News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Amerika Serikat dan Penghianatan Terhadap Demokrasi

Amerika Serikat dan Penghianatan Terhadap Demokrasi


Oleh Rizki Ulfahadi*)

SANGAT sering dan mungkin tak terhitung lagi aksi-aksi untuk membela Palestina dilakukan. Berbagai kelompok dan golongan di berbagai belahan dunia menyuarakan pembelaan terhadap tanah Masjid Al-Aqsa kiblat pertama Umat Islam itu, termasuk Indonesia tentunya.

Baru saja satu hari yang lalu, 11 Mei 2018 dilakukan aksi sebagai bentuk dukungan terhadap pembebasan Palestina di Monumen Nasional, Jakarta Pusat.

Tak hanya di Ibukota, wilayah lain di Indonesia pun juga akan melakukan aksi serupa. Besok di Padang Sumatera Barat juga akan dilakukan seruan aksi bebaskan Baitul Maqdis di depan Kantor Gubernurnya.

Palestina dengan segala kompleksitas problematikanya memang telah menarik simpati banyak orang bahkan tidak hanya di kalangan umat beragama saja, di kalangan umat non beragama pun juga telah tertarik perhatiannya.

Kasus-kasus kemanusiaan seperti di Palestina memang menyentuh hati dan naluri kemanusiaan kita, walaupun bukan sebangsa, bukan seagama, bukan sesuku dan tidak saling kenal mengenal siapa orangnya, tetapi rasa kemanusiaan sebagai sesama manusia mampu membuat kita kembali berkiblat kearah Palestina untuk membantunya.

Problema Palestina yang kompleks tidak bisa diselesaikan oleh pihak-pihak tertentu saja apalagi hanya masyarakat kecil, tapi perlu adanya sinergitas semua pihak dalam menanganinya terutama antar petinggi bangsa yang memiliki wewenang dan bisa menentukan kebijakan.

Wajarlah jika di Negara Demokratis seperti Indonesia dan Negara Demokrasi lainnya banyak masyarakat melakukan aksi-aksi sebagai bentuk ekspresi dan harapan mereka kepada Pemerintah agar diaspirasi dan ditindaklanjuti.

Jangankan masyarakat kecil atau segolongan bangsa saja, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) saja sampai saat ini tidak mampu sama sekali menunjukkan ketangguhannya dalam menyelesaikan konflik di Palestina.

Padahal, PBB adalah lembaga terbesar di dunia yang memiliki tanggung jawab dalam perdamaian dunia, tapi mana buktinya?.

PBB sudah seringkali melakukan sidang dalam upaya menemukan titik temu konflik Palestina.

Sidang Majelis Umum PBB sudah berulangkali mengeluarkan resolusi yang mengutuk Israel dan resolusi penyelesainnya konflik tersebut, tetapi tidak ada satu pun yang direalisasikan karena digagalkan oleh Dewan Keamanan PBB.

DK-PBB yang terdiri dari negara “Big Five” yaitu Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia dan Cina memiliki hak khusus yang dikenal dengan istilah hak veto.

Walaupun sudah diputuskan di Sidang Majelis Umum PBB dengan 193 Negara Anggotanya, tapi tetap keputusan itu nanti akan dibahas kembali di DK-PBB yang hanya 5 Negara saja.

Dan lima negara inilah yang memutuskan nasib hasil dari Sidang Majelis Umum. Dalam hal resolusi untuk konflik Palestina-Israel, Amerika Serikat tidak pernah menyetujui resolusi itu dan akhirnya tidak bisa direalisasikan.

Lalu untuk apa diadakan Sidang Majelis Umum? Dimana letak demokrasinya?

Amerika Serikat yang dikenal sebagai Negara Bapak Demokrasi tapi malah tidak menunjukkan nilai demokrasi itu di dalam PBB yang merupakan perwakilan dari seluruh masyarakat dunia. Amerika Serikat sama sekali tidak mencerminkan sikap yang baik dalam berdemokrasi kepada masyarakat dunia.

Resolusi sudah diputuskan oleh ratusan negara tapi digagalkan oleh DK-PBB yang cuman 5 negara, apakah memang seperti itu demokrasi bagi AS? DK-PBB tak mampu berkutik tanpa restu AS, AS bebas melakukan sesuka hatinya tanpa restu DK-PBB.

Masyarakat dunia jelas menentang tindakan AS tersebut, termasuk tindakannya saat ini yang ingin memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerussalem (Baitul Maqdis).

Hemat penulis, ratusan bahkan ribuan aksi-aksi yang dilakukan masyarakat Indonesia belum akan membuahkan apa-apa selain nilai kebaikan di mata Tuhan karena telah berniat dan berusaha membantu saudaranya.

Superioritas AS dalam segala lini dan keterikatan bahkan ketergantungan negara-negara lain kepadanya membuat bangsa-bangsa di dunia bagaikan terjebak dalam lingkaran kebingungan dan hanya berdiri tegap antara ingin melangkah ke kanan tapi takut akan imbasnya, dan melangkah ke kiri tapi khawatir akan akibatnya.

Israel adalah anak kandung AS, menggebuki Israel bukan menggebuki bayang-bayang, tetapi jangan lupa bahwa Israel memiliki induk yaitu AS, gebukilah Amerika. Siapa yang mampu?

______
*)RIZKI ULFAHADI, penulis adalah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, santri Pesmadai Ciputat dan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII)


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.