Meneguhkan Gelombang Aksi 212 dengan Kerja Nyata


PERTENGAHAN  pekan ini, tepatnya 7 Desember 2016 bersama beberapa sahabat saya bertemu jajaran pengurus pusat Kwartir Nasional (Kwarnas) di Gedung Kwarnas Pramuka, Jakarta Pusat.

Saat itu, seorang pengurus dari Kwarnas dengan tegas mengatakan, bahwa pemuda mesti melakukan yang namanya Social Empowering. 

"Banyak organisasi yang tidak kerja nyata. Manusia kalau tidak kerja, tidak bisa survive. Semakin membumi kerjanya semakin hebat. Semakin melangit semakin tidak jelas apa yang dikerjakan," urainya.

Dan, apa yang disampaikan tersebut ternyata menjadi bola salju lanjutan dari peristiwa Aksi Super Damai 212.

Ya, bola salju turunan untuk melakukan aksi nyata dalam membela Islam secara komprehensif, tidak saja nilai normatif ajaran Islam, tetapi juga implementasi sekaligus.

Berbagai media sosial ramai membahas tentang perlunya dibangun kekuatan ekonomi, pendidikan, bahkan politik.

Secara teoritis, umat telah mengetahui adanya momentum. Dalam bidang ekonomi, telah mengetahui adanya "momentum pasar atau ekonomi". Artinya, kunci bangkit telah diketahui, tinggal diikuti secara nyata dengan kegiatan investasi.

Sapto Rahardjo yang seorang Financial Motivator dalam bukunya"Kiat Membangun Aset Kekayaan" menyatakan bahwa momentum pasar adalah tumpangan perahu yang bisa kita ikuti untuk mendapatkan keuntungan maksimal, karena ada daya dorong positif dan intensif yang tepat dari hasil mementum pasar (ekonomi) tersebut.

Terlebih, tidak berselang lama, sebuah brand roti terkenal di Republik ini juga telah menerima akibat dari snow balling-nya kesadaran ekonomi umat.

Namun, pekerjaan baru dimulai. Begitu momentum hadir, tugas pertama dan terpenting adalah bagaimana menjaga agar mementum terus berkembang. Di sini kekuatan mental harus dihadirkan. Sederhananya dengan contoh kalimat, "Aku atau kita harus bisa mewujudkan ekonomi umat ini"

Dengan tekad demikian, satu momentum akan menderivasi momentum lain dan tentu saja, momentum itu akan terus bergulir, sampai pada akhirnya, idealita yang diharapkan dari pertama kali momentum itu hadir, benar-benar mewujud dalam kehidupan.

Dalam sudut pandang ilahiyah, hadirnya momentum tersebut adalah sebuah pertanda bahwa Allah "mengajak" kita untuk sadar akan kerja nyata dalam menampilkan Islam sebagaimana mestinya. Dimana kala Islam jaya, semua damai dalam bingkai misi rahmatan lil'alamin.

Harta yang melimpah di tangan Utsman bin Affan sangat berfaedah besar bagi pembangunan. Harta yang meruah di tangan Abdurrahman bin Auf juga berdampak positif luas terhadap maslahat kehidupan umat manusia.

Dengan kata lain, umat Islam harus benar-benar bekerja secara nyata, di antaranya pada sektor ekonomi, sehingga kemaslahatan berubah posisi, dari harapan menjadi kenyataan.

Didin Hafidhuddin dalam bukunya "Agar Harta Berkah dan Bertambah" menuliskan, bahwa setiap Muslmi hendaknya bisa memandang harta sebagaimana tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dimanfaatkan sebaik mungkin bagi terwujudnya ajaran Islam secara utuh.

Kedudukan harta di dalam Islam adalah sebagai bekal ibadah dan perjuangan. Dengan harta yang dimiliki, seorang Muslim akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang paling berharga, yaitu surga. Dengan hartanya itu seorang Muslim membeli surga dengan perniagaan yang ditunjukkan Allah di dalam Ash-Shaf: 11.

Dengan kata lain, pengejawantahan konsep Islam tentang ekonomi, termasuk harta memang harus diwujudkan segera dengan kerja-kerja nyata. Kita bisa bayangkan, ternyata produk roti saja, bisa mendatangkan kekuatan modal yang sangat besar. Bagaimana jika kemudian ini menjadi kekuatan besar umat Islam paska 212?!

Terakhir, belum lama ini saya bertemu dengan seorang dai yang juga pengusaha peternakan dengan fokus layanan aqiqah dan kurban. Ketika saya tanya, bagaimana aqiqah ini bisa memberikan 'kekuatan finansial' dalam hidupnya, ia menjawab:

"Ini adalah syariat Allah. Jadi menekuni layanan aqiqah dan kurban akan memberikan kekuatan istimewa, dibanding bisnis secara biasa. Mungkin prosesnya akan sama, jatuh bangun, tetapi ada nilai lebih yang bisa dirasakan dan sulit diceritakan. Tetapi faktanya ini nyata, dimana kami dulu usaha dari nol, kini sekarang sampai pada tahap seperti ini. Dan, Subhanalloh, ternyata lewat kerja ekonomi semacam ini banyak perintah Allah yang lain bisa diamalkan sekaligus, seperti silaturrahim, menguatkan persaudaraan. Jadi, asal tekun, menjalankan apa yang Allah perintahkan, termasuk dalam hal ekonomi, pasti mendatangkan keberkahan."

Di sini saya semakin dibuat kagum oleh pernyataan seorang pengurus Kwarnas yang saya sampaikan di atas, bahwa di negeri ini terlalu banyak isu dibahas, sementara apa yang dilakukan menjadi tidak jelas.

Berbuatlah dengan jelas, sebagaimana Nabi Nuh jelas membuat kapal, Nabi Ibrahim jelas membangun Ka'bah, Nabi Daud jelas menekuni dunia besi, Nabi Yusuf jelas memahami masalah keuangan dan ekonomi. Jelaslah seperti Nabi Musa kala menggembala. Dan jelaslah seperti Rasulullah menggembala dan berniaga.

Nama-nama mereka Allah abadikan di dalam Al-Qur'an karena jelasnya pikiran dan tindakannya.

Artinya, kalau kita ingin lebih jelas sebagai diri dan umat, gelombang 212 yang melahirkan banyak momentum mesti membuat hari-hari kita semakin jelas dengan pemikiran dan perbuatan yang juga jelas alias

Jangan salahkan Jepang unggul di dunia, karena kejelasan mereka dalam otomotif dan teknologi.

Dan, sejauh bangsa Indonesia, masih suka bahas isu dan tidak jelas dalam aksi nyata, sejauh itu, kemakmuran, keadilan, dan kemajuan akan nyaman diurai dalam forum seminar dan diskusi. Sampai-sampai boleh jadi kita lupa, bahwa semua itu semestinya sudah lama menjadi kenyataan hidup di NKRI ini.  Wallahu a'lam.
_____

*IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis, mantan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kutai Kartanegara, Kaltim

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel