News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

BMOIWI Sebut Pilih Pemimpin Muslim Dijamin Konstitusi

BMOIWI Sebut Pilih Pemimpin Muslim Dijamin Konstitusi

Kaltara.News - Mengajak untuk tidak memilih pemimpin non-muslim merupakan perintah agama sehingga tidak boleh dikategorikan sebagai SARA karena memilih pemimpin sesuai dengan keyakinan agama dijamin undang-undang.

Demikian dikatakan Ketua Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI), Sabriati Aziz.

"Justru yang menuding ajakan tidak memilih pemimpin non-muslim SARA sama saja tidak menghormati keyakinan beragama seluruh warga negara yang dijamin konstitusi," kata Sabriati dalam siaran persnya diterima Kaltara.news, Selasa (25/10/2016).

Karena itu, lanjut dia, pihaknya menyesalkan lontaran bernuansa SARA yang diucapkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaja  Purnama (Ahok), pada  sebuah acara dialog dengan warga tanggal 27 September 2016 di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Menurut Sabriati, mayoritas masyarakat Indonesia khususnya umat  muslim mengecam keras dimana Ahok secara eksplisit dan tampak  dengan penuh kesadaran menyatakan agar masyarakat Muslim Jakarta tidak dibohongi dengan al-Qur’an surat al-Maidah ayat 51.

"Pernyataan Ahok tersebut selain melampaui batas, juga berpotensi  merongrong bangunan keindonesiaan kita yang majemuk berbhinneka tunggal ika dengan berlandas pada penghayatan pengamalan Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa," katanya.  

Karenanya ia mendesak aparat terkait agar bersungguh sungguh memproses hukum kasus dugaan penistaan agama ini.

Umat Islam, kata Sabriati, telah menunjukkan sikap lapangdada dengan membuka pintu  maaf kepada Ahok yang sudah meminta maaf atas pernyataannya itu meskipun terbilang sangat lambat.

"Namun, ucapan maaf saja tidak cukup. Proses hukum harus terus dilanjutkan. Jika tidak, ini akan menjadi preseden buruk terhadap hubungan sosial keagamaan yang telah berusaha kita rawat," katanya.

Sabriati menegaskan lembaganya pun telah menyatakan mendukung pemimpin muslim untuk untuk memaslahan umat dan bangsa.

Namun, dia mengingatkan, pihaknya dalam hal ini BMOIWI tidak dalam posisi mendukung, apalagi menghalangi-halangi orang untuk menjadi pemimpin.

"Melainkan ini sebagai ikhtiar politik yang berlandas pada nilai moral-religiusitas untuk menyeru umat muslim memilih pemimpin muslim. Dan ini sehat dalam atmotfer demokrasi kita," ujarnya.

Sabriati menerangkan, dengan pemimpin muslim di tengah mayoritas masyakat muslim yang dipimpin akan berkesusaian dengan tradisi dan lingkup perilaku ritualitas kehidupan masyarakatnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan masyarakat Indonesia umumnya adalah masyarakat yang religius dimana penganut agamanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-harinya.

Sehingga, terang dia, tidak bisa jika masyarakat dituntut untuk tidak menggunakan agama dalam kehidupannya termasuk dalam hal memilih pemimpin.

"Bahwa pemimpin muslim akan mendukung kepentingan muslim dan mengayomi penganut keyakinan lainnya tanpa paksaan. Dalam sejarah kepemimpinan Islam saat Rasulullah jadi pemimpin maka ummat lainpun akan aman di bawah kepemimpinan muslim," imbuhnya.

Namun, lanjutnya, sebaliknya jika pemimpin non muslim yang memimpin, dalam banyak kasus, kaum muslimin berada dalam diskriminasi dan dilanggar hak haknya.

"Praktik kepemimpinan Islam yang melingkupi tanggungjawab dunia akhirat ini tercermin dalam sada Nabi Muhammad SAW yang menyatakan 'kullu kum roin wa kullukum mas’ulun anraiyathi'," tukasnya.

Karenannya, ia menegaskan, pernyataan, seruan, dan atau imbauan agar memilih pemimpin atas dasar iman adalah sah dan tidak melanggar SARA, karena bagaimanapun semua penganut agama yang baik pun melakukannya.

"BMOIWI menekankan bahwa memilih pemimpin dengan motif agama, tetap tidak boleh mengandung unsur penghinaan atau pelecehan terhadap agama, suku, atau etnis tertentu sebab semua warga negara Indonesia memiliki hak yang sama termasuk untuk menjadi pemimpin," ujar Sabriati.

Pihaknya mendorong dan mendukung pemuka agama terutama ulama untuk terus memberikan pencerahan dan pendampingan kepada umat Islam dalam menghadapi masalah beragam aspek kehidupan.

"Tak terkecuali dalam soal kepemimpinan untuk Indonesia maju, adil, kuat, bermartabat, dan berperadaban mulia," tutupnya. (ybh/knw)

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.