Menjadi Bangsa Unggul​ dengan Karakter Pancasila

ILUSTRASI: Indonesia, jika diurus dengan benar akan mampu menjadi pusat pangan dunia (Foto: Dokpri Imam Nawawi)

MENJADI
bangsa unggul rasanya sudah begitu dipahami oleh sebagian besar cendekiawan di negeri ini tentang bagaiman mewujudkannya.

Terutama, jika merujuk pada apa yang dicapai oleh Amerika Serikat, Jepang, dan terbaru apa yang dialami oleh China.

Tidak terkecuali juga telah dipahami dengan sangat baik oleh para pegiat dakwah, terutama ketika merujuk pada bagaimana Nabi Muhammad memperjuangkan risalah Islamiyah.

Termasuk ketika menukil heroiknya para pembaharu Muslim di berbagai belahan dunia, seperti Umar bin Abdul Aziz, Shalahuddin Al-Ayyubi, Abdurrahman Ad-Dakhil hingga Muhammad Al-Fatih yang sangat fenomenal dengan prestasinya menaklukkan Konstantinopel pada 1453 M.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita mewujudkan keberhasilan mereka yang menyejarah dan menginspirasi dunia di dalam kehidupan kita di tengah-tengah kehidupan bangsa dan negara kita?

Banyak analisa yang mengemuka, mulai dari bagaimana meningkatkan kemampuan kolektif seluruh bangsa untuk belajar (the learning capacity of a nation) hingga pada kesadaran kompetitif untuk unggul dalam segala aspek kehidupan.

Konklusinya jelas, bagaimana bangsa ini menguasai ilmu, teknologi, dan informasi, sehingga dapat melihat apapun secara ilmiah.

Korea Selatan adalah negara yang merintis langkah menjadi unggul dengan menyusun strategi memperkaya ilmu pengetahuan dan informasi bagi rakyatnya.

Seluruh usaha dan tenga digunakan untuk menjadikan negeri ginseng itu mengusai sebagian pasar elektronik dan otomotif dunia.

Bahkan dalam soal pertahanan negara, Indonesia telah menggunakan produk-produk Korea Selatan seperti pesawat tempur Tentara Nasional Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia?

Sampai detik ini, berita di media massa banyak keriuhan soal “adu mulut” antara satu pihak dengan pihak lain. Panasnya manuver politik banyak ditempatkan sebagai headline banyak media.

Sementara, berita yang menginspirasi, membangun dan tentu saja dibutuhkan bangsa ini untuk maju, bisa dikatakan sangat-sangat sepi.

Indonesia memang mengalami kemajuan dalam satu sisi, tetapi tidak secara utuh dan menyeluruh. Terutama ketika melihat anak bangsa berhasil menjuarai ajang lomba matematika dan lain sebagainya.

Tetapi pada kenyataannya, bangsa ini belum bisa menghasilkan teknologi tepat guna. Artinya, harapan untuk bisa menjadi bangsa yang unggul boleh dikatakan kian jauh dari menggembirakan, sebab antara pemerintah dengan sebagian rakyatnya sendiri belum benar-benar sevisi dan sehati.

Buya Hamka dalam bukunya “Keadilan Sosial dalam Islam” menjelaskan bahwa bangsa yang unggul adalah bangsa yang karakternya di bangun dari dalam, bukan cat warna yang berkilauan dari luar batin bangsa itu sendiri.

Lantas bagaimana karakter dari dalam akan dibangun, jika antara rakyat dengan pemerintah terjadi saling tidak sehati?

Dari sini sangat jelas, bangsa ini masih butuh membangun karakternya sendiri. Karakter adalah kualitas moral atau mental seseorang yang menunjukkan identitasnya.

Jika kita mengakui Pancasila sebagai dasar negara, maka semua pihak seharusnya mencerminkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Korupsi, berbohong, suka perpecahan harus dijauhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika tidak, maka seperti tiang-tiang dalam sebuah gedung, karakter itu adalah tiang yang menopang kehidupan bangsa dan negara.

Bila karakter rapuh, maka apapun yang dibangun di dalam negara kita ini akan ambruk pada akhirnya.

Maka, tidak berlebihan kala Billy Graham mengatakan bahwa bila kekayaan hilang, tidak ada yang hilang. Bila kesehatan hilang, sesuatu telah hilang. Bila karakter hilang, semuanya telah hilang.

Dan, untuk menjadikan bangsa ini unggul, ungkapan dari Presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie sangat relevan untuk kita renungkan.

"Kualitas sumber daya manusia merupakan kunci keberhasilan masa depan bangsa. SDM yang unggul dan berdaya saing akan mengantar Indonesia sejajar dan disegani bangsa lain".

Jadi, mari berhenti saling benci dan gilas antar sesama, terlebih pemerintah dengan rakyatnya sendiri. Jika tidak, situasi ini akan membawa bangsa Indonesia kian terperosok pada keruntuhan.*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel