Alumni Gontor Menjadi Salah Satu Korban Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610

PONOROGO - Seorang pria bernama H. Murdiman Al Habsy yang juga alumni Pondok Pesantren Modern Gontor lulusan tahun 1995 menjadi salah satu korban lenyapnya pesawat Lion Air JT 610 jenis Boeing 737 MAX 8 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10). Di atas adalah foto Murdiman (dilingkari) semasa hidup bersama alumni Gontor lainnya ketika buka puasa bersama alumni di Bulan Ramadhan 1439 lalu.

Murdiman merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berasal dari Desa Permis, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Basel. Ia juga merupakan salah satu Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bangka Selatan. Peristiwa ini jelas meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan kerabat dekatnya.

Mendengar nama Murdiman menjadi salah satu daftar korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, sontak membuat lingkaran keluarga, relasi, dan sahabat-sahabatnya seperti tidak percaya. Orang terdekat yang mengenal sosok ramahnya sangatlah merasa kehilangan.

Salah satu sahabatnya yang merasakan duka mendalam tersebut adalah koleganya sesama alumni Gontor, Imam Ratrioso. Imam mengungkapkan rasa kehilangan sahabat karibnya ini.

"Insya Allah, bulan Desember, antum ana undang ke Bangka ya, ngasih motivasi untuk anak-anak yatim yang ana bina sekalian untuk para santri juga. Itu pas musim durian, biar antum sekalian tahu kuliner Bangka," begitu kira-kira sekilas pembicaraan panjang Imam Ratrioso dengan Murdiman Al Habsy, anggota DPRD Babel yang hari ini ikut menjadi syuhada penumpang dari Lion Air JT 610 itu.

Murdiman Al Habsy bersama Imam Ratrioso (kiri) sebelum keberangkatan ke Palu

"Foto ini diambil 3 hari sebelum saya berangkat ke Palu pada tanggal 8 Oktober yang lalu, Murdiman adalah sahabat saya sejak masih nyantri dulu di Gontor," ungkap Imam dalam caption foto yang disebarkan di akun Facebook miliknya.

Dengan peristiwa yang tak terduga ini, Imam merasa sangat kehilangan dan menyesakkan dada karena nyaris seperti mimpi.

"Maka berita kepergiannya hari ini terasa menyesakkan dada. Air mata saya menetes dengan cepat. Terbayang wajah ikhlasnya, terulang kisah-kisah nyantri kami di pertengahan 90an, tentang nilai-nilai idealisme dirinya, tentang ekspedisi kami yang saat itu masih berusia belasan tahun, sebagai jurnalis pondok mengunjungi Jawa Pos, Kompas, Sampurna, menemui Cak Nun dan beberapa tokoh nasional," kisah Imam mengenang Murdiman.

Setelah berhasil menjadi pengusaha sukses dalam pengelolaan timah, Murdiman lalu beriktiar memilih politik sebagai ranah perjuangannya. Melalui fraksi PKS, ia terpilih sebagai anggota DPRD Bangka Belitung.

"Politik sekarang banyak diisi oleh orang-orang yang belum amanah, Mam. Kita harus berani mewarnainya, meskipun setelah berhasil masuk kedalamnya, saya benar-benar kewalahan, Mam," begitu kata Murdiman di malam Imam terakhir ketemu dengannya.


"Malam itu, saya dengan beliau, ditemani Ustadz Mochamad Sani Safri berbicara banyak hal. Tentang konstelasi politik nasional, tentang fenomena popularitas Sabyan Gambus, tentang anak-anak yatim yang dibinanya sampai pada kegigihannya untuk tidak terkotori oleh perilaku-perilaku politik negatif dan tetap konsisten memperjuangkan rakyat Bangka," lanjut Imam Ratrioso dalam sebuah obituarinya mengenag Murdiman.

Murdiman Al Habsy adalah salahsatu alumni Pondok Modern Gontor lulus tahu 1995. Segenap Alumni Gontor turut berduka cita atas jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 yang merenggut 189 Korban Jiwa. (asg/nnw)

Penulis: Alvhi Syahrin Gunandar (Mahasiswa UNIDA Gontor asal Bangka Belitung)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel