Kutuk Bom Jatim, Pemuda Hidayatullah Ajak Generasi Muda Teguhkan Islam Wasathiyah

JAKARTA - Pengurus Pusat Syabab (Pemuda) Hidayatullah mengutuk aksi bom teror yang yang menimpa Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.

Syabab Hidayatullah menyebut aksi bom bunuh diri itu sebagai tindakan brutal yang sama sekali menyalahi ajaran agama dan amat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

"Aksi itu tak bisa dibenarkan dan merupakan tindakan biadab di tengah masyarakat Indonesia sedang menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan," kata Suhardi di Jakarta, Senin.

Suhardi berharap otoritas terkait segera mengungkap kasus ini seterang terangnya agar tidak semakin menambah eskalasi beragam sentimen dalam negeri, dan berharap tak ada lagi kasus serupa pada masa mendatang karena hanya akan menghabiskan energi bangsa.

Suhardi pun berharap peristiwa ini tidak dikait-kaitkan dengan keyakinan agama tertentu sebab terorisme tidak mengenal agama. Menurutnya, pelaku bomber telah salah kaprah memahami ajaran agama yang dianutnya.

Karenanya, pihaknya mendorong pemuda muslim untuk selalu meneladani figur Nabi Muhammad SAW yang mulia melalui pemahaman agama yang konfrehensif serta peneguhan prinsip Wasathiyah yang menjadi salah satu jatidiri yang harus dimiliki setiap kader Hidayatullah.

Dijelaskan Suhardi, dengan prinsip wasathiyah akan menghindarkan kita terjerembab ke dalam kubangan lumpur kesesatan dan kedzalima.

"Dengan pemahaman yang kukuh dan aktualisasi ajaran Islam melalui Sistematika Wahyu akan mengantar setiap muslim semakin moderat karena demikianlah karakter agama Islam sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad," kata Suhardi.

Pesan tersebut, lanjut Suhardi, sejalan dengan harapan para ulama dan cendekiawan dari berbagai dunia yang baru selesai membahas tentang Islam wasathiyah dalam kegiatan Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia di Hotel Novotel, Bogor.

"Karena itu kami menawarkan suatu metodologi pengembangan masyarakat Islam yang kami sebut dengan "sistematika wahyu". Diharapkan dengan pola ini masyarakat khususnya generasi muda akan semakin tercerahkan dan menjadi insan yang mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat manusia dalam bingkai dakwah kaffatan linnas rahmatan lil alaamiin," kata Suhardi.

Seperti diketahui, serangkaian aksi teror terjadi mulai dari Mako Brimob pada 8-10 Mei 2018 dan ledakan bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya pada hari Ahad (13/05) lalu ledakan bom di sebuah kontrakan di Sidoarjo serta bom bunuh diri keesokan harinya di Mapolrestabes Surabaya (14/5).

Tak pelak kejadian beruntun tersebut memunculkan kecemasan di tengah masyarakat. Namun hal itu tak berlangsung selama, masyarakat netizen lantas mengkampanyekan hastag #KamiTidakTakut dan lain sebagainya.*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel