News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Rohingya Memanas Setelah Kebangkitan Jihadis Pasca Ramadhan

Rohingya Memanas Setelah Kebangkitan Jihadis Pasca Ramadhan

Gubernur Rakhine, Nyi Pu (kiri menggunakan kemeja putih) bersama para panglima militer Rakhine  berjalan setelah pertemuan mereka dengan diplomat utusan PBB dan tim pencari fakta kejahatan kemanusiaan Rohingya di daerah Maungdaw di negara bagian Rakhine Utara di Myanmar pada tanggal 3 November 2016.
(Reuters/Wa Lone Reuters)

(NASIONAL News) - Tentara nasional Myanmar Selasa kemarin (27/06/2/2017) akhirnya dikerahkan ke Rakhine. Provinsi dengan mayoritas penduduk muslim Rohingya yang selalu didiskriminasi oleh pemerintah Myanmar.

Pasca Ramadhan ini, tensi krisis Rohingya meningkat dan kian memanas menyusul kebangkitan perlawanan dari kelompok jihadis di kawasan tersebut.

Seperti di lansir Reuters (27/06/2017), hal ini dilakukan setelah jihadis Rohingya berhasil membuat hampir 200 warga Budha Rakhine melarikan diri setelah serangkaian aksi pembunuhan baru-baru ini dan di tengah kekhawatiran serangan baru oleh jihadis Rohingya

Bahkan Gubernur Rakhine Nyi Pu dan pejabat pemerintah senior telah menghilang pergi dari daerah tersebut setelah menerima laporan warga desa yang melarikan diri, kata beberapa pejabat, dan penjaga perbatasan di negara tetangga Bangladesh juga telah diberi peringatan.

Jihadis Rohingya juga telah menyerang pos penjaga perbatasan Myanmar pada bulan Oktober tahun lalu.

Seperti diketahui, sebelumnya tindakan keras militer Myanmar menyebabkan ratusan orang terbunuh, sehingga membuat lebih dari 1.000 rumah terbakar dan sekitar 75.000 muslim Rohingya terpaksa melarikan diri ke Bangladesh dan beberapa negara Asia Tenggara namun ditolak, akhirnya masyarakat Aceh yang menampung mereka.

Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah membentuk sebuah tim pencari fakta untuk menyelidiki kejahatan kemanusiaan yang diduga dilakukan oleh militer selama serangan balik tersebut.

Namun pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi telah menolak tuduhan tersebut bahkan menentang misi tim yang dibentuk PBB tersebut.

Pertarungan di Rakhine telah berlangsung sporadis sejak akhir November, namun ketegangan meningkat dalam beberapa minggu terakhir ketika kepala desa di Rakhine dibunuh dan tentara membunuh tiga muslim saat membersihkan sebuah kamp jihadis Rohingya pekan lalu.

Koran Global New Light Myanmar mengatakan pada hari Selasa bahwa seorang muslim warga desa di Rakhine utara ditikam saat shalat shubuh di akhir pekan, menyusul serangan terpisah terhadap kepala desa oleh sekelompok "sekurang-kurangnya 10 penyerang bertopeng" yang menikam Pemimpin desa itu sampai mati pada 17 Juni.

"Pembunuhan tersebut terjadi akhir pekan lalu dan situasinya semakin parah, sekelompok orang yang memakai masker hitam telah membunuh administrator lokal yang dekat dengan pemerintah, sehingga warga panik, karena itulah kami sangat waspada," kata polisi negara bagian Rakhine Kepala, Sein Lwin, mengatakan kepada Reuters.

Sein Lwin dan seorang sumber militer yang beroperasi di wilayah tersebut mengatakan, pasukan keamanan sudah memperkirakan serangan jihadis Rohingya yang baru terhadap tentara setelah bulan Ramadan berakhir di Myanmar pada hari Senin.

Belum jelas berapa banyak orang yang terbunuh dalam kekerasan tersebut, atau siapa yang berada di belakangnya, karena militer memblokade daerah tersebut pada bulan Oktober, memotong akses terhadap informasi.

Kyaw Win, seorang warga desa Rakhine, mengatakan hampir 200 penduduk desa dari 11 desa etnis Rakhine telah melarikan diri ke kota Maungdaw, Buthidaung dan Sittwe.

"Kami tidak berani tinggal di sini, ada banyak rumor yang beredar di kalangan masyarakat bahwa kita akan diserang oleh umat Islam," kata Kyaw Win kepada Reuters melalui telepon.

Pengungsi Rohingya di permukiman darurat di Boor Cox dari Bangladesh juga telah mengorganisir patroli pertahanan untuk menjaga diri dari orang-orang bertopeng yang berkeliaran di kamp-kamp pada malam hari dalam beberapa pekan terakhir, kata sumber Reuters di kamp-kamp tersebut.

Pasukan Bangladesh di dekat perbatasan Myanmar juga mendapat kewaspadaan tinggi setelah laporan kekerasan pada akhir pekan, kata Letnan Kolonel SM Ariful Islam.*

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.