Hidayatullah Pelopor Pernikahan Massal, Terus Merawat Kekhasan

JAKARTA - Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata "pernikahan massal"? Unik, sudah tentu. Selain itu, akan tergambar berjajar pasangan pengantin duduk di pelaminan. Ya, demikianlah pernikahan yang digelar secara massal.

Namun, tahukah Anda pelopor pernikahan massal di Indonesia? Nama yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi pernikahan massal adalah Hidayatullah. Organisasi massa Islam yang berbasis di Balikpapan ini layak disebut sebagai trendsetter atau pelopor pernikahan massal, bahkan boleh jadi yang pertama kali menggelar pernikahan massal di dunia.

Sebelum populer seperti sekarang, masyarakat Indonesia mungkin tak pernah mendengar atau menyaksikan pernikahan massal digelar. Seiring waktu, tradisi unik ini kemudian berkembang dan banyak ditiru oleh masyarakat bahkan tak jarang kita mendengar pernikahan massal yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Menurut catatan Manshur Salbu, penulis buku sejarah Hidayatullah berjudul "Mencetak Kader", disebutkan bahwa pernikahan massal Hidayatullah digelar kali pertama pada 6 Maret 1977 yang diikuti oleh 2 pasang santri yaitu Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah.

Setelah yang pertama, tradisi pernikahan mubarak ini terus berlanjut mulai dari 4 hingga puluhan pasang. Pada tahun 1991 terdapat 47 pasang yang dihadiri oleh Menteri Perhubungan H Azwar Anas.

Selanjutnya, tahun 1994, digelar pernikahan mubarak sebanyak 61 pasang yang dihadiri oleh Guru Bangsa, B.J. Habibie dan sejumlah tokoh nasional lainnya masa itu.

Lambat laun, helatan ini terus digalakkan. Bahkan pada tahun 1997, Hidayatullah menggelar pernikahan serupa dengan peserta yang cukup prestisius yakni sebanyak 100 pasang santri yang dihadiri oleh tokoh nasional dan lokal Kalimantan Timur termasuk mantan Walikota Balikpapan Asnawir Arbain yang juga dikenal sebagai sesepuh Hidayatullah.

Tradisi pernikahan massal di Hidayatullah rutin digelar di berbagai kampus-kampus Pondok Pesantren Hidayatullah di Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke. Tradisi ini terus terjaga hingga kini.

Jumlah peserta pernikahan massal Hidayatullah umumnya minimal diikuti oleh 3 sampai puluhan hingga ratusan pasang. Sudah tak terbilang kegiatan semacam ini digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, yang merupakan pusat jaringan Hidayatullah.

Pernikahan Mubarak

Seiring dengan semakin berkembangnya tradisi ini dimana telah banyak diikuti oleh berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah, Hidayatullah pun perlu memastikan bahwa kegiatan pernikahan massal ala Hidayatullah ini tak kehilangan esensi dan kekhasannya.

Pernikahan massal di Hidayatullah memiliki kekhasan yang barangkali tak ditemui di penyelenggaran pernikahan massal pada umumnya. Apalagi saat ini telah beragam gelaran pernikahan massal yang meriah secara seremonial namun kadangkala melupakan aspek-aspek fundamental sebagaimana tuntunan agama dan selaras dengan adat ketimuran.

Karena itu, sematan nama "pernikahan massal" di Hidayatullah dibubuhi keterangan tambahan "mubarak", sehingga menjadi "Pernikahan Massal Mubarak". Bukan tanpa sebab. Penamaan itu tak lain semata mata dalam rangka upaya merawat ciri khasnya dan menjaga kesakralan pernikahan. Kata "mubarak", juga sebagai doa dan ikhtiar semoga pernikahan yang diinisiasi ini mendapatkan keberkahan Allah SWT.

Pernikahan massal Hidayatullah memang terkesan jauh dari kemewahan namun terasa sangat "mewah" dengan beragam rangkaian pra-acara yang melatari dan menyertainya pasca ijab kabul.

Pernikahan massal Hidayatullah terasa sakral dan diametral dimana pasangan mempelai pengantin dipisah oleh hijab menjulang sehingga undangan resepsi pun tak bercampur. Peserta pun harus mengikuti pembekalan pra-nikah dengan materi-materi yang pokok tentang membangun keluarga dan mengokohkannya. 

Kekhasan pernikahan mubarak Hidayatullah lainnya adalah peserta harus masih perjaka dan gadis serta telah memenuhi persyaratan diantaranya siap ditugaskan berdakwah di mana saja pasca menikah. Peserta juga harus memiliki kelengkapadan data administrasi kependudukan serta mengurus syarat-syarat pernikahan karena setiap pernikahan massal Hidayatullah selalu bersinergi dengan Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. 

"Ini pernikahan yang romantis," kata Rahmat Hidayat, salah satu alumni pernikahan ini kepada saya.  Dalam banyak cerita roman alumni pernikahan ini, memang sarat dengan kisah kasih bak pelangi di pagi hari. Indah mewangi. Apalagi memang mereka tak pernah saling kenal. Jadi mereka pacarannya setelah menikah. Yah, pastilah saling malu-malu kucing.

Misalnya, ada dai peserta pernikahan mubarak yang menunda berbulan madu karena harus langsung menuju tempat tugas. Padahal istri baru dilihat sekilas dan menyebut namanya pun masih keliru. Sebab, terkadang tempat tugas yang dituju belum ada apa-apa selain lahan kosong atau hanya bangunan setengah jadi.

Masih banyak kisah romantis peserta pasangan pernikahan massal mubarak yang tak pernah saling kenal sebelumnya ini seperti dimuat dalam buku "Indahnya Jalan Dakwah" karya monumental Mujahid M. Salbu yang terbitkan MS Publishing pada bulan November 2008.

Lebih dari itu, pernikahan mubarak Hidayatullah tak mengenal pacaran. Selain karena memang yang menikah adalah santri/santriwati atau kader-kader Hidayatullah yang telah mendapatkan gemblengan tentang tentang tak bolehnya pacaran.

Syariat agama juga menganjurkan meringankan mahar pernikahan. Oleh karena itu, peserta pernikahan mubarak Hidayatullah tak menyerahkan mahar. Peserta khususnya yang laki-laki hanya perlu mengeluarkan dana keperluan perlengkapan pakaian pasangan pengantin serta dana untuk pengurusan administrasi. Namun, jika memang tak mampu sama sekali, tak membayar sepesar pun.

Mantapkan Program

Sebagai institusi yang memprakarsai program pernikahan massal di Indonesia bahkan boleh jadi pertama di dunia, Hidayatullah akan memantapkan program tersebut mengingat urgensinya sebagai warisan luhur pendahulu Hidayatullah.

Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah Muhammad Arasy Arhat mengatakan pernikahan massal yang rutin diselenggarakan Hidayatullah merupakan kekayaan tersendiri yang menjadi ciri khas Hidayatullah.

“Karenannya, akan kita mantapkan terus agar tradisi ini senantiasa terawat karena memang merupakan kekayaan lembaga yang tidak ada di tempat lain,” kata Arasy belum lama ini dan dikutip laman resmi Hidayatullah, Rabu (18/10/2017).

Arasy melanjutkan, kendati saat ini bermunculan kegiatan serupa namun program pernikahan massal Hidayatullah terbilang unik sebab memuat nilai-nilai khas yang berbeda yang berlandas pernikahan yang sesuai syariat Islam.

“Makanya, walaupun acaranya pernikahan massal tapi kita namakan pernikahan mubarakah. Ada nilai-nilai keberkahan yang ingin kita raih dari ikhtiar ini,” kata Arasy.

Peserta pernikahan mubarak diperuntukkan bagi kader atau santri-santri Hidayatullah yang telah memasuki usia matang. Sebagaimana gelaran serupa yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya, peseta berstatus perjaka dan gadis.

Pernikahan mubarak Hidayatullah murah meriah. Jika umumnya menikah kerap harus mengeluarkan biaya mahal untuk mahar, resepsi acara, dan sejumlah pernak-pernik lainnya yang tak jarang sangat memberatkan mempelai, pernikahan mubarak Hidayatullah justru semaksimal mungkin meringankan peserta.

Modalnya biasanya cukup 1 atau 2 juta, itupun untuk keperluan pengurusan peserta seperti surat-surat administrasi, mahar, pagelaran resepsi acara.

Anggota Dewan Majelis Penasehat Pusat, Ustaz H Abdul Qadir Jailani, yang juga perintis Hidayatullah, mengatakan tugas memasangkan puluhan calon mempelai jelas bukanlah pekerjaan ringan.

Itulah mengapa, kata dia, tim SC yang ditunjuk merupakan orang-orang berpengalaman yang juga mayoritas kader pendahulu Hidayatullah.

“Ada penelusuran peserta dari aspek pemahaman keislaman, kehidayatullahan, pernikahan, dan kepribadian. Semua peserta harus melawati proses ini. Ada dua tim yang menangani ini,” jelas Abdul Qadir yang juga peserta pernikahan massal  mubarak angkatan pertama ini.

Tujuan penelusuran, lanjutnya, semata-mata untuk mengetahui kesiapan dan persiapan peserta sebagai imam di rumah kelak, serta sebagai ajang seleksi peserta. 

BOBBY SETYANTO

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel