HNW: Ulama Jebolan Makkah-Madinah Berperan Nyata dalam Pembangunan

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) saat menyampaikan materi dalam acara Silaturrahmi Nasional Alumni Universitas Islam Madinah di Asrama Haji Pondok Gede, Sabtu 15 Juli 2017. (Foto: Naspi Arsyad/ NN Indonesia)

Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan para ulama terkhusus yang pernah menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah, memiliki peran nyata dalam pembangunan bangsa.

"Peran strategis ulama itu sebagaimana juga dinyatakan oleh Azyumardi Azra dalam disertasinya baik yang bersifat lokal ke-Indonesiaan atau internasional," katanya saat berpidato dalam acara Silaturrahmi Nasional Alumni Universitas Islam Madinah di Asrama Haji Pondok Gede, Sabtu 15 Juli 2017.

HNW menyebutkan, pada Muktamar Jam'iyyatul Khair pada tahun 1903, Jam'iyyatul Khair yang berdiri pada tahun 1901 diakui memiliki peran yang sangat serius.

"Syekh Al-Minangkabawy, mufti madzhab As Syafiiyah di Makkah yang juga guru dari pendiri Muhammadiyah dan NU, adalah salah satu ulama, terkhusus ulama Indonesia yang memiliki peran yang mendapat pengakuan internasional," imbuhnya.

Lebih jauh dalam acara seminar yang bertajuk "Peran dan Fungsi Strategis ulama dalam Pembinaan Umat, ini HNW menegaskan ulama dan alumni Timur Tengah memiliki komitmen kebangsaan yang tidak perlu diragukan.

"Dengan fakta-fakta nyata kiprah positif alumni Timur Tengah, tidak perlu ada kekhawatiran bahwa alumni Timur Tengah akan merongrong NKRI dan Pancasila," cetusnya.

Apatah lagi, lanjut HNW, secara empirik banyak alumni Timur Tengah yang notabene memiliki ilmu agama yang mendekati kapasitas ulama menjadi pejabat publik di beberapa daerah semisal Sambas, Seram Tengah, hingga ada yang menjadi anggota DPR-RI atau wakil ketua MPR-RI.

"Dan tidak ada diantara mereka yang terlibat atau terindikasi gerakan terorisme," tegas HNW.

HNW setengah berkelakar mengatakan Indonesia ini negara 'bukan-bukan'. Maksudnya, lanjut dia, bukan negara Islam juga bukan negara sekuler.

Indonesia juga bukan negara parlementer juga bukan kerajaan. Indonesia juga bukan negara dengan parlemen satu kamar seperti Saudi Arabia, juga bukan negara dengan parlemen dua kamar, kata HNW.

"Indonesia bukan sekedar negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia tapi juga dengan perguruan tinggi Islam terbanyak di dunia. Para ulama harus mampu memposisikan diri secara konstruktif di tengah-tengah arus perkembangan negara ini," pesannya menandaskan.

Dalam seminar ini juga menghadirkan Koordinator Staf Ahli Kapolri yang membahas tentang wawasan kebangsaan yang dipandu oleh Ustadz Bachtiar Nasir elaku Ketua Ikatan Alumni Universitas Islam Madinah.*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel