Fenomena Bid’ah dan Urgensi Ilmu Pengetahuan dalam Agama

Oleh Muhammad Fiqri Pratama, penulis adalah mahasiswa STEI SEBI Depok

DALAM kehidupan kita, banyak sekali persoalan yang sifatnya itu membingungkan dalam banyak perkara. Karena itu, memahami agama dengan benar merupakan solusi dari problem tersebut.

Begitulah pentingnya ilmu. Apabila kita tidak memiliki pengetahuan suatu perkara dalam masalah agama, maka kita akan terjerumus dalam kebodohan yang nyata. Misalnya saja mengenai persoalan bid’ah

Pada dasarnya bid’ah adalah Sesuatu yang menyimpang dari kaidah Al-Quran dan hadist serta yang tidak didapati contohnya dari Rasulullah Muhammad SAW, baik kaidah fiqih maupun akidah.
Namun, masyarakat awam telah teracuni fikirannya oleh orang-orang yang telah mendistorsikan bid’ah itu sendiri, kenpa?

Karena pada hakikatnya bid’ah yang seharusnya diwaspadai adalah bid’ah akidah. Bukan justru sibuk mempersoalkan perkara bid’ah dalam aspek ilmu fiqih.

Namun, jika kita perhatikan hadist Rasulullah yang sudah kita hafal bersama "setiap bid’ah itu sesat”, maka secara pandangan bahasa maka sudah selesai dan jelas bid’ah itu sesat.

Namun umumya masyarakat awam kerap kali mengaitkan bid’ah itu dengan ilmu fiqih. Padahal kenyataannya bid’ah yang paling berbahaya adalah bid’ah akidah.

Lantas, kenapa bukannya fiqih yang dikhawatirkan? Karena Rasulullah berkata bahwa: “Perbedaan pendapat dari kalangan umatku adalah rahmat”.

Hadist tersebut menerangkan atau berkaitan dengan ilmu fiqih bukan aqidah. Jadi bisa di simpulkan bahwa bid’ah yang sesat adalah bid’ah akidah.

Kemudian, jika kita teliti dari segi bahasa yang berkaitan dengan hadist di atas, jika dikatakan bid’ah itu sesat, maka bagaimana dengan adanya istilah bid’ah hasanah dengan bid’ah dholalah?

Nahh, istilah tersebut adalah qiyas dari para ulama-ulama ahli fiqih. Mengapa demikian? Karena sudah banyak masyarakat yang tercebur pada pemahaman bahwa semua bid’ah itu adalah sesat.

Saya ingin mengutip salah satu kajian taklim tertulis Ust Adi Hidayat Lc, MA, dimana beliau menjelaskan bahwa Qiyas tersebut untuk menggambarkan kepada masyarakat bahwa tidak semua bid’ah dalam ilmu fiqih itu sesat sebab banyak orang yang sudah terdoktrin bahwa semua bid’ah dalam aspek keilmuan agama itu sesat maka dibuatlah qiyas tersebut.

Padahal pada hakikatnya tidak semua bid’ah itu sesat jika memenuhi salah satu atau keduanya dari kriteria berikut; Ada dalil, baik dari al-quran maupun hadist. Ada contoh dari Rasulullah.

Misalnya, Nabi Muhamad SAW selama hidupnya tidak pernah melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Tetapi beliau memerintahkan kepada umatnya untuk melaksanakan shalat tersebut. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena rumah Rasulullah di masjid.

Kemudian contoh yang kedua. Rasulullah SAW selama hidupnya ketika datang waktu untuk berzakat, Rasulullah SAW selalu berzakat dengan gandum atau kurma.

Dan, pertanyaannya adalah kita zakat memakai apa? Jawabanya beras, apakah itu dapat dikatakan bid’ah?? Padahal Rasulullah SAW tidak mencontohkan nya?!?! Bukan. Kenapa?.

Nahh itulah keluasan ilmu fiqih, ketika Muawiyah diutus untuk menjadi khalifah di Syam (Damaskus sekarang), beliau memerintahkan kepada rakyatnya untuk berzakat menggunakan irqun.

Irqun adalah makanan pokok pada saat itu di kota Syam. Nahh dari situlah Muawiyah berpendapat bahwa gandum dan kurma adalah makanan pokok di daerahnya Rasulullah SAW. Sedangkan irqun adalah makanan pokok di daerah Syam pada waktu itu.

Jadi dari penjelasan Ust Adi Hidayat ini, dapat disimpulkan bahwa tidak semua bid’ah dalam ilmu fiqih itu sesat. Karena fiqih itu berisifat meluas ketika keadaan darurat dan menyempit ketika keadaan lapang.

Kemudian, ada pula bid’ah dalam bidang akidah, nah inilah bid’ah yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW, kenapa?

Karena pada nabi-nabi sebelumnya terdapat bid’ah akidah yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan di muka bumi ini.
_____
MUHAMMAD FIQRI PRATAMA, penulis ulasan adalah mahasiswa STEI SEBI Depok

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel