News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Ketika Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Pulang Kampung

Ketika Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Pulang Kampung

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof Kamaruddin Amin (berkacamata), berfoto bersama dengan sejumlah sahabat masa kecilnya di desa Kampung Masigi, Santan Tengah, Kabupaten Kutai Kartanegara, Rabu, 28 Juni 2017 (Foto: Istimewa)

(NASIONAL News) - Kesederhanaan tetap melekat dalam diri Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof Dr Phil Kamaruddin Amin.

Hal itu tampak diantaranya ketika Kamaruddin dan keluarga "pulang kampung" ke Kampung Masigi, Desa Santan Tengah, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kartanegara, belum lama ini.

Kendati memiliki kesibukan agenda yang tentu sangat padat apalagi sebagai pejabat negara, pria murah senyum ini memanfaatkan momentum Idul Fitri 1438 untuk bersilaturrahim dengan sanak kerabat di kampung dimana ia lahir dan dibesarkan.

Di Kampung Masigi, Desa Santan Tengah, Kamaruddin yang juga Plt Dirjen Bimas Islam Kemenag RI ini bersilaturrahim dengan kerabat beserta sahabat-sahabat masa kecilnya. Mereka bersua penuh keakraban tanpa sekat.

Pada kesempatan tersebut Kamaruddin turut didamping istri, anak, serta salah seorang adiknya, Samsul Maarif, PhD, cendekiawan muda yang juga akademisi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pada kunjungannya ini Kamaruddin menyinggahi rumah warga yang dilalui serta menyantap beragam hidangan yang disajikan. Sembari itu, ia juga tampak bercengkrama lepas dengan warga.  
Prof Kamaruddin Amin dan rombongan keluarga dijamu santap siang di salah satu rumah kerabat di Kampung Masigi, Santan Tengah, Kabupaten Kutai Kartanegara, Rabu, 28 Juni 2017 (Foto: Istimewa)

Termasuk, Profesor yang sejak kecil selalu juara satu lomba azan dan mengaji ini mampir ke rumah salah seorang tokoh sepuh di desa tersebut bernama Hj Hasanah.

Hj Hasanah adalah istri dari almarhum HM Yusuf, kepala desa pertama di desa tersebut, dan merupakan sahabat dekat dari ibunda Kamaruddin.

Pada kesempatan itu Hj Hasanah sempat bercerita kenangan bersama dengan ibunda Kamaruddin sewaktu masih muda.

Walaupun usianya hampir memasuki satu abad, ingatan nenek Hasanah masih jelas mengungkap kisah-kisahnya yang sarat dengan perjuangan dan kerja keras.

Bagi warga kampung, ibunda Kamaruddin yang dikenal dengan sapaan "guru Wa Hani'"  memang sudah tidak asing lagi.

Almarhumah dikenal sebagai sosok pendidik yang kala itu mengajar anak-anak setaraf Madrasah Ibtidaiyah (MI) non-formal yang digelar usai jam sekolah formal Sekolah Dasar (SD) dengan fasilitas apa adanya. Tanpa tunjangan, apalagi bergaji.

Bagi Prof Kamaruddin, ibu merupakan tokoh sentral yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan yang ia raih hingga hari ini.
Prof Kamaruddin Amin dan adiknya, Samsul Maarif, PhD (lesehan) tampak serius bercengkrama dengan salah satu tokoh sepuh di desa Santan Tengah (Foto: Istimewa)

Mengenang sang ibu
Karir Kamaruddin yang penuh tetelatenan dalam menempuh jenjang pendidikan dan berkiprah di bidang tersebut tak lepas dari peran dari sang ibu yang memang seorang pendidik.

Dalam sejarah yang banyak direkam oleh para muridnya, di usianya yang tak muda lagi, ibu dari peraih gelar profesor dari University of Bonn, Jerman ini, masih saja terus mengajar. Di kala sedang sakit pun ia tak jarang tetap masuk ke ruang kelas untuk memastikan aktifitas pendidikan di MI hari itu berjalan baik.

Samsul Maarif yang turut dalam silaturrahim Syawal itu pun menimpali kisah haru dari teman karib seperjuangan ibunya tersebut. Samsul sendiri adalah pelaku sejarah yang memang sempat cukup lama membersamai sang ibu mengelola madrasah dengan bangunan reyot tersebut.

Ketika sang ibu kian memasuki usia senja dan sakit-sakitan, Samsul semakin intens mengganti mengajar anak-anak di madrasah. Selain menanamkan ilmu agama, Samsul juga memberikan pelajaran tambahan yaitu silat kampung yang ketika itu sangat diminati para murid.

Samsul kemudian melanjutkan pendidikannya ke kota UIN Makassar, menempuh jenjang S2 di Yogyakarta hingga meraih gelar doktoralnya di Arizona, Amerika Serikat.     

Menyimak haru biru kisah perjuangan ibunda dari Prof Kamaruddin Amin dari salah seorang teman remajanya, Hj Hasanah, yang ingatannya masih jernih kendati telah berusia senja (Foto: Istimewa)

"Silaturrahim yang sungguh membahagiakan. Sangat spesial. Di antara yang sangat spesial adalah bersua, memeluk dan mencium tangan puang Hj. Hasanah . Beliau adalah sahabat setia dan seperjuangan ibunda saya tercinta yang telah mendahului," ujar Samsul.

"Hampir setiap langkah di masa perjuangan Hj Hasanah dilakukannya bersama ibunda, yang seringkali dilakukannya hanya berdua. Tugas dibagi berdua untuk tujuan yang sama," lanjutnya seperti dikutip Nasional.news dalam keterangan tertulisnya.

Samsul mengatakan, memori Hj Hasanah tentang ibundanya begitu segar. Sehingga, menurutnya, cerita beliau seakan menghadirkan dan menghidupkan kembali ibunda bercengkarama bersama kami dalam silaturrahmi itu.

"Puang Hj. Hasanah sejak saya kecil memang sering memperlakukan saya seperti anak sendiri. Bersua dengannya seakan bersua dengan ibunda. Beliau seperti jelmaan ibunda. Tatapannya dan ujarannya penuh khidmat menyertakan kehadiran ibunda," ungkapnya haru.

Pulang kampung tokoh muda nasional tersebut disambut hangat oleh warga. Sajian beragam jenis kudapan dan santapan mengiringi setiap langkah rombongan tersebut.

Namun karena keterbatasan waktu, Kamaruddin tak sempat menyinggahi semua rumah warga. Berbagai hidangan pun tentu saja tak bisa dilicintandas semua. Tetapi silaturrahim singkat tersebut setidaknya telah sedikit menghapus rasa rindu yang ada.

Selain ke Santan, penikmat olahraga futsal dan bulu tangkis ini juga menyempatkan diri mampir ke kota Bontang dan Balikpapan sebelum kemudian bertolak kembali ke Jakarta.

Selamat berlebaran, Prof!.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.