Kegaduhan Bangsa yang Tak Perlu dan Jalan Keluarnya

Keceriaan anak-anak negeri di Desa Woda, Kecamatan Oba, Kabupaten Tidore, Kepulauan Maluku Utara. Warga di sini umumnya masih hidup terisolir dengan keterbatasan fasilitas, Namun mereka tetap tersenyum bahagia di tengah kegaduhan yang melanda bangsa (Foto: Imam Nawawi/ NN Indonesia) 

BELAKANGAN ini, negeri kita begitu riuh dan gaduh. Bagi kaum muda, mungkin tidak begitu bising. Tapi, bagi orangtua, kegaduhan itu benar-benar mememkakkan telinga.

Tetapi, apa pasal kegaduhan itu sebegitu mengganggu? Tidak lain dan tidak bukan karena inkonsistensi, sehingga ketidakadilan begitu gamblang dipertontonkan.

Dalam kasus penistaan agama misalnya, proses berjalan alot dan menyita energi bangsa begitu besar. Padahal, dalam logika manusia awam, jelas itu penistaan. Tetapi narasi diputarbalikkan.

Pada sisi yang lain, tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba Tarif Dasar Listrik (TDL) membumbung. Kaum ibu pun menjerit, sebab tiba-tiba dalam sebulan harus tiga kali beli pulsa yang sebelumnya cukup satu kali membeli token listrik.

Kini muncul lagi kegaduhan baru, yakni viralnya kontroversi film yang menggambarkan Islam begitu jauh dari kenyataan, intoleran dan lain sebagainya. Ironisnya, film itu melibatkan institusi kepolisian.

Sedikit ke belakang, negeri ini juga ramai dengan kontroversi soal jam sekolah.

Pemerintah melalui Kemendikbud menetapkan hari sekolah 5 hari dalam sepekan dengan durasi belajar sepanjang 8 jam dalam sehari. Sontak, itu mengundang protes dari banyak pihak.

Kalau mau disebutkan satu persatu, tentu akan banyak sekali. Tetapi, mengapa itu semua bisa terjadi? Bukankah kita sudah punya Dasar Negara? Bukankah kita punya UUD 1945?

Dan, bukankah mayoritas penduduk NKRI ini juga punya ruh ajaran yang sangat agung dalam kehidupan?

Jawaban atas semua itu adalah, "Ya, punya." Tetapi mengapa tidak berjalan?

Dalam hal ini saya ingin mengajak sidang pembaca mendalami apa yang Allah Ta'ala tegaskan di dalam Al-Qur'an.

"Sekiranya mereka mengerjakan apa yang telah dinasihatkan kepada mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman mereka" (QS. An-Nisa [4]: 66).

Pertanyaanya, apa nasihat itu atas Warga Negara Indonesia? Tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah Pancasila.

Amalkanlah spirit Ketuhanan Yang Maha Esa itu dengan sungguh-sungguh, maka tidak mungkin ada oknum pejabat mau korupsi, karena dia yakin, Tuhan mengawasi, apalagi sampai berani korupsi berkelompok.

Sungguh tidak akan ada sejarah penggusuran di negeri ini kalau Kemanusiaan yang Adil dan Beradab diterapkan.

Tetapi, kita memilih cara kompeni dalam menghadapi rakyat kecil, main gusur. Padahal kita punya wejangan alias nasihat kemanusiaan.

Apalagi tentang keutuhan NKRI, nasihat dalam Pancasila adalah Persatuan Indonesia. Jadi, untuk apa mengatakan diri memperhatankan persatuan negeri tetapi pada saat yang sama menuduh yang cinta NKRI sebagai kelompok pencipta makar.

Demikian pula seterusnya dengan dua nasihat dalam dua sila terakhir Pancasila.

Sekalipun ayat Al-Qur'an tidak berhubungan kuat dengan problema kebangsaan, namun garis besar ayat tersebut bisa mensolusikan kegaduhan di negeri ini, dengan syarat semua sepakat hidup dengan nasihat para pendiri bangsa yang diwujudkan dalam bentuk dasar negara.

Pada saat yang sama, negara dan pemerintah akan sangat diuntungkan jika umat Islam diberikan dukungan dan keleluasaan untuk menjalankan keyakinannya dengan baik dan benar.

Sebab, bagi umat Islam menjalankan apa yang ada di dalam Islam adalah upaya untuk nyata mencapai kebaikan dan kemaslahatan, sehingga semakin sesuai umat Islam dengan ajaran Islam akan semakin baik kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita. Sebagaimana dahulu sempurna mengusir Belanda dari bumi pertiwi.

Jadi, sangat sederhana bukan, mari jalankan apa yang telah dinasihatkan Tuhan kepada kita dalam konteks agama.

Mari laksanakan nasihat para pendiri bangsa dalam berbangsa dan bernegara dengan komitmen mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Kalau itu ribet buat yang sudah menikmati jabatan di pemerintahan, setidaknya Anda ingat sumpah janji Anda saat dilantik untuk melayani rakyat, pegang teguh itu, niscaya Anda akan menjadi lentera bagi bangsa dan negara. Sederhana sekali bukan!

Insya Allah kegaduhan tetap ada, tetapi yang membawa bangsa ini kian maju, sebab diskursus pembangunan akan lebih bergairah dan temuan-temuan kemajuan akan semakin meriah.

Bukan seperti sekarang yang justru habis energi, tetapi tidak kemana-mana, malah persaudaraan dan persatuan terasa kian hilang. Wallahu a'lam.*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel