Kapitalisasi 212


Oleh: Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, Anggota DPD RI dan pembina Komunitas Pencinta Keluarga (KIPIK)


AKSI Super Damai III, 2 Desember 2016, atau populer disebut Aksi 212, sungguh mencengangkan, menakjubkan dan membanggakan. Jumlah massa  luar biasa besar, diperkirakan sekitar 7 juta orang.

Inilah aksi massa terbesar di muka bumi sepanjang sejarah. Padahal tidak ada undangan khusus dan tidak ada pula donatur besar. Karena itu sebelum acara aksi,  GNPF-MUI, sebagai panitia, sejatinya tidak bisa memprediksi berapa banyak orang yang akan hadir.

Sama seperti Aksi Bela Islam II, 411, yang dihadiri sekitar 2,3 juta orang. Jumlah itu sangat di luar dugaan karena pada Aksi Bela Islam I massa diperkirakan kurang dari 100 ribu orang.

Informasi dan sosialisasi untuk aksi terutama lewat media sosial. Peserta aksi datang  mandiri,  dengan biaya transportasi sendiri, padahal banyak juga dari luar Jakarta, bahkan tidak sedikit dari luar Jawa.

Sebahagian peserta membawa makanan dan minuman seadanya dari rumah. Tapi ternyata makanan dan minuman tersedia di lokasi dan ditawarkan dimana-mana, baik oleh organisasi tertentu maupun perorangan. Semangat berderma dari ummat terasa begitu besar.

Aksi berlangsung sangat tertib, bersih, penuh persaudaraan dan semangat tolong menolong. Semua taat aturan atau himbauan panitia. Kesadaran yang sangat tinggi untuk antri dan bersabar jika terjadi kepadatan massa, tidak menginjak taman, bunga ataupun rumput.

Demikian pula untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dimana-mana tersedia petugas yang menyiapkan kantong plastik besar untuk membuang sampah.

Sangat menakjubkan bahwa dengan massa sebesar itu tapi begitu acara selesai dan massa bubar kondisi lokasi dan sepanjang jalan yang dilalui tidak terlihat adanya sampah. Massa aksi benar-benar telah menunjukkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.

Aksi 212 sungguh telah mepertontonkan begitu banyak keindahan  Islam seperti kedamaian, ketertiban, kebersihan, persaudaraan, tolong menolong dan lain sebagainya. Semua karakter itu begitu kuat mengikat  peserta hingga menghasilkan perasaan dan pemandangan ajaran Islam yang sangat indah.

Mungkin sulit menemukan peserta aksi yang tidak merasakan keharuan dan tetesan air mata selama aksi. Apalagi ketika mendengarkan lantunan doa para ulama, baik sebelum shalat maupun pada saat qunut nazilah shalat jum'at.

Wajah Islam yang selama ini seringkali kelihatan atau dikesankan kurang baik atau bahkan buruk --apalagi oleh media anti atau fobia Islam-- terutama terkait persaudaraan, kebersamaan dan tolong menolong, semua menjadi sirna dengan aksi 212. Aksi 212 sukses menampilkan Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Dengan sukses tersebut, maka persoalan lebih lanjut yang menantang  adalah bisakah nilai-nilai yang telah tampak pada aksi tersebut ---terutama persatuan dan tolong menolong--- dikapitalisasi menjadi kekuatan  Islam yang ril dalam berbagai aspek, terutama ekonomi dan politik.

Gerakan pada kedua aspek tersebut bukan dengan motif sektarian dan diskriminatif, tapi karena betapa terpuruknya ummat Islam pada aspek itu. Padahal Islam adalah agama mayoritas di negeri ini.

Pasca 212 ramai muncul harapan penguatan ekonomi ummat dengan mendirikan bank syariah 212, minimart 212, dan lain-lain.

Bahkan, ada gerakan yang langsung lebih nyata seperti himbauan untuk tidak membeli Sari Roti karena ulah perusahaan tersebut dengan surat klarifikasi terkait bedarnya produk mereka di lokasi aksi, membuat ummat Islam tersinggung.

Semangat penguatan ekonomi ummat yang sangat ramai di medsos ini masih menunggu tangan-tangan profesional dan energi lanjutan ummat untuk menjadi wujud nyata.

Demikian pula dalam politik. Tentu ini lebih rumit lagi, karena sejauh ini kita belum pernah tahu adakah konsep dan perjuangan politik dari aksi bela Islam dengan tokoh sentral Habib Rizieq Syihab tersebut. Sejauh ini hadirnya kekutan massa raksasa tersebut hanya ditujukan pada kasus hukum Ahok.

Betapapun juga, suatu hal yang menarik dari tiga kali aksi bela Islam itu adalah hadirnya "kepemimpinan ulama". Inilah fenomena paling menonjol dari aksi bela Islam ini. Dan ini merupakan modal politik yang sangat besar. Wallahu a'lam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel