News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Terorisme dan Ilusi Surga

Terorisme dan Ilusi Surga

Oleh Rizki Ulfahadi*

TUHAN menciptakan surga dan neraka sebagai tempat atau suatu keadaan bagi manusia nantinya. Surga identik dengan kebaikan dan neraka identik dengan keburukan.

Diciptakannya surga dan neraka membuat banyak orang yang percaya akan keberadaannya berusaha meraih surga yang kental dengan kebaikan, kesenangan, keamanan dan kesejahteraan tersebut.

Dengan pengantar seperti itu tentu surga menjadi dambaan bagi semua orang beriman, apalagi katanya di surga itu akan ada kebahagiaan yang kekal abadi.

Rasanya mustahil ada orang yang menolak surga, malah kebanyakan berebutan melakukan aksi agar mendapatkan ridho Tuhan dengan harapan mendapatkan tiket surga.

Diciptakannya surga juga sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat baik (‘amal shalih), karena dengan adanya surga orang-orang yang berbuat baik tidak menyesal atas apa yang mereka lakukan di dunia selama hidup. Mereka akan mendapatkan reward dari Tuhan yang kuasa.

Surga dan neraka bukan sebuah ancaman kepada manusia, tapi sebuah reward yang disiapkan Tuhan, sebuah pencapaian bagi manusia setelah kehidupan sesaatnya di dunia.

Usaha-usaha yang dilakukan manusia sangat bervariasi untuk mendapatkan kebaikan (pahala) dari Tuhan, usaha yang dilakukan manusia mesti sesuai dengan keinginan Tuhan jika ingin mendapatkan kebaikannya.

Semua titah Tuhan dituturkan oleh-Nya kepada orang yang ia pilih untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Di dalam Islam, titah-titah itu termuat di dalam Alqur’an, sebuah kitab yang diagungkan dan menjadi rujukan utama dalam segala persoalan.

Dengan demikian, maka mempelajari Alqur’an adalah sebuah kemutlakan agar bisa mendapatkan tiket sekaligus reward dari Tuhan.

Dari kajian-kajian terhadap Alqur’an, maka akan timbul banyak penafsiran. Selain memang karena tingkat pemahaman yang berbeda, juga karena metode tafsir yang digunakan berlainan.

Mempelajari Alqur’an maka akan sampai pada titik pengetahuan mengenai keharusan kita untuk membela dan memperjuangkan agama Allah di bumi. Membela dan memperjuangkan agama Allah adalah kata yang sangat umum.

Usaha yang sangat intens dilakukan untuk membela agama Allah. Dan sebuah keidentikan yang paling kental dengan membela atau memperjuangkan agama Allah adalah dengan berjihad. Tapi yang terjadi adalah kebanyakan orang gagal paham dalam menyelami esensi dari jihad.

Ayat-ayat jihad dan peperangan sering salah dimaknai, hanya pemahaman literalistik terhadap teks-teks. Yusuf Qardhawi pun juga mengatakan bahwa faktor utama munculnya tindakan kekerasan dalam beragama (termasuk terrorism) adalah kurangnya pemahaman yang benar dan mendalam atas esensi ajaran agama Islam itu sendiri.

Ayat-ayat tentang jihad sangat sering menjadi korban dari legitimasi tindakan oleh para teroris. Tidak ada keseganan sedikitpun mereka memakai ayat tersebut untuk pembenaran tindakan, bagi penulis ini lebih dari penistaan agama.

Pengeboman yang mereka lakukan, termasuk yang sedang terjadi dan menghantui Indonesia beberapa hari terakhir dan hari ini adalah sebuah jihad di jalan Tuhan bagi para teroris.

Terbayang kedamaian surga di benak nya ketika melakukan aksi terror itu, keindahan reward dari Tuhan memotivasi diri mereka untuk terus berjihad (menurut mereka). Bayang-bayang surga dengan tindakan terorisme adalah sebuah ilusi yang nyata. 

Muhammad Al-Hawari menjelaskan bahwa istilah terorisme sebenarnya baru populer pada tahun 1793 sebagai akibat revolusi Prancis, tepatnya ketika Robespierre mengumunkan era baru yang disebut Reign of Terror di Prancis (10 Maret 17932 – 27 Juli 1794).

Dari nama era inilah kemudian istilah terorisme dipakai dalam Bahasa Inggris (terrorism) dan Perancis (terrorisme). Mengotori sekaligus menistakan Alqur’an jika menganggap terorisme adalah jihad.

Yang kita sayangkan adalah digunakannya ayat Alqur’an untuk legitimasi tindakan mereka. Islam itu agama yang menebarkan rahmat bagi seluruh alam, mengakui kemajemukan keyakinan dan keberagaman.

Menurut Sayyed Hossein Nasr, dari 36 ayat Alqur’an yang mengandung (sekitar) 39 kata ja-ha-da dengan berbagai derivasinya, tidak lebih dari 10 ayat  yang terkait dengan perang.

Justru kata qital yang identic dengan perang di dalam Alqur’an.  Sejatinya jihad (berjuang) adalah mencurahkan jerih payah dalam melaksanakan perintah Allah.

Sejatinya jihad adalah perjuangan untuk mewujudkan kedamaian, ketentraman, keamaanan, kerukunan, keadilan dan kesejahteraan. Dengan demikian memaknai jihad dengan perlawanan senjata, bom, dan kekerasan fisik adalah sebuah kekeliruan besar. 

Sebenarnya, dalam konteks keindonesiaan dan kekinian, maka lahan jihad yang relevan adalah mengenai persoalan umat dan bangsa seperti korupsi, penjarahan kekayaan negara, kemiskinan, kebodohan dan ketidakdilan.

Para teroris dimanapun berada, ada banyak jihad yang bisa kita kooperasikan bersama selain pengeboman. Insyaallah surga tidak akan menjadi ilusi lagi jika kita sama-sama berjihad dalam hal-hal ini. Hal-hal yang bisa dikooperasikan untuk Indonesia madani bukan dengan membunuh saudara sendiri.  Wallahua’lam

______
*)RIZKI ULFAHADI,
penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Santri Pesmadai Ciputat

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.