News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Jadi Mukmin Pantang Ingkar Janji, Ibrah dari Sosok Anas Nadhr

Jadi Mukmin Pantang Ingkar Janji, Ibrah dari Sosok Anas Nadhr

Menabur janji merupakan hal yang tidak boleh dianggap sepele. Umat Islam diwajibkan untuk menunaikan setiap janji-janjinya yang diumbarnya agar tidak masuk dalam kategori munafik (sumber foto ilustrasi: Pixabay)

DAHULU
, ada seorang sahabat Nabi bernama Anas bin An-Nadhr. Dia amat menyesal karena tidak ikut perang Badr bersama Rasulullah.

Dia berjanji jika Allah memperlihatkan kepadanya medan pertempuran bersama Rasulullah, niscaya Allah akan melihat pengorbanan yang dilakukannya.

Ketika berkobar perang Uhud, dia berangkat bersama Rasulullah. Dalam perang ini kaum muslimin terpukul mundur dan sebagian lari dari medan pertempuran.

Di sinilah terbukti janji Anas. Dia terus maju menerobos barisan musuh sehingga terbunuh.

Ketika perang telah usai didapati pada tubuh Anas bin An Nadhr ada 80 lebih tusukan pedang, tombak, dan panah. Tidak ada yang bisa mengenalinya kecuali saudarinya.

Setelah kejadian itu, turunlah ayat, "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya)".

Menepati Janji


Hukum asal dari berjanji adalah mubah. Selama seseorang mampu untuk menepati janji, maka ia boleh berjanji.

Bagi seorang muslim, janji tak ubahnya seperti hutang. Ia harus dibayar dan dipenuhi seperti yang dijanjikan. Maka menepati janji adalah wajib hukumnya.

Janji ringan terucap oleh lisan. Ia sangat mudah terlontar. Sebagai ayah, betapa sering kita mengobral janji kepada anak tapi tak tertunai.

Sebagai guru, betapa entengnya kita berjanji kepada murid tapi tak ditepati. Sebagai suami, betapa manisnya janji kita kepada istri tapi tak terealisasi.

Padahal, dalam Firman-Nya di surat Al Isra’: 34, Allah Ta'aala menegaskan: "Penuhilah janji itu. Sesungguhnya janji itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban".

Islam mengajarkan ummatnya untuk membalut diri dengan akhlak yang mulia. Salah satunya adalah menepati janji. Seseorang yang telah berjanji atas sesuatu, ia harus menepatinya. Menepati janji merupakan salah satu ciri dan karakteristik orang yang bertaqwa.

Allah berfirman:

"... dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, ..., mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqaroh: 177)

Di ayat lain, Allah berfirman:

"Sebenarnya, siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa" (Q.S. Ali 'Imran: 76)

Ada beberapa alasan, mengapa seseorang harus menepati janji.

Pertama, dengan menepati janji, ada garansi bebas dari kekafiran. Sebagaimana terjadi pada bangsa Yahudi dahulu. Mereka berani melanggar janji setiap kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka lebih memilih meninggalkan janji Allah berupa keimanan.

Kedua, dengan menepati janji, maka kita telah menjaga kedamaian dan keamanan di dunia. Selain itu, kita juga telah menjauhkan dari kemungkinan terjadinya pertumpahan darah, juga telah melindungi hak-hak hamba; baik muslim maupun kafir. Hal ini sebagaiman diterangkan di surat al-Anfal ayat 72.

Ketiga, ada garansi dihapusnya dosa-dosa dan menjadi sebab masuk surga. Sebagaimana Firman Allah di Al Baqarah ayat 40: "Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, maka Aku penuhi janji-Ku kepadamu". Yaitu, janji akan dimasukkan kedalam surga, sebagaimana dikatakan Ibnu Jarir dalam tafsirnya.

Bahaya Ingkar Janji
Khianat adalah lawan dari amanah. Ingkar janji adalah lawan dari menepati janji. Jika amanah dan memenuhi janji termasuk ciri dan karakteristik ketaqwaan, maka khianat dan ingkar janji adalah karakter orang munafik nan durhaka.

Secara tegas, Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam melarang perbuatan ingkar janji.

“Barangsiapa yang tidak menepati janji seorang muslim,” kata nabi shallallahu alayhi wasallam, sebagaimana direkam Bukhari dan Muslim, “maka ia akan mendapat laknat dari Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya tebusan dan taubat.

Selain itu, lebih jelas lagi, Nabi shallallahu alayhi wasallam menggolongkan pelaku ingkar janji sebagai orang munafik.

Sabda Rasulullah yang lain:

“Empat hal yang jika ada pada seseorang, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat, jika bertikai melampaui batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai  dia meninggalkannya.”

Orang munafik adalah orang yang di dalam hatinya ada sifat nifaq. Nifaq adalah muka dua; menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan.

Orang munafik adalah orang yang paling tidak jelas. Omongannya menyelisi tindaknya. Batinnya menyelisihi lahirnya. Tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya. Kehadirannya menyelisihi ketiadaannya.

Orang munafik, menurut al-Qur’an, berada di neraka. Allah berfirman dalam an-Nisa: 145, "Sesungguhnya orang-orang munafik ditempatkan di neraka paling dasar". Naudzubillah.*

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.