Umat Islam Perlu Bicara Strategi dan Hilangkan Benih Perpecahan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr KH Haedar Nashir (Foto: Muhammadiyah.id)


(NASIONAL News) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan umat Islam perlu bermusyawarah membicarakan tentang strategi dan menghilangkan benih-benih perpecahan.

"Begitu mudah untuk membangun hubungan silaturahim, akan tetapi terkadang hal itu tidak selalu berhasil menghilangkan benih-benih perpecahan," kata Haedar seperti dikutip laman Muhammadiyah belum lama ini.

Haedar menjelaskan, Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya tentang makna seilaturahim melalui sebuah hadis yang berbunyi; tidak masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahim.

Menurutnya, peristiwa-peristiwa sejarah perlu menjadi perhatian khusus oleh umat Islam. Bagaimana kita, jelasnya, mencoba untuk mengeliminasi benih-benih perpecahan yang memberi peluang kepada kita menjadi tidak sukses dan mengulang kemenangan.

"Sejarah mencatat bahwa umat Islam menjadi pemenang dalam perang Badar, namun kalah dalam peperangan berikutnya yakni perang Uhud. Ini tentu menjadi peristiwa besar yang Allah SWT tanamkan hikmah di dalamnya," katanya.

Haedar melanjutkan, ada hal yang penting buat kita pahami bagaimana mengkapitalisasi kemenangan ini yang pusatnya pada kebersamaan, dan membangun kebersamaan juga itu ada kerikilnya.

"Tadi dicontohkan bahwa sebelum Nabi SAW dimakamkan betapa susahnya umat Islam dalam menentukan pilihan pemimpinnya kala itu bahkan nyaris menjadi persitiwa besar," papar Haedar.

Hindari perpecahan

Haedar menekankan pentingnya persatuan, persaudaraan, dan mengajak untuk menghilangkan benih-benih perpecahan.

Dia menerangkan, ciri benih perpecahan biasanya terlihat dari tidak pandainya seseorang dalam bermusyawarah dalam menentukan strategi dan langkah.

Bahkan, terang dia, seorang Nabi Muhammad SAW pun mempunyai otoritas Illahi menentukan strategi dengan bermusyawarah.

"Maka kedepan mungkin umat Islam perlu bermusyawarah tentang strategi dan itu tidak milik satu orang, kelompok atau golongan. Hal ini penting mengingat langkah di masa depan tidak akan semudah yang dibayangkan, karena ada banyak perbedaan pilihan dan juga strategi gerakan," ujar Haedar.

Sebagai tasyakur bi nikmat, lanjut Haedar umat Islam di satu pihak mengakui ada banyak kelemahan,tetapi di pihak lain juga tidak sedikit pencapaian.

"Pak Amin Rais telah merintis reformasi dan itu buahnya luar biasa, tetapi kemudian di tengah jalan banyak orang membajak dan menyandera reformasi itu, sehingga (mungkin) spirit reformasi yang ditanamkan beliau tidak diserap jiwanya,” ucap Haedar.

Begitu juga dalam perjuangan islam, Haedar menyinggung bahwa banyak yang menamakan organisasi Islam tetapi spirit nilai-nilai keislamannya tidak otomatis diaktualisasikan.

Muhammadiyah, kata Haedar, Alhamdulilah dari fase ke fase juga mengalami pasang surut dan kemudian ada hal yang harus disyukuri.

"Kita punya perguruan tinggi yang besar dan kita juga bisa membuat banyak hal yang juga tidak mudah. Banyak orang yang iri dengan Muhammadiyah maka tentu perjalanan kedepan kita perlu menentukan langka-langkah strategis yang lain,” pungkas Haedar.*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel