News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Menengok Filologi, Kajian Ilmu yang Kian Eksis

Menengok Filologi, Kajian Ilmu yang Kian Eksis

Oleh Vini Hidayani

BELUM lama ini Perpustakaan Nasional baru saja menyelenggarakan Festival Naskah Nusantara jilid IV yang berlangsung dari tanggal 17-23 September. Kegiatan yang bertajuk Relevansi, konstektualisasi, dan aktualisasi nilai-nilai kearifan dalam naskah nusantara menuju Indonesia maju dipadati oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Festival ini berlangsung tidak sekaku kedengarannya, pasalnya bukan hanya naskah-naskah lama yang dipamerkan seperti Lontar, Dluwang, Pustaha, Bambu dan Aksara, disana juga terdapat kompetisi swafoto yang diminati setiap pengunjung yang datang.

Berbicara naskah lama tak lengkap rasanya jika tidak menyinggung ilmunya, Filologi. Nama Filologi sendiri masih terdengar sedikit asing di sebagian telinga masyarakat. Walaupun minat meneliti dan mempelajari filologi makin naik grafiknya dari tahun ke tahun, namun tidak dipungkiri ilmu tersebut masih jauh tertinggal populernya dibanding ilmu-ilmu umum lain seperti bisnis, pendidikan, sains dan kesehatan. Lalu apa sebenarnya Filologi dan esensi dalam mempelajarinya?

Jika kita buka KBBI makna Filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa yang tertulis. Prof. Oman Fathurrahman dalam bukunya menjelaskan bahwa Filologi merupakan alat untuk mencapai sebuah tujuan.

Ibarat pisau yang digunakan untuk memotong, siapa saja boleh menggunakan pisau tersebut guna mencapai tujuannya. Namun lain cerita jika pisau Filologi dipakai oleh seorang Filolog, mereka akan memberikan sebuah teks siap baca kepada masyarakat setelah sebelumnya berkutat dalam penelitian dan kontekstualisasi naskah.

Diantara keahlian yang dimiliki peneliti adalah kemampuan membaca naskah kuno. Tidak sedikit filolog mampu membaca tulisan Arab, Ha na ca ra ka (tulisan Jawa-Bali), ka ga nga (tulisan Bugis-Makassar), Pegon, Arab Jawo (bahasa Aceh) dan lain sebagainya.

Tidak banyak anak muda atau mahasiswa yang menyukai bidang kajian ini, nama filologi sendiri masih kerap terdengar membosankan dan kering. Salah satu cara menarik massa yang efektif sejak dulu adalah membuka diskusi ringan, seperti yang dilakukan oleh Lingkar Filologi Ciputat pada 24/9/2018.

Ngopi- Ngobrol Filologi yang diadakan di Kafe Sans Ciputat turut mengundang dua tokoh besar filologi, yakni Prof. Oman Fathurrahman, Guru besar Filologi Islam sekaligus staf ahli Menteri Agama RI dan Dr. Munawar Holil, M.Hum ketua Manassa (Masyarakat Naskah Nusantara) periode 2016-2020.

Kedua narasumber banyak bercerita tentang perjalanan mereka hingga memilih filologi. Indonesia adalah negeri yang kaya manuskrip. Sejarah, petuah, hukum, budaya, politik, sosial, sastra, semua terekam dalam naskah-naskah kuno yang tersebar di seantero nusantara. Sebagian naskah berhasil dikumpulkan dan diselamatkan oleh para filolog dengan cara men-digitalisasikannya.

Namun masih sangat banyak naskah yang belum terjamah tangan peneliti, sebagian besar masih berada di kepemilikan perorangan yang agak sulit untuk didapatkan. Ketertarikan dalam membaca naskah lama-lah yang akhirnya menarik minat kedua tokoh ini untuk terjun dalam disiplin ilmu filologi.

Ibu Titiek Pudjiastuti dalam pidatonya ketika dikukuhkan menjadi Guru Besar Filologi di Universitas Indonesia juga menyatakan hal yang sama. Dibutuhkan kesabaran, keuletan dan pendekatan khusus, agar pemilik naskah yakin bahwa “harta pusaka” milik mereka tetap aman ketika dibawa untuk diteliti.

Maklum saja, sebagian masyarakat menganggap manuskrip merupakan benda keramat peninggalan nenek moyang, walaupun banyak juga diantara mereka tidak mengerti sama sekali esensi yang tertuang di dalamnya, dan itu merupakan tantangan tersendiri bagi filolog.

Tantangan Filolog lain adalah dalam mensosialisasikan kepada masyarakat pentingnya menjaga naskah kuno dan tidak diperjualbelikan kepada pihak asing. Manuskrip itu ibarat harta karun kata Prof. Oman, di dalamnya tersimpan warisan budaya yang sangat kaya.

Jejak sejarah kehidupan manusia juga sebagian diketahui melalui naskah-naskah tersebut. Jika masyarakat sudah paham akan pentingnya menjaga manuskrip, mudah saja bagi Filolog dalam merawat dan mengumpulkan naskah tingkat kedua, yakni digitalisasi.

Mengingat langkanya orang-orang yang menyukai bidang kajian ini, penggiat Filologi terutama anak muda kiranya dapat memasyhurkan bidang ilmu ini dengan kreatif sesuai perkembangan masa.

Qoutes of the day, meme, vidio pendek, poster, dan media sosial adalah wadah tercepat dalam menyebarkan virus filologi kepada khalayak. Pun jika tidak berminat mendalami kajiannya, minimal masyarakat tahu apa itu filologi dan manfaatnya.

Salah satu hal yang diulang-ulang kedua narasumber dalam diskusi tempo hari adalah pentingnya menggunakan data primer dalam kehidupan. Tidak perlu menjadi filolog untuk mencari akar data, kegiatan sehari-hari pun sejatinya memerlukan data. Apalagi di era penuh hoax dimana masyarakat samar akan yang mana fakta dan data. Untuk itu dengan mengetahui sumber primer dan konteks masalah, kita menjadi lebih selektif dan terhindar dari subjektivitas.

Festival Naskah Nusantara di Perpusnas dan diskusi ringan di ciputat bukanlah satu-satunya, banyak kegiatan serupa telah digencarkan di berbagai daerah. Harapannya sama, yakni agar edukasi tentang filologi sampai ke telinga masyarakat, sehingga yang melek kajian ini bukan hanya kaum akademisi, namun juga masyarakat secara umum.

__________
*) VINI HIDAYANI, penulis adalah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.