Rupiah Melemah, Cawapres Menambah Suara

Oleh Vini Hidayani*

BEBERAPA waktu lalu pernyataan Sandiaga Uno, bakal calon wakil Presiden Indonesia pada 2019 mendatang sempat menjadi berita hangat media Indonesia. Sandi mengomentari secara hiperbolis melemahnya rupiah berpengaruh pada ukuran tempe menjadi setipis kartu ATM. Uang 100 ribu bekal belanja para ibu, kata dia, juga hanya mampu membeli bawang dan cabai.

Sejauh ini penukaran kurs rupiah yang sudah menyentuh angka Rp. 14.772,- (13/9) belum dirasakan efeknya secara nyata oleh sebagian masyarakat. Harga barang pokok di pasar masih terbilang stabil, tidak ada perubahan signifikan pada harga beras, telur, bawang, cabai, tahu, tempe dan lainnya.

Dilansir dari laman Tirto.id harga tahu dan tempe malah cenderung tetap tak berubah. Padahal Amerika Serikat merupakan pemasok terbesar kedelai ke Indonesia.

Alih-alih membicarakan saham atau krisis moneter terkait menurunnya rupiah, Sandi malah mengomentari harga dan ukuran tempe di pasaran. Sandi juga sempat menyebut-nyebut angka seratus ribu rupiah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan belanja ibu-ibu.

Sebagai pengusaha dan bakal paslon di pilpres 2019, dia menggunakan pendekatan lain dalam berkampanye. Objeknya adalah “emak-emak” dengan status sosial menengah ke bawah.

Penulis rasa pendekatan ini cukup menarik. Kampanye Presiden Joko Widodo pada 2014 lalu juga meletakkan kaum menengah ke bawah sebagai objek kampanyenya, beliau melakukan blusukan ke daerah-daerah padat penduduk dan jarang terjamah tangan pemerintah. Hal tersebut menoreh kesan baik dalam masyarakat hingga membawa namanya ke bangku Presiden ke-7 Republik Indonesia.

Hal-hal yang anti mainstream memang prominen. Media sosial yang mudah diakses bisa menjadi kampanye murah bagi para paslon untuk memenangkan hati masyarakat Indonesia. Polemik “emak-emak” memang tengah naik daun akhir-akhir ini.

Mereka tidak lagi dikategorikan sebagai Ibu rumah tangga bersifat perseorangan yang masa bodo pada urusan politik. Kini mereka tergabung seperti sebuah komunitas dalam menanggapi isu-isu lokal maupun nasional.

Bisa dikatakan jumlah perempuan yang melek politik tiap tahun makin naik. Menurut data yang diunggah KPU DKI pada pilgub 2017 lalu tercatat ada 7.108.589 pemilih, dan 3.546.899 merupakan pemilih wanita. Hampir sejajar jumlahnya dengan pemilih laki-laki.

Itu baru dari Jakarta, belum Indonesia secara keseluruhan. Angka partisipasi dan keikutsertaaan wanita mulai merangkak sejajar dengan laki-laki. Maka bisa dikatakan objek emak-emak memang sangat potensial dalam mengisi suara pada pilpres 2019 mendatang.

Komentar Sandi terkait tempe pada beberapa waktu lalu ternyata memiliki akar yang jelas. Pada 10/8 seusai mendaftarkan diri untuk maju ke kursi wakil presiden, Sandi memberikan pidato singkat di hadapan pengunjung dan wartawan, dalam pidatonya Sandi menyebut bahwa diantara banyak partai belum pernah ada partai emak-emak. 

“Partai emak-emak juga terpresentasi di sini dan kami akan berjuang untuk partai emak-emak. Kami ingin harga-harga  terjangkau, harga pangan stabil, dan kami ingin percepatan pembangunan dengan yang bersih”, tutur Sandi.

Tentu partai emak-emak bukanlah makna sebenarnya dari partai politik. Namun itu bisa mengindikasikan bahwa paslon Prabowo-Sandi sedang memihak kepada para ibu. Hal ini lebih terlihat jelas setelah pernyataan Sandi mengenai tempe. Logikanya adalah yang peduli pada harga tahu tempe sejatinya memang emak-emak, maka melemahnya rupiah menjadi momen yang tepat bagi Sandi dalam mengomentari bahan pangan seperti tempe.

Belakangan banyak pro kontra muncul setelah komentar Sandi mengenai tempe dan uang seratus ribu merebak. Hastag #seratusribudapatapa juga menghiasi lini masa twitter. Kaum Ibu seperti serempak membuat challange dengan memfoto bahan belanjaannya dengan nominal Rp.100.000,-.

Kebanyakan orang ingin membuktikan bahwa pendapat Sandi keliru, sebaliknya banyak juga yang mengikuti challange ini sebagai ajang keren-kerenan semata. Yang perlu digarisbawahi adalah apapun tanggapan publik terhadap pernyataan Sandi, berita ini mampu mengangkat popularitas pasangan Prabowo-Sandi lebih dikenal masyarakat.

Mari menjadi masyarakat yang cerdas dalam memilih, serta lebih kritis dan peka terhadap isu sosial politik di Indonesia. Semoga kampanye-kampanye yang disuarakan oleh masing-masing calon berbuah manis dalam pilpres 2019 nanti. Kita tunggu saja berita apa lagi yang akan menghiasi tangga berita selanjutnya.

________
*)VINI HIDAYANI, penulis adalah mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel