Pembina Pesantren Hidayatullah KH Naspi Arsyad Calon DPD RI asal Kaltim

BALIKPAPAN - Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, dipastikan maju sebagai salah satu kontestan dalam pemilihan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Provinsi Kalimantan Timur.

Kepastian tersebut didapatkan setelah KH Naspi Arsyad yang didampingi sejumlah relawan mendaftar di kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kaltim pada Selasa (24/04/2018).

Koordinator Relawan SahabatNA, Muhammad Arfan AU, mengatakan majunya dai kondang ini tak lepas dari dorongan masyarakat Kaltim agar Naspi Arsyad yang juga dikenal sebagai pegiat ketahanan keluarga dan tokoh pemuda, dapat berkiprah lebih luas bagi masyarakat khususnya dalam mengawal pembangunan Provinsi Kalimantan Timur yang maju dan beradab.

Kendati bukanlah perkara sederhana apalagi di tengah dinamika politik yang kerap menerabas batas-batas normal, Arfan mengatakan inilah ikhtiar pengabdian yang sedang dilakukan oleh Naspi Arsyad untuk tanah Benua Etam di mana ia dibesarkan.

"Dengan mengusung tagline "Kaltim Kita Kaltim Beradab" diyakini bahwa perubahan yang berkemajuan dan beradab sebagaimana yang dikehendaki haruslah pula dimulai dengan cara-cara beretika," kata Arfan.

Lebih lanjut Arfan mengemukakan politik memang tak cukup hanya dipandang linear, karena itulah mengapa politik selalu berwarna-warni. Demikianlah realitas politik kita hari ini.

"Namun yang tak boleh lekang adalah upaya penegakan adab, termasuk di lembaga politik seperti DPD RI yang merupakan representasi daerah yang memiliki fungsi penting dalam memberi pertimbangan dalam penyusunan undang-undang," pungkas Arfan.

Sementara itu, Naspi Arsyad di tengah kesibukannya sebagai pembina pesantren dan dai masyarakat, mengungkapkan tak mungkin mengabaikan harapan dan dorongan yang diberikan masyarakat Kaltim terhadapnya.

Apalagi Naspi pun telah mendapat restu dari pesantren tempatnya mengabdi untuk menerima amanah tersebut sebagai bentuk pengabdian tulus untuk bangsa dan agama.

Mantan aktifis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)  ini  mengatakan sebagai manusia biasa kita hanya perlu terus berikhtiar, keputusan terbaik tetap ada di genggaman-Nya.

"Terpenting dalam hidup ini adalah riyadhah untuk selalu dekat dan memunajkan setiap persoalan kepada-Nya, seiring  dengan itu terus bermujadah dengan segala daya upaya untuk kemaslahatan umat, agama, dan bangsa," pungkas Naspi.

Lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, Naspi Arsyad justru banyak menjalani kehidupannya di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sejak kecil ia telah menimba ilmu di Pondok Pesantren  Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip.

Jebolan Universitas Islam Madinah (UIM) ini pernah menduduki sejumlah amanah diantaranya menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah Balikpapan. Kecintaannya terhadap pendidikan mendorongnya melanjutkan studi magister di UIN Yogyakarta.

Tidak saja di bidang pendidikan, sebagai dai ia juga kerap menjadi penggerak pengembangan kapasitas pemuda. Konsennya terhadap generasi muda itu semakin intensif saat dia didapuk menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Syabab (Pemuda) Hidayatullah dengan menginisiasi berdirinya Madrasah Training Pra-nikah yang telah bergulir di beberapa wilayah.

Selain itu, ia pun secara aktif turut mendorong dan merancang pendirian Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dan pemuda dalam pemenuhan minat mereka di bidang diniyah. Kini Pesmadai telah hadir di beberapa titik di Indonesia.



Pendiri Komunitas Keluarga Cerdas (KKC) ini menilai pendidikan merupakan jembatan utama dalam melakukan pencerahan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia.

Karenanya, bidang pendidikan dan ketahanan keluarga menjadi menjadi salah satu bidang konsen Naspi selama ini. Menurutnya, keluarga adalah pondasi negara. Idiom ini menggambarkan bahwa negara menjadi kuat karena ditopang oleh keluarga-keluarga tangguh.

"Semakin tangguh keluarga-keluarga yang ada didalamnya maka semakin kokoh suatu negara. Lintasan sejarah mentasbihkan bahwa –diantara- sebab rapuhnya negara berawal dari keluarga-keluarga yang lemah. Tidak memiliki obsesi ideal, tatanan nilai tidak terbangun hingga melahirkan sikap individualistik yang menghancurkan bangsa," imbuhnya.

"Olehnya itu, membangun negara harus bermula dari membangun keluarga. Dalam kata lain, membangun keluarga yang kuat adalah jembatan emas menuju negara yang kokoh, berwibawa dan bermartabat," pungkasnya.

BETRAND ABDULLAH

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel