News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Menyoal Periklanan Facebook dan Masa Depan Industri Digital Indonesia

Menyoal Periklanan Facebook dan Masa Depan Industri Digital Indonesia

Foto: Visualvisitor
SAYA jengkel sama Facebook. Saya mengikuti banyak fanspage situs berita yang rutin menjadi sumber pembaharuan informasi. Dan, disinilah masalahnya.

Entah sejak kapan persisnya, saya tidak lagi menemukan pembaharuan dari fanspage yang saya ikuti tersebut. Di beranda hanya diramaikan akun personal yang yah --seperti biasa-- tidak sedikit masih menganut mazhab neo-alaisme.

Sebenarnya, tetap saja fanspage muncul di beranda, tapi berupa simulasi iklan yang ditawarkan oleh Facebook. Itupun fanspage yang kebetulan saya manajeri sendiri. Dan ternyata, sekarang hanya fanspage bersponsor (beriklan) yang muncul.

Jadi, kalau anda mengikuti (like/suka) sebuah fanspage tertentu, berhentilah berharap mendapat pembaharuan di dinding anda walaupun anda sudah menyalakan sindikasi kabar berita pada tab FP tersedia.

Tidak peduli. Walaupun fanspage tersebut memiliki jutaan pengikut. Apalagi yang cuma ratusan ribu. Cuplikan informasi yang disebar di dinding FP untuk mendulang kunjungan ke website, hal ini tidak lagi muncul di beranda pengikutnya. Muncul iya, tapi sangat jarang.

Jadi kalau fanspage anda mau tampil atau ingin lebih sering muncul di beranda pengguna lainnya, anda harus membayar.

Dengan tingkat kunjungan nomor 1 di Indonesia sebagaimana indikator yang ditunjukkan SimilarWeb per-hari ini, tentu Facebook memiliki keleluasaan memformulasi perilaku penggunannya.  

Begitulah cara Facebook mendapatkan uang di sini. Ya, di Indonesia. Suatu inovasi digital yang betul-betul "gila" dan menggemaskan.

Ini inovasi cerdas? Ya, sangat cerdas, tapi juga -maaf- sadis. Facebook menerapkan standar ganda dimana ia meraup untung sebesar-besarnya dari sebuah mekanisme digital yang sangat "inovatif" namun terasa "menjajah" kita di waktu yang sama.

Saya tidak menyoal berapa miliar yang berhasil "diangkut" dari program periklanannya di Indonesia. Namun yang menarik di sini adalah bagaimana sebuah pola bisa diterima di tengah komoditas digital Indonesia yang relatif sudah cukup mapan.

Dan, kelihatannya semua aman-aman saja. No problem.

PERHATIKAN PERINGATAN PRESIDEN

Nampaknya, pemerintah pun sama telah merasakan gejala betapa sedang berlangsung penjajahan modern yang berlangsung massif dan sistematis.

Pemerintah melalui Presiden Joko Widodo dengan tegas mengingatkan agar berhati-hati terhadap inovasi, terutama yang didasari oleh sifat keserakahan.

Dalam Forum Ekonomi Islam Dunia (World Islamic Economic Forum) ke-12 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (2/8/2016) kemarin Jokowi mengingatkan bahayanya inovasi yang didasari oleh kerakusan.

Beliau menegaskan bahwa kesejahteran masyarakat tidak akan meningkat secara otomatis hanya karena ada inovasi. Inovasi bahkan akan membuat sebagian orang sangat kaya.

Karena itu Jokowi mengatakan pemerintah perlu memastikan keuntungan inovasi terbagi rata, termasuk ke masyarakat miskin.

“Kita hidup di era di mana inovasi tak bisa ditinggalkan, baik itu inovasi robotic, kecerdasan buatan, maupun 3D printing. Tapi, di saat yang sama, kita hidup di zaman yang tidak stabil,” ujarnya seperti dikutip laman kantor berita Antara di sini.

Kita senang adanya inovasi perangkat digital yang mampu memediasi hubungan antarmanusia dalam jaringan waktu nyata seperti Facebook. Tetapi, harus tetap waras bahwa tidak selamanya sebuah inovasi hadir menyelesaikan masalah.

Kita sama senangnya mendengar Facebook berhasil membukukan laba bersih 97 sen per-saham dengan nilai pendapatan US$ 6,44 miliar di kuartal II tahun fiskal 2017 ini berkat inovasinya ini.

Dalam laporan kinerja kuartalnya itu juga diketahui Facebook memang tengah melakukan "penyesuaian" yang ini mungkin menjawab kenapa halaman fanspage mulai sangat jarang muncul di beranda kita.

"Kami memperbaiki pengalaman komunitas kami dengan membantu mereka membangun iklan yang relevan dan lebih mengikat," kata CEO Mark Zuckerberg kepada investors melalui conference call seperti kami kutip Tribun Bisnis.

Sebenarnya bukan saja Facebook, Yahoo Mail, atau Twitter. Ada program periklanan lainnya yang jauh lebih massif selain yang disebut tadi, yaitu Google AdSense.

Hanya saja Google menerapkan metode simbiosis mutualisme dimana ia berbagi keuntungan dengan pihak ketiga dalam hal ini disebut publisher yang memungkin siapa saja bisa menjadi bagian darinya.

Inilah yang menjadikan Google berbeda. Dan publik di sini pun kelihatannya tidak terlalu menyoal konsep bisnis yang diterapkannya karena dianggap turut memberi andil dalam banyak proyek tanggungjawab sosial kemanusiaan.

Di titik ini ada baiknya Facebook dkk juga mencontoh konsep periklanan yang telah diterapkan Google agar tidak terkesan hanya numpang makan terus pergi. Pengguna negara asal pun dapat merasakan nilai lebih darinya.

BELAJAR KEPADA CHINA
Mari belajar kepada China bagaimana mengoptimalkan kekuatan nasional untuk berdiri di kaki sendiri dan terus menguatkan hegemoni khususnya di industri digital.

Dalam rangka memberdayakan dan membangun kemandiriannya bangsanya, China memblokir Facebook dan Twitter. Yang terjadi kemudian kita mengenal Weibo yang sangat populer di sana. Bahkan Google pun kena blokir, yang terjadi kemudian kita jadi kagum pada teknologi Baidu dengan bermacam produk diterlurkannya.

Faktanya, sedikit pemain dari luar yang bisa eksis berpenetrasi di China, karena memang sumber daya manusia mereka siap tarung dan kuat diadu.

Baru-baru ini kita kembali mendengar satu lagi pendatang di China tumbang. Uber China dibuat keok oleh pesaing berat lokal, Didi Chuxing.

Bukan itu saja, China kini telah memiliki sistem operasi sendiri untuk menyaingi Google Android dan Apple iOS bernama COS atau China Operating System.

Unik memang dan disinilah hebatnya. China tak malu memodifikasi produk yang sukses di pasaran, kemudian membuat versi mereka sendiri. Dengan biaya produksi rendah, China bisa menjual produk tiruan tersebut dengan harga yang lebih murah.

Kita tidak bisa selamanya menjadi konsumen dari produk luar di ranah industri yang terus bertumbuh di negeri ini. Anak-anak muda kita perlu disiapkan untuk memegang kendali dan menjadi pioner kemandirian bangsa. Kenapa China bisa, kita tidak bisa.

Akhir kata, tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapapun. Ini murni opini. Tidak ada tendensi tertentu. Hanya berharap agar ada kebijakan dan keberpihakan yang lebih baik untuk negeri tercinta Indonesia. Itu saja. (ANCHAL) 

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.