News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Timnas Indonesia Tetaplah Membanggakan

Timnas Indonesia Tetaplah Membanggakan


APAKAH yang membuat rakyat Indonesia senang, sekalipun tidak semua. Relatif mereka yang disebut sebagai generasi muda akan menunjuk pada kemenangan Timnas pada leg pertama laga final Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari Cibinong Bogor, yang berhasil menekuk tim gajah putih Thailand dengan skor 2-1.

Sudah diulas oleh banyak media, bahwa kemenangan ini adalah modal dan akan menjadi sejarah pertama bagi Timnas Indonesia jika berhasil  menjadi juara. Sebab, selama ini Timnas Indonesia langganan menjadi runner-up.

Kini, sinar kemenangan, sinar harapan akan kedigdayaan sepakbola Indonesia di Asia Tenggara benar-benar telah di depan mata. Semoga ini bisa menjadi turning point persepakbolaan dalam negeri untuk terus bersinar di seluruh pentas jagad dunia.

Tidak berlebihan jika seluruh elemen bangsa berharap demikian. Anung Handoko dalam bukunya "Sepakbola Tanpa Batas" menjelaskan bahwa sepakbola adalah olahraga paling populer di Indonesia, telah mendarah daging bagi masyarakat yang muda hingga yang tua.

Dan, harapan itu berkelindan dengan komposisi timnas saat ini yang dihuni para ksatria muda dengan sorot mata yang tajam dan pandangan jiwa yang visioner. Artinya, dua atmosfer besar telah bertemu, harapan anak bangsa seluruhnya dan kesiapan mental seluruh legiun timnas dibawah asuhan Alfred Riedl.

Rizki Pora dan Hansamu Yama Pranata telah menjadi "pendekar" bangsa Indonesia dengan gol spektakulernya. Dan, tentu saja, dengan usia yang masih muda, keduanya memiliki ruang yang cukup untuk terus membawa timnas Indonesia kian berjaya.

Bahkan, lebih jauh kita berharap, kemenangan petang ini benar-benar menjadi kenyataan. Yang nantinya tidak saja akan mencatatkan sejarah emas sepakbola bangsa, tetapi juga merubah cara berpikir pengelola regulasi sepakbola nasional yang belum berpihak pada kejayaan timnas.

Kita berharap catatan Anung Handoko tentang faktor penyebab terpuruknya prestasi sepakbola Indonesia bisa segera terurai dan dihentikan, yakni buruknya kinerja organisasi sepakbola tertinggi di negeri ini PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).

Anung menguraikan, "Kebijakan PSSI sering kali tidak konsisten dan tidak berkelanjutan. Hal ini bisa dilihat dalam pembinaan pemain muda dan pelaksanaan kompetisi Liga Indonesia" (lihat halaman 57).

Lebih lanjut Anung menyatakan bahwa dalam pembinaan pemain muda, PSSI lebih cenderung melaksanakan pembinaan pemain secara instant (proyek jalan pintas) dan tidak berkelanjutan.

Bahkan, Timnas U-23 yang konon menghabiskan dana lebih dari 20 miliar selama berlatih di Belanda, gagal total dalam kualifikasi Olimpiade setelah kalah 4 kali berturut-turut (lihat halaman 58).

Catatan di atas harus diakhiri dan bangsa Indonesia memang membutuhkan para penggerak PSSI yang visioner dan kapabel dalam menjalankan tugas.

Jika tidak, bangsa ini akan terus terpuruk, terpojok, meski di pentas sepakbola.

Menarik catatan seorang Arief Natakusumah dalam bukunya "Drama itu Bernama Sepakbola."

"Saat menjalani tugas jurnalistik ke luar negeri, saya sering dibuat melongo oleh pertanyaan sepele. Mulai dari petugas imigrasi, sopir taksi, resepsionis hotel, para rekan wartawan, kadang sampai pemain bilang begini: "Wah, dari Indonesia? Mengapa Anda mau datang jauh-jauh ke sini cuma untuk sepak bola?"

Kemudian dilanjutkkan, "Walau demikian, ada juga saatnya saya terpojok, yang bikin hati mangkel plus napas di hidung jadi panas. "Apa Indonesia punya kompetisi liga?" kata seorang petugas Imigrasi di Polandia pada 1997, entah karena iseng atau lugu."

Artinya, harapan besar terhadap timnas kali ini benar-benar pelipur lara seluruh rakyat Indonesia. Akhirilah tradisi buruk yang selama ini menggelayut dalam benak bangsa ini. Dan, kita bisa berharap, tersenyum sembari terus berdoa, timnas kali ini akan benar-benar juara.

Lebih jauh, kalau kita amati, kehadiran Hansamu Yama, Evan Dimas dan yang lainnya di timnas kali ini tidak lagi sama seperti yang dicatatkan Aung.

Ia memang telah dibina sejak bersama Indra Sjafrie di skuat timnas U-19. Dengan kata lain, seolah ada kekuatan ghaib, timnas telah keluar dari budaya instan yang pada akhirnya selalu bikin sesak nafas publik dan semua pecinta sepakbola.

Dan, agar timnas tetap membanggakan, mari berubah, mari berbenah. Bangsa ini harus menetapkan pola pengaturan dan pemilihan pengurusan sepakbola sedari sekarang.

Kembangkan terus talenta anak-anak timnas hari ini. Siapkan mereka jadi juara di berbagai ajang. Dan, pilihlah mereka ke depan sebagai punggawa yang mengawal regulasi kemajuan sepakbola Indonesia.

Sebab, logika siapapun akan kebingungan melihat banyaknya orang mengurus sepakbola, yang berlari saja mereka tidak pernah. Atau setidak-tidaknya, pemimpin PSSI ke depan adalah orang yang benar-benar tidak pernah berpisah dengan lapangan hijau.

Peringatan dari Nabi Muhammad itu sederhana, "Kalau suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya, tunggulah saat kehancuran."

Jika hal ini dijalankan di sepakbola dan seluruh instansi pemerintahan, maka tidak saja timnas yang akan terus membaggakan, tetapi bangsa ini kedepannya juga akan maju dnegna prestasi gemilang nan mengagumkan. Andai itu sulit, setidaknya kita bisa berharap, dari timnaslah semua itu kita wujudkan.

___________
*IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis nasional.news dan aktifis sosial.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.