News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

​Kemerdekaan dalam Warna Rio, Dwi Kewarganegaraan dan Kepribadian​

​Kemerdekaan dalam Warna Rio, Dwi Kewarganegaraan dan Kepribadian​

Ilustrasi: Mantan Menteri Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar (foto: Reuters) 
Oleh Imam Nawawi*

BANGSA Indonesia memang patut berbangga dengan emas yang ditorehkan ganda campuran bulutangkis dalam olimpiade Rio di Brasil. Sebab, emas itu menjadi kado indah bagi rakyat Indonesia yang sedang merayakan hari kemerdekaan RI yang ke 71.

Namun, di balik kegembiraan tersebut, hal yang patut dikritisi kaum muda adalah apa yang sejatinya dimaksud dengan kemerdekaan dan apakah maksud tersebut sesuai dengan semangat para pendiri bangsa mempertahankan kemerdekaan ini.

Sisi paling penting dipahami generasi muda bangsa adalah mencuatnya isu dwi kewarganegaraan. Kasus Arcandra Tahar nampaknya menjadi gerbang dibukanya kran dwi kewarganegaraan di negeri ini.

Mereka yang sudah berkiprah secara internasional, melihat dwi kewarganegaraan ini penting dan mendesak. Namun, bagi sebagian besar rakyat yang tinggal di perbatasan, kepulauan dan pedalaman, apalah maksud dar dwi kewarganegaraan itu, sama sekali tidak penting mereka pahami.

Lantas, bagaimana kita yang muda melihat dwi kewarganegaraan dalam konteks kemerdekaan?

Seorang pakar mengatakan bahwa sekarang adalah era talent war (perang talenta) dimana tidak sedikit putra bangsa yang di luar negeri ditawari kewarganegaraan negara asing karena talent, potensi yang mereka miliki, sehingga kalau Indonesia membiarkan hal ini terjadi, maka talent-talent terbaik negeri ini akan hengkan ke luar negeri.

Sebagian praktisi yang pernah belajar di luar negeri melihat ini hal penting, guna memudahkan putra bangsa yang ingin kembali membangun Indonesia bisa sewaktu-waktu kembali, terutama jika dibutuhkan negara.

Dan, point terpenting yang selalu mewarnai argument kemajuan di negeri ini adalah, sudah banyak negara-negara lain yang memberlakukan dwi kewarganegaraan.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, apakah benar putra bangsa yang di luar negeri yang jasanya digunakan negara asing entah dengan telah menjadi warga negara asing benar-benar akan bisa memajukan bangsa dan negara?

Atau apakah iya, putra bangsa yang tidak pernah ke luar negeri, atau tinggal di luar negeri setelah berburu ilmu di mancanegara tidak bisa membangun bangsa dan negara, dan karena itu pasti kalah karena tidak memiliki kapasitas talent war?

Saya pikir, hal pokok yang paling penting dirumuskan secara pasti adalah hal ini, yaitu kepastian bahwa anak bangsa dimanapun berada memiliki loyalitas dan ruh semangat didirikannya NKRI ini. Brian Tracy dalam bukunya How The Best Leader Lead mengatakan bahwa kompetensi (talent) bisa dibangun, tetapi karakter itu tidak mudah.

Sekedar talent sebenarnya perkara mudah. Tinggal pada kebijakan pemerintah, 100 % total menjalankan amanah UUD 45 atau tidak? Kalau sehari-hari ribut soal politik, jabatan, dan dagelan kebijakan, maka jelas tanpa berpikir serius sudah terlihat, bangsa ini akan tertinggal.

Dengan demikian, daripada anggaran negara, energi putra bangsa habis untuk membahas dwi kewarganegaraan, sebaiknya segera majukan pendidikan bangsa di dalam negeri. Bagaimana mungkin kita bisa mengurangi harapan terhadap putra-putri bangsa yang ada di dalam negeri, sementara mereka yang merasakan panas dingin negaranya?

Jadilah merdeka, yang kata Bung Karno adalah dengan Berdiri di Atas Kaki Sendiri (Berdikari). Jadi, jangan pernah berharap maju hanya karena negara lain sudah begini sudah begitu. Lalu, seolah-olah kita semua mesti meniru. Kalau pun ada semangat ke sana, maka yang perlu dibangun adalah spirit mendasarnya. Bukan ujug-ujug adopsi sementara kultur dan karakter bangsa ini belum sepenuhnya tertata.

Di sinilah kepribadian menjadi penting dan nomor satu untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka seutuhnya. Kepribadian yang bagaimana? Tentu dengan segenap problematika yang terjadi, kepribadian yang paling dibutuhkan adalah keberanian.

Buya Hamka dalam bukunya Falsafah Hidup menjelaskan bahwa orang yang patut diberi gelar berani adalah orang yang tiada merasa gentar menghadpai bahaya karena menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Maju menghadapi kesulitan, karena yakin di balik kesulitan itu akan tercapai suatu kebahagiaan jiwa. Tidak undur walaupun apa bahaya di hadapannya. (Halaman 245 – 246). Sekarang adalah fakta yang diakui bersama, Indonesia perlu maju, merdeka dari warga negara asing dan mandiri dengan mengelola semua sumber daya alam secara mandiri.

Buya Hamka kembali menegaskan, “Tidaklah suatu bangsa akan tegak, dan suatu paham dapat berdiri, kalau di antara bangsa itu sendiri tidak ada yang berani menyatakan kebenaran.”

Jadi, mari pupuk keberanian di dalam diri kita. Berani berpikir sebagaimana para pahlawan bangsa berpikir. Bukan berarti kita anti perubahan dan semangat zaman, tetapi perubahan zaman itu adalah buah dari pemikiran.

Pada hal-hal prinsip, seperti kemerdekaan, maka jangan diluaskan maknanya hingga menjadi bias. Tetapi dalam konteks metode mewujudkan arti kebenaran yang sebenarnya dan seutuhnya, kita boleh melakukan apapun secara elegant.

Selanjutnya, mari menunduk, Anda yang jadi RT, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur, Menteri dan Presiden sekalipun, adakah benar-benar berani berpikir sebagai putra bangsa atau sudah kehilangan kemerdekaan karena menjadi boneka dari setiap kepentingan orang-orang yang tidak tahu terimakasih kepada pahlawan dan Tuhan. Mari jawab dalam hati masing-masing.*

__________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah Wakil Ketua Penulis Muda Nusantara (PENA) Pusat. 

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.