Meneladani Sikap Salafusshalih Sepeninggal Ramadhan

ILUSTRASI: Pemandangan sunset sore hari yang memendar warna emas kekuningan pada sebuah bangunan berarsitektur Islam di kawasan Samarkand, Uzbekistan (Foto: Pixabay) 

BAGI
para salafus-shalih, kepergian Ramadhan menyisakan kesedihan mendalam. Bahkan belum saja Ramadhan benar-benar berakhir, kesedihan itu sudah terasa.

Salah satu asbab kesedihan itu adalah soal paradigma dalam menyikapi akhir Ramadhan dan berakhirnya bulan penuh keutaamaan tersebut.

Mereka, para Sahabat dan dua generasi setelahnya itu, sedih bercampur khawatir akan amalan-amalan mereka selama Ramadhan.

Khawatir apakah amalan mereka diterima oleh Allah, dan apakah amalan-amalan tersebut bisa menjadi asbab terampuninya dosa-dosa mereka.

Bukankah Nabi shallallahu alayhi wasallam sudah mengingatkan. Bahwa, "betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa," sabda Nabi, "selain lapar (dan haus ) saja." Dan para Sahabat adalah orang yang paling mengerti maksud dari hadits ini setelah Nabi.

Di lain waktu, Nabi shallallahu alayhi wasallam juga memberi warning. "Celakalah orang yang memasuki bulan Ramadhan," kata Nabi sebagaimana diriwayatkan Hakim dan at-Thabrani, "namun dia tidak diampuni."

Maka, wajarlah para salaf mengkhwatirkan amalan mereka dan keadaan diri mereka di akhir dan sepeninggal Ramadhan.

Sebab memang, tidak ada jaminan Allah menerima amalan dan mengampuni dosa setiap orang yang berpuasa.

Dan, jika tidak mendapat ampunan, maka celaka yang didapatkan berdasarkan warning Nabi di atas.

Menyadari hal itu, tentu saja para Sahabat merasa sedih dan khawatir. Semakin hari-hari Ramadhan berlalu, semakin tinggi kekhawatiran mereka.

Dan, pilihannya adalah tunduk menangis menumpahkan kekhawatiran tersebut kepada Allah sambil berdoa agar diberi pemaafan dan amal-amal diterima.

Munajat mereka, "Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, suka memberi maaf dan pengampunan, maka maafkan dan ampuni dosa-dosaku." Dan, "Ya Allah, Rabb kami, terimalah amalan-amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."

Setelah Ramadhan benar-benar pergi, bukan berarti mereka berhenti berdoa. Bersebab kekhawatiran itu terlalu mendalam, mereka terus berdoa agar amal-amal diterima hingga enam bulan berikutnya.

Disebutkan dalam Lathaaiful Ma'arif halaman 232 bahwa para salaf, yaitu para Sahabat dan dua generasi berikutnya, berdoa kepada Allah selama enam bulan agar diberi kesempatan menjumpai Ramadhan.

"Kemudian," tulis Ibnu Rajab dalam kitabnya tersebut, "mereka juga berdoa selama enam bulan agar amalan mereka diterima oleh Allah".

Demikianlah para salafusshalih. Mereka lebih memfokuskan diri bagaimana agar amal-amal diterima.

Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib, "Hendaklah kalian lebih perhatian terhadap amalan kalian bagaimana bisa diterima dari pada hanya sekedar (memperbanyak) amalan. Tidakkah kalian mendengar Firman Allah, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan orang-orang bertaqwa saja'."

Sayangnya, paradigma dalam menyikapi akhir dan berkahirnya Ramadhan ini hanya dimiliki oleh para Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut-tabi'in beserta orang-orang shalih setelahnya.

Di zaman sekarang, paradigma ini jarang ditemui lagi. Kebanyakan orang terlalu percaya bahwa Allah Ta'ala menerima amalannya selama Ramadhan. Padahal kualitas iman para Sahabat siapa yang bisa menandingi?*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel