Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai Dapur Keilmuan

Oleh Mahdar Nugraha*)

IKATAN Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah organisasi yang mengedepankan aspek intelektualitas dengan konsep “intelektual profetik”. Dalam sejarahnya, IMM telah merumuskan untuk bergerak di ranah keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan yang menerapkan nilai-nilai religiusitas, intelektualitas dan humanitas sebagai nilai dasar atau yang sering disebut sebagai Trilogi dan Trikompetensi Ikatan.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang tersebut adalah merupakan keharusan bagi kader-kadernya untuk menanamkan dan menerapkan niai-nilai tersebut di dalam dirinya sendiri demi menjadi kader IMM yang paripurna.

Konsep ini bukan semata-mata berasal dari IMM sendiri, sebagai organisasi kader yang berbasis Islam. Sudah jelas bahwa landasan tersebut didapati dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang banyak sekali memerintahkan pemeluk agamanya untuk senantiasa menuntut ilmu dari sejak lahir sampai ke liang lahat.

Hal ini tentu wajib dilaksanakan oleh umat muslim umumnya dan jelas wajib bagi kader IMM khususnya. Selain atas dasar konsep umum yang dijelaskan, Al-Qur’an dan As-Sunnah pun menjelaskan secara spesifik lagi bagaimana pentingnya umat Islam untuk menuntut ilmu salah satunya adalah melalui penjelasan hakikat penciptaan manusia.

Didalam Al-Qur’an, penyebutan manusia sangat beragam diantaranya adalah Insan, Basyar, Annas, Abdullah dan Khalifah. Masing-masing dari penyebutan tersebut memiliki makna dan tanggung jawabnya tersendiri.

Insan berasal dari bahasa Arab yang akar katanya adalah nasiya yang berarti lupa. Karena memiliki sifat lupa maka manusia perlu alat untuk menulis (pena) agar dia tidak lupa dengan apa yang didapatinya. Bukankah ini salah satu aspek fundamental dalam menuntut ilmu?.

Selain itu adapula akar kata yang lain yaitu al-uns yang berarti jinak, penyebutan ini dimaksudkan kepada sifat manusia yang selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Selanjutnya pengungkapan kata manusia lebih menggunakan kata basyar dan insan. Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya menampakkan sesuatu yang baik dan indah.

Kata basyar juga menunjukan suatu proses tentang kejadian manusia sampai tahap kedewasaan. Selanjutnya kata insan merupakan penunjukan tentang seluruh totalitas manusia seperti jiwa, dan raga manusia yang berbeda satu dengan yang lain.

Dua hal ini juga termasuk instrumen penting dalam aspek keilmuan dimana dalam proses menuju kedewasaan tentu manusia perlu belajar tentang dirinya dan lingkungan sekitar.

Annas merupakan aspek sosial kemasyarakatan dalam diri manusia yang juga hal ini perlu keilmuan dalam menunjang sikapnya sebagai zoon politicon. Maka manusia perlu belajar bagaimana menempatkan diri didalam lingkungan barunya.

Abdullah artinya adalah hamba Allah. Dalam konteks ini, manusia memiliki rasa kenikmatan dalam melaksanakan ibadah yang juga ini perlu ditunjang dengan keilmuan yang kuat.

Misalnya memperdalam ilmu syariat, hakikat, tarikat dan makrifat agar pemahamannya komprehensif dalam menjalankan perintah agama terutama ibadah-ibadah ritual.

Yang terakhir adalah khalifah yang artinya kepemimpinan atau seni mempengaruhi. Tidak pernah terdengar sejarah seorang pemimpin besar khususnya didalam catatan sejarah islam yang tiba-tiba menjadi pemimpin tanpa proses belajar.

Dari berbagai penjelasan di atas, jelaslah bahwa menunutut ilmu adalah salah satu kewajiban manusia dan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Aspek insan (keilmuan dan penalaran realitas), basyar (bilogis sebagai wujud kebutuhan), annas (sosial kemasyarakatan), abdullah (hamba Allah) dan khalifah (kepemimpinan) perlu disinergikan oleh manusia itu sendiri agar menjadi paripurna dimata Allah.

Sebagai kader IMM yang berlandaskan Islam, aspek-aspek diatas juga perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu. Maka segala penunjang untuk melaksanakan hal tersebut juga perlu dipikirkan secara matang dan dihayati dengan baik oleh seluruh kader.

Dapur keilmuan merupakan forum yang kiranya penting digaungkan oleh seluruh kader IMM se-Nusantara demi memperkuat jati diri sebagai kader agama, bangsa dan negara serta menjaga marwah mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat.

Maka kader IMM perlu meneladani sifat-sifat Rasulullaah Saw yaitu  shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah yang selalu berusaha berkata benar, menjaga kepercayaan, menyampaikan kebenaran dan cerdas dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Hal itu semua akan dicapai dengan semangat menuntut ilmu yang tinggi dan melekat pada diri setiap kader. Maka jangan tinggalkan buku di atas rak sana hingga berdebu karena tidak pernah kau bersihkan, bahkan dibaca sekalipun tak pernah.

Budaya literasi perlu terus dikuatkan demi IMM berkemajuan, karena output dari orang yang berilmu adalah bermanfaat bagi orang lain, jangan sampai hanya menjadi konsumsi sendiri.

Minimal setelah membaca kita berdiskusi, atau menulis artikel, membuat buku, membuat forum kajian atau bergerak nyata untuk masyarakat yang lebih baik dan suksesi “Intelektual Profetik” melalui pembinaan dan penggemblengan keilmuan agar melekat dalam diri seorang kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

*) Penulis adalah kader IMM FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel