergi begitu saja tanpa diberi kesempatan berbagi spiritnya.        

4. Shalat Jamaah
Presiden SBY pun shalat berjamaah di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak (foto: Hidayatullah.or.id)

Agama Islam telah menuntun bahwa shalat jamaah merupakan kewajiban setiap muslim laki-laki. Karenanya, di lingkungan Pesantren Hidayatullah siapapun laki-laki baligh diwajibkan shalat berjamaah di masjid.

Saking kerasnya aturan kewajiban shalat berjamaah ini, imam shalat yang biasanya dipimpin langsung oleh ketua pesantren, tak jarang tengok kanan kiri selepas shalat dengan sorotan matanya yang tajam bersahaja. Ini dilakukan untuk memastikan kehadiran jamaah.

“Mana Abdul?”, “Mana Bobby?”, “Ada Nanang kah?”,” demikianlah beberapa contoh pertanyaan yang disampaikan sang Imam di hadapan jamaah sebelum berdiri mengambil posisi shalat sunnah bakdiyah dzuhur. Biasanya nama-nama yang ditanyakan adalah santri yang tidak kelihatan batang hidungnya pada waktu shubuh. Begitu seterusnya.  

Apabila santri ketahuan tidak shalat berjamaah akan mendapat hukuman. Kalau bukan cambuk, disuruh push and sit-up 5000 kali, atau rambutnya dipetal. Mau tidak mau, ramput kesayangan kamu pun harus dicukur habis agar tampak rapi. Kalau masih saja melanggar dan tidak mempan peringatan, ya terpaksa dikeluarkan.

Itulah 4 hal keunikan Pesantren Hidayatullah yang semoga dapat mengobati sedikit kerinduanmu dengan suasana pondok. Sebenarnya masih banyak lagi keunikan menarik lainnya, mudah-mudahan bisa kita tuangkan di lain waktu. (MATAGAMA DICIPTA)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel