News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Islam Nusantara: Umat Kebingungan di Tengah Pusaran Tahun Politik

Islam Nusantara: Umat Kebingungan di Tengah Pusaran Tahun Politik

Oleh Rizki Ulfahadi*

SEKITAR tiga tahun yang lalu (2015), kita bergembira karena riuh dibicarakan soal sinergitas antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang kala itu akan sama-sama melaksanakan muktamar dalam waktu dekat. Sinergitas ini tentu kabar baik bagi kita semua. Sinergitas yang akan sama-sama memadukan jargon masing-masing yang ditawarkan. NU dengan “Islam Nusantara”-nya, dan Muhammadiyah dengan “Islam Berkemajuan”-nya.

Kedua tema tersebut menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan karena esensi dari keduanya akan sejalan menentukan arah gerak dan perjuangan serta merepresentasikan Islam dimasa yang akan datang di Indonesia juga sama berorientasi pada perkembangan bangsa.

Berbeda dengan Islam berkemajuan yang disuarakan oleh Muhammadiyah yang sejatinya merupakan suara lama yang kembali didengungkan, yang ketika masa KH Ahmad Dahlan bunyian Islam Berkemajuan itu sudah ada. Setelah itu seringkali menjadi kalimat yang dipakai oleh kalangan Muhammadiyah.

Sedangkan NU, istilah Islam Nusantara bisa dikatakan adalah istilah baru yang dimunculkan lalu menuai berbagai kontroversi. Tidak hanya di luar NU, di kalangan NU sendiri pun beberapa tokohnya belum bisa menerima istilah Islam Nusantara.

Memang istilah ini baru populer sejak disuarakan oleh NU, tapi ini bukan pertama kalinya istilah ini dipakai. Jauh sebelum itu, pada tahun 2002 cendikiawan muslim Indonesia yang berasal dari Pariaman Sumatera Barat, Prof. DR. Azyumardi Azra, MA, telah menggunakan istilah Islam Nusantara.

Pak Azra mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan Islam Nusantara adalah, “Islam yang distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fiqih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya akan warisan Islam (Islamic Legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global”.

Jika kita ke Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta maka tulisan definisi di atas terpampang dengan jelas dilapisi kaca di dinding gedung kampus yang Pak Azra sebagai guru besarnya tersebut.

Menurut Pak Azra juga, istilah ini mengacu pada Islam di gugusan kepulauan atau benua maritim (nusantara) yang mencakup tidak hanya kawasan yang sekarang menjadi negara Indonesia, tetapi juga wilayah Malaysia, Thailand Selatan (Patani), Singapura, Filipina Selatan (Moro), dan juga Champa (Kampuchea).

Dikarenakan NU adalah organisasi di Indonesia maka Islam Nusantara yang dimaksudkan oleh NU pun dispesifikasikan daerah Indonesia saja. Sebuah istilah untuk menggambarkan realita beragama yang eksis di tanah air ini, dengan ciri toleran, damai, santun, ramah, tidak saling menyesatkan, tidak mudah mengkafirkan, tidak sedikit-sedikit bid’ah.

Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj (SAS) menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukan mazhab baru, firqah atau aliran baru. Melainkan menjadi ciri khas Islam-nya orang-orang nusantara, yaitu melebur secara harmonis dengan budaya nusantara, syarak, kearifan yang tak melanggar syarak, berkarakter kebangsaan, digunakan untuk dakwah Islam di Nusantara serta Islam yang memanusiakan manusia plus cinta tanah air.

Menurut SAS, nasionalisme menjadi salah satu landasan hadirnya konsep Islam Nusantara ini, dimana hubbul wathan minal iman masih melekat dan menjadi inspirasi semangat pergerakan NU.

Ustad Abdul Somad yang banyak disoroti umat akhir-akhir ini pun sejalan dengan pemahaman itu. Beliau mengutip pendapat moderat dari KH Ali Mustafa Ya’quf, bahwa Islam Nusantara adalah Islam di Nusantara. Sebuah konsep atau istilah untuk menampilkan wajah Islam yang memiliki corak tersendiri dibanding dunia Islam lainnya.

Jika memang seperti itu yang dimaksudkan kenapa diributkan dan banyak yang menolak gagasan Islam Nusantara ini? Pengertian yang berkembang di masyarakat dan tertanam dalam pikiran umat banyak yang berkonotasi negatif terhadap Islam Nusantara.

Semakin dijelaskan menjadi semakin membingungkan karena apa yang awalnya mereka ketahui berlainan dengan yang baru dijelaskan. Terlebih jika usaha penjelasan itu berkonotasi memaksa.

Kemudian, citra buruk seorang tokoh yang memimpin sebuah golongan di mata sebagian masyarakat sangat memungkinkan membuat masyarakat begitu antipati terhadap hal-hal yang muncul dari kelompok itu dan masyarakat merasa asing terhadap hal yang dimunculkan. Sehingga dengan landasan ketidaktahuan yang mendalam, muncul “prasangka” yang tidak kita inginkan.

Dalam masyarakat awam hal seperti ini tentu intens terjadi, walaupun akhirnya sikap seperti ini akan membuat orang tertutup dari kemungkinan kebenaran yang bisa datang dari golongan mana saja. Padahal kita diajarkan untuk menerima kebenaran dari siapapun, jangan sampai kebencian kita terhadap seseorang membuat kita menutup diri dari kemungkinan kebenaran yang datang darinya.

Sebagai sebuah konsep atau istilah yang dipopulerkan oleh NU, maka seharusnya kita harus mendengarkan penjelasan maksudnya langsung dari pihak NU juga, tanpa melalui perantara yang bisa saja terjadi plesetan. Tidak bisa kubu sini yang membuat istilah malah kubu seberang yang menafsirkan dengan gamblang saja. Inilah yang melahirkan kekacauan pemahaman serta kekacauan berpikir di kalangan masyarakat.

Dengan melihat penjelasan Azyumardi Azra sebagai orang pertama memunculkan istilah dan Said Aqil Siradj selaku pimpinan NU yang mempopulerkannya kepada publik, maka konsep Islam Nusantara ini bertekad baik untuk keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan.

Islam Nusantara tidak lahir di ruang hampa, konsep ini lahir dengan tujuan mulia di tengah kondisi dunia Islam yang memprihatinkan. Kelompok radikal muncul dimana-mana, terorisme, intoleransi berkembang pesat, muncul juga kaum yang menganggap amalan serba bid’a, serta menjamurnya golongan yang mempertentangkan antara agama dan pancasila.

Oleh karena itulah muncul konsep ini dari salah satu organisasi yang memperjuangkan, mengawal dan mengisi kemerdekaan dengan paduan semangat keislaman dan kebangsaan dalam upaya mengembalikan wajah Islam sebenarnya yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lalu.

Gencarnya usaha yang dilakukan oleh para pendukung atau pencetus konsep ini, baik secara akademis, historis dengan penjelasan yang eksploratif dan argumentatif, tapi tetap saja istilah Islam Nusantara ini terlanjur menjadi sebuah polemik yang membingungkan masyarakat luas. Malah masyarakat merasa bahwa istilah itu terlalu dipaksakan untuk dipakai.

Menjadi lebih ramai dan menarik lagi ketika MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sumatera Barat pada 21 Juli 2018 di Padang, dengan tegas menyatakan menolak Islam Nusantara dalam maksud apapun. Salah seorang Dosen di UNUSIA, Zastrouw Al-Ngatawi, menanggapi perihal tersebut.

Menurut Zastrouw, sikap MUI Sumbar tidak mencerminkan sikap organisasi ulama yang seharusnya mengedepankan kearifan dan sikap tabayun dengan mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam menanggapi dan menyikapi suatu persoalan.

Dengan sikapnya yang demikian, alih-alih bisa membuat kesejukan dan membangkitkan spirit persaudaraan antarumat, menurut Zastrouw, yang terjadi justru bisa memancing perpecahan dan sentimen antarumat karena sikap MUI Sumbar tersebut mendiskreditkan suatu gagasan keislaman hasil ijtihad dari para ulama.

Apalagi hal itu menurut Zastrouw dilakukan tanpa tabayun dan dialog, hanya berdasar asumsi dan informasi sepihak yang diterima oleh MUI Sumbar. Zastrouw menegaskan, malah dalam hal ini MUI Sumbar seolah sebuah organisasi politik.

Sebuah kewajaran juga jika MUI Pusat langsung memberi tanggapan sekaligus teguran kepada MUI Sumbar, memang dari segi kelembagaan MUI tidak seharusnya begitu, MUI harus berada di tengah dan mengedepankan kerukunan umat daripada menyikapi yang membuat intern umat semakin meretak.

Dari segi waktu juga pernyataan tersebut belum tepat untuk dikeluarkan ketika kondisi politik di negara sedang memanas.

Sejak populer dari 2015 lalu, klimaks dari perbincangan tentang konsep Islam Nusantara yang dicetuskan oleh NU ini terjadi sekarang. Sudah bertahun-tahun konsep ini ada dan disuarakan dengan keras, menjadi buah bibir juga sejak itu, tapi kenapa chaos-nya baru sekarang?.

Indonesia sedang di kondisi suhu politik yang memanas, berbagai upaya politis sarat makna banyak dilakukan. Dengan peristiwa ini justru akan membuat dikotomi di tubuh umat Islam Indonesia sendiri semakin parah.

Kalangan ulama belakangan ini terus berusaha untuk menyatukan kekuatan umat untuk kemajuan di berbagai lini, baik ekonomi, pendidikan, juga sosial politik. Pilpres 2019 menjadi salah satu ajang kontestasi umat Islam, ini juga menjadi target atau usaha yang terus digemborkan oleh Ulama-ulama kita dalam membangkitkan kesadaraan politik umat, menyatukan kekuatan suara.

Menyatukan kekuatan umat dan memberi pemahaman politik yang benar jauh lebih penting untuk saat ini, jangan sampai dalam Pilpres nanti sejarah kelam umat kembali terulang.

Seperti kata Kuntowijoyo, dimana pemilih Muslim bukanlah massa yang kritis,  mungkin terjadi karena banyak umat yang masih “buta politik”. Jangan sampai pula umat tidak lebih dari sekedar angka, kuantitas tanpa kualitas.

Di tengah upaya yang terus dilakukan, isu-isu yang menginginkan perpecahan umat Islam selalu saja muncul mengiringi. Dari masalah kekeliruan pemaknaan suatu istilah diperumit menjadi isu besar dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dipakai untuk hal yang lebih produktif dan membangun.

Bukannya melahirkan pemahaman serta pencerahan, umat malah menjadi semakin bingung. Mana yang harus dijadikan prioritas, mana yang substantif, mana yang benar menjadi semakin kabur dan jauh.

Kita ikut berbahagia ketika belakangan ini juga sudah ramai usaha yang dilakukan ulama dan pemerintah dalam menggalakkan isu-isu objektif kooperatif antar agama yang ada di Indonesia menuju isu-isu nasional yang puncak harapannya adalah persatuan dan kesejahteraan. Sekarang kembali menyurut, akan semakin sulit menyatukan agama-agama di Indonesia kalau intern agama saja tidak rukun.

Tahun 1980-an, era reformasi, akhir-akhir abad ke-20 kajian-kajian yang lebih serius di dunia Islam kembali dihidupkan. Tema yang lebih substantif dari berbagai bidang keagamaan terus dibumikan, tapi sekarang 20 tahun sudah reformasi, umat sepertinya kembali terjebak pada hal yang simbolis, mengenyampingkan yang substantif. Kembali terlena dalam perdebatan remeh temeh, mempersoalkan hal-hal furu’ yang sudah tiap tahunnya dibahas berulang-ulang.

Akibatnya, kajian dan kualitas pemahaman umat stagnan bahkan mungkin merosot. Umat tidak harus kembali ke masa 20 tahun yang lalu, tapi sekarang kita harus terbuka, lapang dada mengevaluasi diri dan fokus pada optimisme kegemilangan Islam bersama harmoninya dunia. Banyak hal-hal yang substabtif dari universalitas nilai-nilai Islam yang harus kita kaji, pikirkan dan kerjakan bersama.

Hemat penulis, konsep mulia Islam Nusantara yang sudah terlanjur menjadi perbincangan nasional ini (walaupun sebagian dalam stigma negatif) harus benar-benar dinasionalkan menjadi sebuah gerakan positif. Walaupun sudah didukung pemerintah, NU tetap tidak bisa sendiri, harus melibatkan ormas lainnya dengan tidak mengedepankan tujuan subjektif NU sebagai sebuah organisasi.

Sosialisasi esensi sebenarnya dari konsep Islam Nusantara harus dilakukan oleh seluruh elemen umat Islam di Indonesia, lembaga-lembaga keislaman harus turut serta bersinergi.

Masyarakat yang tadinya sudah terlanjur bersuudzon perlu diberikan pemahaman yang benar lalu berbalik dari menolaknya menjadi bagian dari realisasi tujuan konsep Islam Nusantara. Sehingga di proses pendakian ini kita optimis akan sampai pada puncak yang menyuguhkan  kerukunan, persatuan dan kesejahteraan baik di dalam umat Islam sendiri maupun umat agama-agama lain di Indonesia.

_____
*) RIZKI ULFAHADI, penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.