News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

NH Aziz Pemenang Sesungguhnya

NH Aziz Pemenang Sesungguhnya

TIM NH Aziz sukar percaya ketika hasil perhitungan cepat (quick count) Pilgub Sulsel 2018 yang digelar 27 Juni lalu menempatkan pasangan NH Aziz berada di posisi yang terpaut cukup jauh dengan paket paslon lainnya.

Dua paslon, NH Aziz dan NA-ASS, sempat saling kejar ketat bahkan hingga data masuk mencapai lebih 50% sebagaimana grafik ditunjukkan QC lembaga survey di televisi.

Keruan saja pendukung NH Aziz kaget bahkan tak percaya dengan hasil tersebut. Nurdin Halid pun mengaku demikian. Pasalnya, beberapa waktu sebelum pencoblosan, nyaris semua lembaga survei nasional mengunggulkan NH Aziz.

Di atas kertas, NH Aziz memang dinilai sebagai pasangan Pilgub Sulsel 2018 yang paling menonjol. Tak heran paslon ini acapkali menempati posisi tertinggi dalam setiap hasil survei.

Tidak saja tingkat keterkenalan yang sangat tinggi, program pasangan ini juga dinilai paling selaras dengan harapan masyarakat Sulawesi Selatan. Ketokohan keduanya juga menjadi pendulang popularitas.

Akibatnya kemudian, NH Aziz kerap kali menjadi korban black campaign. Berbagai cara dilakukan untuk menjatuhkan kredibilitasnya. Terakhir ketika beredar formulir C1 yang sudah terisi yang mencatut paslon NH Aziz dengan perolehan suara tertinggi daripada Paslon lain.

Kampanye hitam sehari sebelum masa pencoblosan ini tentu bukan tanpa maksud. Elektabilitas NH Aziz tak terbendung, sehingga wajar jika beragam cara dilakukan untuk menjatuhkan pamornya.

Memang nampak seperti kehabisan cara. Namun berbagai alibi itu tak pernah berhasil. Isu tentang masa lalu Nurdin Halid yang dikaitkan dengan praktik korupsi pun tak manjur. Selain karena memang kasus tersebut telah selesai secara hukum, masyarakat Sulsel sudah cerdas sehingga tak mudah terpengaruh dengan berita hoax.

Malah justru simpati rakyat Sulsel terhadap paslon NH Aziz semakin tinggi. Gerakan "Samasamaki' Bangun Kampung untuk Sulsel Baru" disambut antusias di berbagai tempat.

Kampanye dialogis NH Aziz diterima tidak saja di level menengah dan atas melainkan juga disambut meriah hingga ke lorong lorong kampung, terutama yang dilakukan secara maasif oleh Tim Perempuan Pejuang (TPP) dibawah komandan Sabriati Aziz.

Namun, tidak selamanya kerja kerja tulus lantas segera berbuah manis dan mulus. Justru pilihan yang satu ini terbilang berisiko, sebab tidak saja acapkali harus mengeluarkan biaya pribadi tetapi juga menuntut keluasan hati untuk selalu mengedepankan akhlak mencerahkan rakyat. Itulah mengapa tidak terdengar atau termuat di media pasangan NH Aziz bagi bagi duit atau sembako untuk menyogok calon pemilih.

NH Aziz dan timnya telah bekerja luar biasa. Siang malam mereka menyusuri kampung kampung untuk mensosialisasikan program pembangunan Sulsel Baru. Mereka datang mengetuk rumah warga dari pintu ke pintu. Tidak bawa sembako, tidak juga amplop berisi receh, mereka hanya membawa optimisme dan semangat kebersamaan untuk membangun kampung.

Kita pun melihat ketulusan Nurdin Halid yang bahkan rela meninggalkan panggung nasional demi untuk membangun kampungnya. Lebih dari itu komitmen moral yang ditahbiskan NH menunjukkan jika putra Bugis Makassar ini telah selesai dengan dirinya. Tapi tentu Nurdin Halid bukan malaikat. Dia manusia biasa yang banyak khilaf, dan itu diakuinya sebagai cemeti untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Nurdin Halid figur langka dan salah satu putra terbaik Sulsel yang membanggakan.

Patutlah kiranya kita berbangga kepada NH Aziz dan timnya yang telah meneladankan praktik praktik demokrasi yang elegan, bersih dan bermartabat, bahkan boleh jadi ini kali pertama di dunia. Semoga ini bisa menginspirasi bahwa berdemokrasi tidak saja tentang  dana logistik materiil melainkan soal hati nurani dan spirit kerelawanan serta keswadayaan kolektif untuk mencerahkan rakyat.

Sehingga tak berlebihanlah rasanya jika kita mendapuk NH Aziz sebagai "pemenang sesungguhnya". Dia dan timnya telah mewariskan keteladanan mulia tentang penyelenggaraan hak hak demokratis yang santun dan berwibawa.

Pun begitu dengan Aziz Qahhar. Politisi tak berduit namun tak pernah berhenti memikirkan kebaikan Indonesia dan Sulsel secara khusus. Seperti yang sering diucapkannya, ambisinya di bidang politik  adalah mengabdi kepada Ibu Pertiwi demi untuk kemaslahatan sesama. Sebagai dai, Aziz meyakini bahwa Islam sebagai ajaran yang melingkupi setiap aspek kehidupan. Islam yang adil dan menggembirakan untuk semua.

Demikian pula dengan putra putra terbaik Sulsel yang telah mengikuti kontestasi pesta demokrasi Pilgub/Pilkada Sulsel 2018. Mereka sejatinya adalah para Ayahanda yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan masyarakat Sulsel, yang mencintai dan mengayomi anak-anaknya. Terlepas kelebihan dan kekurangan masing masing.

Pilgub/Pilkada Sulsel 2018 telah usai. Mari kita terima hasilnya dengan lapang dada. Inilah demokrasi kita. Kita boleh saja memiliki beragam asumsi seperti juga tulisan ini, namun tetap kedepankan kepentingan yang lebih luas yaitu stabilitas di kawasan dan kebersamaan.

Bagi pemenang tetaplah membumi, yang kalah jangan berhenti berjuang untuk Sulsel Malebbi dan kebaikan negeri. Kita tetaplah bersaudara, seagama, se-Tanah Air Indonesia. Merdeka!

YACONG BEDDU HALIKE

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.