Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Hidayatullah Pelopor Pernikahan Massal di Indonesia bahkan Dunia

Sabtu, 06 Mei 2017 | 13:15 WIB Last Updated 2020-05-31T17:08:58Z
APA YANG terlintas di benak Anda ketika mendengar kata "pernikahan massal"? Unik dan seru, sudah tentu.

Selain itu, akan tergambar di benak kita jejeran pasangan pengantin duduk di pelaminan. Ya, demikianlah umumnya pernikahan yang digelar secara massal.

Namun, tahukah Anda siapa pemrakarsa pernikahan massal di Indonesia? Tidak berlebihan jika nama yang disebut mempelopori tradisi pernikahan massal ini adalah Hidayatullah.

Organisasi massa Islam yang berbasis di Balikpapan ini layak disebut sebagai trendsetter atau pelopor pernikahan massal, bahkan, boleh jadi, yang pertama kali menggelar pernikahan massal di dunia.

Sebelum populer seperti sekarang, masyarakat Indonesia mungkin tak pernah mendengar atau menyaksikan pernikahan massal digelar.

Seiring waktu, tradisi unik ini kemudian berkembang dan banyak ditiru kelompok masyarakat. Bahkan tak jarang kita mendengar pernikahan massal yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Menurut catatan Manshur Salbu, penulis buku sejarah Hidayatullah beserta berjudul "Mencetak Kader", disebutkan bahwa pernikahan massal Hidayatullah digelar kali pertama pada tanggal 6 Maret 1977 yang diikuti oleh 2 pasang santri yaitu Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati dserta Sarbini Nasir dengan Salmiyah.

Setelah yang pertama, tradisi pernikahan massal ini terus berlanjut dengan jumlah yang lebih banyak. Mulai dari 4 hingga puluhan pasang peserta.

Pada tahun 1991 kembali digelar pernikahan massal santri Pesantren Hidayatullah Balikpapan dengan 47 pasang peserta yang dihadiri oleh Menteri Perhubungan H Azwar Anas.

Selanjutnya, tahun 1994, digelar pernikahan massal yang lebih banyak peserta sebanyak 61 pasang dai/daiyah yang dihadiri oleh Guru Bangsa, B.J. Habibie dan sejumlah tokoh nasional lainnya di masa itu.

Lambat laun, helatan ini terus digalakkan. Bahkan pada tahun 1997, Hidayatullah menggelar pernikahan serupa dengan peserta yang cukup prestisius yakni sebanyak 100 pasang santri yang dihadiri oleh tokoh nasional dan lokal Kalimantan Timur termasuk mantan Walikota Balikpapan Asnawir Arbain yang juga dikenal sebagai sesepuh Hidayatullah.

Tradisi pernikahan massal di Hidayatullah rutin digelar di berbagai kampus-kampus Pondok Pesantren Hidayatullah di Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke. Tradisi ini terus terjaga hingga kini.

Jumlah peserta pernikahan massal Hidayatullah umumnya minimal diikuti oleh 3 sampai puluhan hingga ratusan pasang.

Sudah tak terbilang jumlahnya kegiatan semacam ini digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, yang merupakan pusat jaringan Hidayatullah.

Pernikahan Massal Mubarak

Seiring dengan semakin berkembangnya tradisi ini dimana telah banyak diikuti oleh berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah, Hidayatullah pun merasa perlu menegaskan corak khas yang dibawa dari kegiatan pernikahan massal ini agar bukan menjadi seremoni perayaan semata.

Karena itu, sematan nama "pernikahan massal" di Hidayatullah dibubuhi keterangan tambahan "mubarak", sehingga menjadi "Pernikahan Massal Mubarak". Hal ini dilakukan agar pernikahan massal ala Hidayatullah tak kehilangan esensi.

Pernikahan massal di Hidayatullah memang memiliki kekhasannya tersendiri yang barangkali tak ditemui di penyelenggaran pernikahan massal pada umumnya.

Apalagi, saat ini telah beragam acara pernikahan massal yang digelar namun kadangkala melupakan aspek-aspek fundamental dari pernikahan sebagai ibadah sebagaimana tuntunan agama. Misalnya bercampurnya tamu laki-laki dan perempuan atau ikhtilath dan berbagai panduan syariah lainnya.

Itulah makanya penamaan "Pernikahan Massal Mubarak" bukan tanpa sebab. Penamaan itu tak lain semata mata dalam rangka upaya merawat ciri khasnya dan menjaga kesakralan pernikahan.

Kata "mubarak", juga sebagai doa dan ikhtiar semoga pernikahan yang diinisiasi ini mendapatkan keberkahan Allah SWT.

Pernikahan massal mubarak Hidayatullah menjadi begitu "mewah" dan teramat istimewa dengan adanya rangkaian kegiatan pra-acara dan pasca acara yang penuh dengan pengalaman mengesankan yang sukar dibahasakan. Hal ini sebagaimana diamini umumnya peserta yang telah mengikuti acara ini.

Pernikahan massal Hidayatullah terasa sakral dan diametral dimana pasangan mempelai pengantin dipisah oleh hijab menjulang sehingga undangan resepsi pun tak bercampur.

Peserta pun harus mengikuti pembekalan pra-nikah selama kurang lebih 1 bulan dengan materi-materi pokok dan mendasar tentang membangun keluarga dan mengokohkannya. 

Kekhasan pernikahan mubarak Hidayatullah lainnya adalah peserta harus masih perjaka dan gadis serta telah memenuhi persyaratan diantaranya siap ditugaskan berdakwah di mana saja pasca menikah.

Peserta juga harus memiliki kelengkapadan data administrasi kependudukan serta mengurus syarat-syarat pernikahan karena setiap pernikahan massal Hidayatullah selalu bersinergi dengan Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. 

"Ini pernikahan yang romantis. Tak terlupakan," kata Rahmat Hidayat, salah satu alumni pernikahan ini kepada saya. 

Dalam banyak cerita roman alumni pernikahan ini, memang sarat dengan kisah kasih bak pelangi di pagi hari.

Indah mewangi. Apalagi sebagai santri dan santriwati, memang mereka tak pernah saling kenal. Jadi mereka "pacarannya" setelah menikah. Yah, pastilah saling malu-malu kucing. Kerap pula ada yang harus menunda berbulan madu. 

Misalnya, ada dai peserta pernikahan mubarak yang menunda berbulan madu karena harus langsung menuju tempat tugas. Padahal istri baru dilihat sekilas dan menyebut namanya pun masih keliru.

Tugas dakwah terkadang tak bisa ditinggal lama. Sebab, umat menunggu. Terkadang tempat tugas yang dituju pun belum ada apa-apa selain lahan kosong atau hanya bangunan setengah jadi.

Masih banyak kisah romantis peserta pasangan pernikahan massal mubarak yang tak pernah saling kenal sebelumnya ini seperti dimuat dalam buku "Indahnya Jalan Dakwah" karya monumental Mujahid M. Salbu yang terbitkan MS Publishing pada bulan November 2008.

Syariat agama menganjurkan meringankan mahar pernikahan. Oleh karena itu, peserta pernikahan mubarak Hidayatullah tak dibebani dengan keharusan menyerahkan mahar yang tinggi.

Peserta laki-laki hanya perlu mengeluarkan dana dengan jumlah tertentu guna keperluan perlengkapan pasangan pengantin serta dana untuk pengurusan administrasi, dan sudah termasuk mahar. Namun, jika memang tak mampu sama sekali, tak membayar sepesar pun.

Mantapkan Program

Sebagai institusi yang memprakarsai program pernikahan massal di Indonesia bahkan boleh jadi pertama di dunia ini, Hidayatullah memantapkan program tersebut mengingat urgensinya sebagai warisan luhur pendahulu Hidayatullah.

Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah Muhammad Arasy Arhat mengatakan pernikahan massal yang rutin diselenggarakan Hidayatullah merupakan kekayaan tersendiri yang menjadi ciri khas Hidayatullah.

“Karenannya, akan kita mantapkan terus agar tradisi ini senantiasa terawat karena memang merupakan kekayaan lembaga yang tidak ada di tempat lain,” kata Arasy belum lama ini dan dikutip laman resmi Hidayatullah, Rabu (18/10/2017).

Arasy melanjutkan, kendati saat ini bermunculan kegiatan serupa namun program pernikahan massal Hidayatullah tetap pada nilai-nilai khasnya yang sakral, khidmat dan penuh nuansa kebahagiaan.

“Makanya, walaupun acaranya pernikahan massal tapi kita namakan pernikahan mubarakah. Ada nilai-nilai keberkahan yang ingin kita raih dari ikhtiar ini,” kata Arasy.

Pernikahan mubarak Hidayatullah murah meriah. Jika umumnya menikah kerap harus mengeluarkan biaya mahal untuk mahar, resepsi acara, sewa tenda dan sejumlah pernak-pernik lainnya yang tak jarang sangat memberatkan mempelai, pernikahan mubarak Hidayatullah justru semaksimal mungkin meringankan peserta.

Modalnya biasanya cukup 1 atau 2 juta, itupun untuk keperluan pengurusan peserta seperti surat-surat administrasi, mahar, pagelaran resepsi acara dan sebagainya.

Anggota Dewan Majelis Penasehat Kamps Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Ustaz H Abdul Qadir Jailani, yang juga perintis Hidayatullah, mengatakan tugas memasangkan puluhan calon mempelai jelas bukanlah pekerjaan ringan.

Itulah mengapa, kata dia, tim steering committe (SC) yang ditunjuk merupakan orang-orang berpengalaman yang juga mayoritas kader pendahulu Hidayatullah.

“Ada penelusuran peserta dari aspek pemahaman keislaman, kehidayatullahan, pernikahan, dan kepribadian. Semua peserta harus melawati proses ini. Ada dua tim yang menangani ini,” jelas Abdul Qadir yang juga peserta pernikahan massal mubarak angkatan pertama ini.

Tujuan penelusuran, lanjutnya, semata-mata untuk mengetahui kesiapan dan persiapan peserta sebagai imam di rumah kelak, serta sebagai ajang seleksi peserta. 

ANCHAL EL SHANTAANIY
×
Dari JempolKU Beramal+