Penyebab dan Dampak dari Pergaulan Bebas Serta Cara Menanggulangi

Oleh Ahmad Farhan*

ADA banyak sebab remaja terjerembab dalam gaya hidup pergaulan bebas. Penyebab tiap remaja mungkin berbeda tetapi semuanya berakar dari penyebab utama yaitu kurangnya pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan/agama dan ketidakstabilan emosi remaja.

Hal tersebut lantas menyebabkan prilaku yang tidak terkendali seperti pergaulan bebas dan penggunaan narkoba yang berujung kepada penyakit, seperti: HIV dan AIDS ataupun risiko kematian.

Dan adapun faktor penyebab pergaulan bebas antara lain kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial dan kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah dan lainnya).

Faktor lainnya  asadal rendahnya kualitas hubungan antara orang tua dan anak, kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak, kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga, perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan lain, faktor lingkungan atau teman sebaya yang kurang baik pergaulannya.

Selain itu, kondisi itu juga bisa disebabkan karena rendahnya taraf pendidikan keluarga, seperti keluarga yang mengizinkan sang anak berpacaran tanpa ada pengawasan yang menyebabkan anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

Faktor yang membuat miris, orangtua yang kurang memperhatikan pergaulan anak, serta orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga anak tidak bisa diperhatikan dengan maksimal dan kurangnya berhati-hati dalam memilih teman.

Faktor determinan lainnya adalah karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang sehingga anak tidak bisa sekolah dan membuat perilaku sang anak  menjadi tambah parah.

Maka tak ayal kemudian, kondisi yang memicu tumbuhnya permisifisme dan egosentrisme tersebut melahirkan dampak negatif dengan segala turunannya. Pergaulan bebas identik sekali  dengan yang namanya dugem “dugem” (dunia gemerlap).

Jika sudah mulai dugem, ini alamat yang jelas kian mengkhawatirkan. Sebab, sudah menjadi rahasia umum bahwa di dalamnya marak sekali pemakaian narkoba. Ini identik sekali dengan adanya seks bebas yang akhirnya berujung kepada HIV/AIDS ,dan pastinya setelah terkena virus ini kehidupan remaja akan menjadi sangat menyimpang dari segala segi.

Selain dari seks bebas maraknya pergaulan bebas juga menimbulkan para remaja yang suka minum-minuman dan mabuk-mabukkan. Ada juga yang minum obat-obat terlarang. Padahal mereka tidak tahu ujung-ujungnya dari perbuatan mereka akan menimbulkan kematian.

Dan adapun dampak dari pergaulan bebas antara lain kehamilan yang tak diinginkan atau hamil di luar nikah karna (seks) bebas. Dan biasanya remaja yang mengalami ini akan mencari cara untuk menggugurkan (aborsi) kandungannya yang lebih banyak dilakukan oleh bukan tenaga kesehatan. Akibatnya yang terjadi masalah kesehatan seperti sukar memiliki anak ketika menikah nanti ataupun kematian.

Dampak turunan dari perilaku tersebut dapat menjadi musabab putus sekolah karena mereka lebih mengutamakan ego ketimbang akal sehat dan realita yang ada. Akibatnya meningkatnya kemiskinan karna kurangnya pendidikan dan semakin bodohnya mayarakat menjadi hal yang sering terjadi.

Kriminalitas yang tinggi tentu saja dampak negatif pergaulan bebas ini memicu angka kriminalitas. Pendidikan yang rendah, kemiskinan, dan kebutuhan akan hal-hal kesenangan seperti penggunaan narkoba,obat-obatan dan zat adiktif yang memicu seseorang untuk melakukan kriminalitas seperti mencuri , merampok, memperkosa atau membunuh seseorang.

Tidak bisa tidak, amat perlu dilakukan upaya preventif yang persuasif, sistematis dan massif sebelum hal hal profan di atas benar benar menjadi gejala endemik yang menghantui bangsa kita. Lebih baik mencegah daripada menanggulangi. Sebagaimana kata pepatah, lebih baik mencegah penyakit daripada mengobati.

Lantas bagaimana cara menanggulangi pergaulan bebas? Tentu banyak faktor, tetapi menurut saya yang paling substantif dan konklusif adalah mengokohkan ketahanan keluarga sebagai basis lahirnya karakter luhur. Itulah yang disebut dengan adab. Ia lahir, terbentuk dan tersublimasi dari rumah melalui madrasah kepengasuhan yang dijalankan orangtua.

Karena itu, menurut hemat penulis, seharusnya orangtua lebih memperhatikan pergaulan anaknya dengan siapa dia bergaul. Ini salah satu cara untuk menanggulangi pergaulan bebas. Tetapi jika mereka sudah terjerumus masih ada cara dengan psikoterapi. Tapi lebih baik mencegah daripada mengobati.

Maka dari itu seharusnya orangtua serta masyarakat sekarang lebih waspada dalam bergaul dan menjaga nafsu birahi ketika berpacaran jangan tanpa batasan. Apalagi memang dalam agama Islam, misalnya, tak dikenal adanya pacaran. Yang ada adalah dekati orangtuanya, ta'aruf, dan pacaran setelah menikah. Kita semua juga harus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setiap orang mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering didengungkan tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan.

Selain di atas masih banyak cara menanggulangi pergaulan bebas lainnya,antara lain, menjaga keseimbangan pola hidup, yaitu perlunya remaja belajar disiplin dengan mengelola waktu, emosi, energi serta pikiran dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam kegiatan sehari-hari serta mengisi waktu luang dengan kegiatan positif.

Sebagai anak muda, kita juga harus jujur pada diri sendiri, yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu ingin yang terbaik untuk diri masing-masing, sehingga pergaulan bebas tersebut dapat di hindari. Jadi dengan ini remaja tidak menganiaya emosi dan  diri mereka sendiri.

Perlunya remaja berpikir untuk masa depannya. Seandainya tiap remaja mampu menanamkan pertanyaan “apa yang akan terjadi pada diri saya nanti jika saya lalai dalam menyusun langkah untuk menjadi individu yang lebih baik?”.

Kemudian hal itu diiringi dengan tindakan-tindakan positif untuk kemajuan diri pada remaja. Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang untuk melakukan hal-hal menyimpang dan akan berkurang nya jumlah remaja yang terkena HIV/AIDS nantinya.

__________
AHMAD FARHAN, penulis adalah mahasiswa STEI SEBI MBS A 2018 dan alumni SMP IT Al-Ihsan Boarding School dan SMA Ponpes Tahfizh Al-Quds Boarding School. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel