Pemerintah (Kembali) Ancam Tutup Facebook Jika Tak Menangkal Konten "Radikal"

Ilustrasi Facebook (foto: Pixabay)


(NASIONAL News) - Pemerintah Indonesia mengancam akan menutup situs web jejaring sosial Facebook.

Ancaman ini dikeluarkan jika raksasa media sosial Amerika Serikat itu tak menghapus konten-konten radikal yang diunggah penggunanya, dan selanjutnya mudah diakses secara luas.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Facebook adalah pihak yang secara teknis mampu melakukan penghapusan karena data tersimpan di server mereka.

Sementara itu, selaku regulator, pemerintah Indonesia adalah pihak yang memiliki kewenangan mengatur konten yang ditampilkan situs web itu supaya tidak menimbulkan ancaman kepada masyarakat.

"Di media sosial itu tidak bisa langsung kita blokir. Tapi harus minta ke sana (Facebook) dulu. Itu juga sudah kami sampaikan, kami minta service level diperbaiki," ungkap Rudiantara di Jakarta dikutip Viva, Kamis (6/07/2017).

Ia melanjutkan, apabila Facebook tidak memperbaharui maka sangat berisiko bagi pengguna lainnya yang mengakses.

"Saya sampai ancam mereka supaya situs Facebook ditutup," tuturnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika secara resmi memang sudah mengirimkan surat ke perwakilan Facebook di Asia Pasifik.

Menurut Rudiantara, Facebook telah menyanggupi dengan menyampaikan komitmen pemrosesan setiap laporan dari pemerintah dengan cepat.

"Mereka akan meningkatkan service level. Misalkan dalam 24 jam, tindak lanjut pelaporan harus selesai," ujar Rudiantara.

Langkah tegas pemerintah ini karena kehadiran konten radikal di media sosial dituding sebagai salah satu penyebab maraknya aksi terorisme.

"Kita harus pro aktif. Jangan menunggu Facebook," ujar Rudiantara, menegaskan.

Di Indonesia sendiri diketahui definisi tentang "radikal" sendiri masih debatable. Masalah ini diperkirakan akan melahirkan polemik yang tidak sederhana.

Sebelumnya, dalam diskusi "Bedah Fatwa MUI #MuamalahMedsosiah" di Jakarta, Jumat (9/6/2017), Menteri Komunikasi dan Informatika ( Menkominfo) Rudiantara mengaku tidak segan untuk bertindak tegas terhadap penyedia layanan media sosial terkait maraknya penyebaran ujaran kebencian dan berita bohong.

Menurut Rudiantara platform media sosial termasuk Facebook juga bertanggung jawab terhadap penyebaran konten negatif.

"Memblokir itu fokusnya bukan hanya kepada yang punya akun Facebook, tetapi kepada penyelenggaranya," ujar Rudiantara dalam diskusi," katanya dikutip Kompas.

"Platform juga bertanggung jawab, Facebook juga bertanggung jawab," kata dia.*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel