Jangan Melawan Gelombang Antusiasme Ketuhanan


NALAR normal manusia mungkin menyimpulkan bahwa apa yang belakangan terjadi di negeri ini sebagai keadaan yang meresahkan, memberatkan dan tentu saja menegangkan.

Bagaimana tidak, hukum seperti menjadi alat kekuasaan dan keadilan sejati tidak lagi bisa dirasakan, di negara dimana mayoritas rakyatnya sangat mempercayai hukum negara bisa berjalan secara objektif dan adil.

Belum selesai masalah di negeri ini, perhatian mayoritas rakyat Indonesia harus juga diarahkan pada kekerasan, penindasan dan pengusiran yang dialami oleh etnis Rohingya di Rakhine State Myanmar.

Ratusan massa pun berkumpul menggelar aksi menuntut pemerintah Myanmar segera menghentikan tindakan biadabnya terhadap etnis Rohingya di Kedutaan Besar Myanmar yang beralamat di jalan KH. Agus Salim Menteng Jakarta Pusat (25/11).

Sementara itu, di Amerika Serikat, sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS ke-45 kehidupan umat Islam di negeri Paman Sam itu juga dalam keadaan yang tidak biasanya, sebagian besar was-was dengan sikap sang Presiden yang konon dikabarkan cukup phobia terhadap Islam.

Fakta-fakta di atas tentu tidak menggembirakan. Tetapi, apa yang harus terjadi dalam ketetapan Tuhan, harus dan pasti terjadi.

Dan, sebagaimana keyakinan kita bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Penyayang, maka tidak mungkin semua yang telah terjadi di atas adalah untuk menyengsarakan kehidupan umat manusia, terkhusus umat Islam.

Namun, kita tidak perlu berpandangan negatif apalagi apatis. Mari perhatikan bagaimana sejarah berjalan. Bahwa pada setiap akan hadirnya pencerahan, segala kerusakan terjadi, ketidakadilan, kekerasan, dan kebiadaban berlangsung dimana-mana.

Inilah yang kemudian dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah "goro-goro," sehingga kehadirannya bersifat pasti untuk pencerahan hadir demi tegaknya maslahat kehidupan umat manusia.

Seperti yang dialami oleh masyarakat jahiliyah Quraisy sebelum hadirnya Rasulullah Muhammad. Kebiadaban sangat biasa bahkan regulasi hidup tidak lagi berdasarkan nalar sehat, tetapi hawa nafsu, kekuasaan dan kesewenang-wenangan.

Kemudian, mari kita lihat. Bahwa dalam setiap dimana kebiadaban terjadi, ketidakadilan mewujud, gelombang antusiasme ketuhanan selalu hadir memberikan perlawanan.

Mengapa perlawanan itu hadir? Pemikir dari Pakistan, Muhammad Iqbal menjelaskan karena adanya rasa mabuk kepayang dan antusiasme ketuhanan, dimana jiwa dan pikiran yang menguasai diri seseorang untuk menegakkan kebenaran bak gelombang yang tak mungkin dibendung oleh kekuatan apapun.

Hal itu bahkan mendorong lahirnya kekuatan cinta yang sangat kuat, sehingga seseorang menjadi berani mewujudkan idealismenya meski harus menempuh berbagai kesukaran dan menuntut pengorbanan diri.

Dan, ini bisa kita saksikan betapa segala seruan yang bermaksud menggembosi umat Islam melakukan aksi damai pada 411 dan 212 tidak pernah berhasil. Hal ini karena gelombang keimanan tidak bisa dipecahkan hanya dengan ancaman, fitnah dan segala macam bentuk penggiringan opini, oleh siapapun juga.

Bahkan mungkin ini yang sangat mengherankan, bagaimana kini publik tidak lagi serta-merta mempercayai apa yang diblow-up oleh media mainstream baik elektronik maupun cetak.

Publik dengan piranti teknologi komunikasi dan informasinya telah memiliki filter tersendiri untuk membaca dan mempercayai mana berita yang objektif dan adil, sehingga apa yang tadi saya sebut sebagai gelombang antusiasme ke-Tuhan-an tidak akan pernah bisa dipecahkan oleh siapa dan apapun.

Untuk itu, atas nama anak bangsa, saya mengajak semua pihak untuk segera sadar dan menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya, terutama dalam semangat menegakkan hukum demi hidupnya keadilan.

Hal ini karena sudah sangat jelas, bahwa dalam siklus kehidupan, setiap ketidakadilan yang dipertahankan hanya akan menjerumuskan diri pada kehancuran.

Lihatlah bagaimana ulasan DR. Abdussyafi Muhammad Abdul Lathif yang menulis panjang lebar bagaimana Khilafah Bani Umayyah bangkit dan runtuh. Ujungnya sama, ketidakadilan yang dipaksakan.

Demikian juga dengan ulasan Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shallabi, dalam bukunya "Bangkit dan Runtuhnya Daulah Bani Saljuk" ujungnya sama, memaksakan ketidakadilan untuk diterima rakyatnya sendiri. Akibatnya pemerintahan menjadi tidak solid, rakyat mendesak tegaknya keadilan dan tentu saja, semua itu adalah cikal-bakal hancurnya sendi-sendi pemerintahan.

Kondisi tersebut adalah bukti dimana manusia telah kehilangan nalar sehatnya, sehingga hidup dengan acuan hawa nafsu. Dan, jika demikian, maka kehancuran tinggal menunggu waktu. Syeikh Ibn Atha'illah dalam Al-Hikam mengatakan:

"Manisnya hawa nafsu yang telah mengasai hati, adalah penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan". 

Sementara di luar, bersama rakyat, gelombang tuntutan tegaknya keadilan kian menggumpal, membesar dan siap menghancurkan apapun yang memaksakan diri melawan dan menghadangnya.

Namun, kehancuran itu belum terjadi. Artinya masih ada kesempatan untuk diri kita menyadari keadaan dan segera merubah haluan diri. Termasuk kepada paca cerdik cendekia, jangan gadaikan ilmu yang harusnya membuat diri tunduk pada kebenaran malah runtuh karena berpijak pada jabatan.

Sungguh tidak akan ada gunanya membungkus kebatilan dengan beragam argumen yang sok rasional. Karena namanya keburukan pasti akan terbuka juga pada akhirnya.

Jalaluddin Rumi dalam bukunya "Fihi Ma Fihi" menegaskan, "Sebagus dan secemerlang apapun buah pikiranmu, tidak akan lebih hebat dari buah pikiran sang Nabi. Jadi, jangan terlalu mengandalkan akal dan pikiran. Jadilah orang yang terus mengemis dan takut di hadapan Allah Ta'ala".

Belajarlah dari tukang sihir Fir'aun yang tanpa ragu mengikuti kebenaran kala Musa memberikan bukti kebenaran, meski mereka harus menghadapi ancaman siksaan dari sang Raja yang telah kehilangan jati diri.

Mereka sadar dengan kelemahan dirinya dan mereka paham bahwa gelombang antusiasme Tuhan telah datang yang tak mungkin mereka lawan, apalagi dengan segenap tipu daya yang bernama sihir.

Mereka memilih kebenaran, meski dengan segala resiko kehidupan. Dan, karena itu Rumi menggubah puisi, "Jika kau ingin sembuh, biarkan dirimu jatuh sakit. Biakrkan dirimu jatuh sakit".

Lantas, apa obat dari semua ini? Kembali pada kebenaran, bergabung dengan gelombang keadilan dengan sepenuh kesadaran akal dan perasaan. Sebab, tidak akan berguna segala macam alasan dan serangan, dimana gelombang antusiasme ke-Tuhan-an terus menggelinding, menyapu segala macam bentuk ketidakailan.

Inilah keadaan dimana kaum bijak mengatakan, "Dalam setiap guncangan akan lahir keseimbangan baru". Wallahu a'lam.

_____
*IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis, mantan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kutai Kartanegara, Kaltim

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel