Ramadhan Pergi, Saatnya Deteksi Takwa Pada Diri

EID MUBARAK: Salah sudut kota di Singapura pada malam hari saat menyambut hari kemenangan Idul Fitri (Foto: Pixabay)

SETELAH
sebulan melaksanakan proyek besar Ramadhan, kini saatnya kita melakukan evaluasi.

Saatnya menilai apakah puasa, qiyamullail, infak, tilawah dan ibadah lainnya sudah sesuai dengan yang diharapkan.

Puasa sebagai amalan utama Ramadhan bertujuan mengantar pelakunya menjadi insan takwa. Artinya, dengan berpuasa seorang hamba beriman seharusnya mendapat predikat takwa.

Inilah yang penting untuk dievaluasi. Apakah sebagai orang yang telah berpuasa Ramadhan, kita telah benar-benar menjadi hamba yang bertakwa.

Atau, jika sudah bertakwa, pertanyaannya apakah telah menjadi lebih bertakwa dari sebelumnya.

Takwa dalam pengertian yang sering disampaikan para khotib Jum'at adalah kemampuan menjalankan seluruh perintah dan meninggalkan semua larangan Allah Ta'ala.

Berdasar pengertian ini, sebagai hasil dari puasa Ramadhan, kita seharusnya sudah memiliki kemampuan tersebut.

Dari sini, tentu mudah untuk menilainya. Misal dengan memperhatikan bagaimana ibadah-ibadah sepeninggal Ramadhan. Apakah masih sanggup dijalankan, atau bahkan kita tidak mampu lagi menunaikannya.

Lalu, bagaimana pula dengan larangan-laranganNya. Sudahkah kita menjauhinya, ataukah justru kita malah mendekatinya.

Kesemua hal tersebut bisa menjadi barometer adanya takwa dalam diri kita. Kalau benar predikat takwa kita dapatkan, maka Allah akan memudahkan kita berbuat ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Sebaliknya, jika ternyata kita gagal meraih predikat takwa, maka kemaksiatan mudah terjadi dan ketaatan susah dilakoni.

Selain itu, kita juga bisa mendeteksi adanya takwa dengan mencocokkan ciri ketakwaan yang disinyalir Allah dalam Firman-Nya. Misal, dalam surat Ali Imran ayat 134 Allah mensifati orang bertakwa dengan beberapa kriteria.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"(Orang-orang yamg bertaqwa yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."
Sebelumnya, di ayat 133, Allah memberi kabar gembira berupa surga seluas langit dan bumi bagi orang bertaqwa. Dan siapa orang bertaqwa itu disebutkan di ayat berikutnya.

Yang pertama, gemar berinfak. Baik dalam keadaan lapang, maupun sempit. Banyak duit, maupun sedikit.

Kedua, mampu menahan amarah. Dan, ketiga, mudah memaafkan dan melupakan (seolah tidak terjadi) kesalahan orang lain.

Ketiga sifat orang bertakwa ini bukan perkara mudah dan ringan. Tapi, bagi yang Allah anugerahkan takwa kepadanya, maka mudah baginya untuk mewujudkannya. Ia akan gemar berinfak, bisa menahan amarah dan mudah memaafkan.

Wallahu a'lam bis-shawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel