Pemimpin Polesan Media dan Waras Keindonesiaan Kita

Wartawan mewawancarai narasumbernya (Foto: Paul Bradbury/ Getty Images)
Oleh Imam Nawawi*

TONG kosong nyaring bunyinya. Demikian bidal populer yang sering kita dengarkan. Pepatah itu nampaknya semakin menunjukkan 'eksistensinya' saat ini, dimana negara yang demikian luas dibikin riuh oleh media untuk mencitrakan seorang pemimpin baik tanpa cela.

Seperti tak memahami nalar sehat secara umum, sosok ini terus digembar-gemborkan sebagai pribadi baik dan tegas dengan beragam narasi dan angle kabar yang 'memukau' untuk mengelabuhi siapapun yang membacanya.

Padahal, logikanya sederhana, orang yang benar bekerjanya tidak perlu terlalu narsis membahasakan tentang siapa dirinya.

Termasuk suatu kejanggalan yang setiap orang pasti bisa merasakan dengan mudah, ketika seorang pemimpin digambarkan selalu positif dengan mengerahkan segenap kuli tinta dan buzzer untuk membela dan mendukungnya.

Dalam teori kampanye politik, mungkin cara ini memang membuktikan kemenangan pada era sebelumnya. Tetapi, manusia itu sukanya pada yang asli, bukan tipuan. Artinya, tidak mungkin produk yang hanya mengandalkan kemasan akan terus diperebutkan.

Jadi, percaya atau tidak, perlahan waktu akan bicara, bahwa ternyata semua karena memang diri tidak otentik, tidak layak dan lebih buruk lagi, tidak becus.

Kita bisa nalar dengan sederhana, masak iya, negeri dengan seabrek masalah ini, di setiap media selalu bicara pemimpin yang riuh. Apakah ini wajar, normal dan masuk akal?

Ucapannya kasar, intonasinya arogan, kebijakannya 'membunuh' wong cilik, dan berpikirnya inkonsisten. Jauh-jauh hari mau maju dengan cara A. Tiba-tiba menjadi dengan cara B. Anehnya, tak satu pun media menyebut ini sebagai sikap inkonsisten, tetap saja dipuja, dipoles dan dikemas dengan segala cara.

Sebagai bangsa besar, tentu kita sama sekali tidak butuh dengan pemimpin seperti itu, bisanya hanya bikin riuh dengan kemarahan dan kepongahan.

Seorang Brian Tracy saja dalam konteks bisnis 'mengharamkan' kemarahan terjadi pada diri seorang pemimpin. Apalagi merendahkan orang lain atas beragam pembenaran.

Menarik satu ungkapan dari Kiyai Mbeling Cak Nun, "Kepandaian adalah kelicikan yang menyamar. Kebodohan adalah kebaikan yang bernasib buruk".

Dengan kata lain, semoga suatu saat, para kuli tinta yang memiliki kemampuan merangkai kata yang terlanjur menggadaikan nalar sehatnya, bisa tersadar dan bertaubat.

Mengapa demikian? Karena pemimpin itu bukan orang narsis, tapi optimis dan bekerja dengan penuh pengabdian. Jika sampai bangsa ini dipimpin orang yang pandai bikin riuh negara bukan mustahil akan runtuh.

Nelson Mandela nampaknya punya ruh seperti itu. Dia berkata, "Cukuplah aku saja yang mengalami getirnya perjuangan demi meraih keadilan dan kebenaran. Biarlah kalian yang menikmati hasilnya".

Dalam satu teori kepemimpinan disebutkan bahwa pemimpin sejati adalah orang yang bisa memberi semangat (encourager), memberi inspirasi (inspirator) dan maximizer.

Dan, pemimpin seperti ini biasanya tidak perlu dibesar-besarkan oleh tarian tinta dan polesan cahaya kamera. Cukup apa adanya, dia memang otentik seorang pemimpin yang sejati.

Sekarang, kita lihat, yang terjadi kebalikannya. Pemimpin yang tidak otentik belum-belum sudah berkoar-koar punya dukungan teman, sekian orang. Padahal, dalam falsafah Jawa dikenal istilah "Ngluruk Tanpa Bala," yang artinya "Berjuang tanpa perlu membawa kekuatan massa".

Kemudian "Sekti tanpa Aji-aji," yang artinya "Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, jabatan, kekayaan atau keturunan". Yang terjadi sekarang, Anda bisa nilai sendiri.

Ini belum bicara sisi cinta seorang pemimpin kepada yang dipimpin, terutama pada wong cilik. Belum bicara soal integritas yang ternyata juga sudah cukup banyak dugaan-dugaan penyimpangan yang mencuat di media. Apalagi bicara kepribadian kuat dan konsisten, tentu kita yang sehat mengatakan jauh panggang dari api.

Tetapi, mungkin inilah kondisi dimana pesan dari Bung Karno harus kembali kita pegang kuat-kuat. "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri".

Namun, Bung Karno juga memberikan petunjuk bahwa kita akan tetap menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari jajahan dalam ragam rupa bangsa lain selama benar-benar mengoptimalkan kekuatan bangsa sendiri.

Bung Karno berkata, "Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka".

Dari sini sebenarnya jelas, kriteria pemimpin yang dibutuhkan rakyat Indonesia mulai dari tingkat lurah sampai presiden, yakni sosok yang benarl-benar mengerti Indonesia dan membela kepentingan rakyat Indonesia dengan tidak membungkuk kepada pemimpin bangsa lain.

Kalau pun belum ada yang benar-benar sesuai, setidaknya harapan paling rasional sebagaimana pesan pahlawan proklamator kita titipkanlah kepemimpinan negeri ini kepada orang Indonesia asli, yang merasakan pahit getirnya menjadi rakyat di negeri sendiri. Jika tidak, penderitaan rakyat akan semakin menyakitkan.

Mungkin sebagian kita berpikir, sekarang hal ini sulit diwujudkan. Tetapi, kita tidak akan bisa pernah sempurna mewujudkan hakikat kemerdekaan, apalagi merubah keadaan jika diri kita sendiri enggan untuk mewujudkan perubahan.

Leo Tolstoy berujar, "Semua orang berpikir untuk merubah dunia. Tapi tak satu pun berpikir untuk merubah dirinya sendiri".

Saatnya kembali waras. Sebab, jika terus terperdaya dengan langgam narasi sarat pesanan yang ditabuhkan media maka selama itu pula kita terpasung dalam ketidakberdayaan. Bangsa kita selamanya tak jua menemukan sosok pemimpim sejatinya.  

Jadi, mari kita ubah bacaan kita, kita ubah referensi berita kita, kita ubah perhatian kita. Sebab semua itu akan memengaruhi jatuhnya pilihan kita pada saat yang menentukan.

Sebelum kita salah memilih, mari berubah. Kuatkan nalar kita dan sehatkan jiwa kita, agar bangsa dan rakyat Indonesia benar-benar bisa merdeka.*

__________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah Wakil Ketua Penulis Muda Nusantara (PENA) Pusat

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel